Pertunjukan Islami, Dilema Penerapan Syariat Islam

Aksi panggung anggota grup band papan atas negeri ini, Nidji, Peterpan, dan Marvel, nyaris tak jadi digelar di Lhokseumawe. Pasalnya, ribuan santri mendatangi tempat pagelaran tersebut, menentang dan meminta pertunjukan seperti iti dihentikan, karena dianggap melanggaran Syariat Islam.

Seribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Aceh Utara, Bireuen dan Kabupaten di Aceh lainnya memblokade pintu masuk stadion tunas Bangsa reklamasi, Pusong, Lhokseumawe. Selain pertunjukan yang nyaris batal, maka kericuhan juga nyaris pecah. Untung saja, aparat keamanan dibantu tokoh setempat, Tgk. Muhibuddin Waly dapat meredakan ketegangan tersebut. Show ketiga penyanyi berjalan lancar tanpa insiden yang berarti.

Sebelumnya, pertentangan serupa–-soal pertunjukan—sudah berkali-kali muncul dan selalu bisa ditangani aparat dengan baik, kendati juga ada yang berakhir dengan kekisruhan.

Continue reading

Advertisements

Bom Waktu BRR

Ada dua berita penting terkait Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, hari ini. Pertama, soal penyerahan aset BRR senilai Rp8 miliar kepada Pemerintah Aceh. Kedua, soal ambruknya sejumlah rumah bantuan BRR yang katanya tahan gempa di Simeuleu pada saat gempa belum lama ini.
Dua peristiwa yang sepintas berbeda akan tetapi menyangkut satu lembaga: BRR. Dua berita ini tentu saja punya korelasi. Mengapa?
Penyerahan aset BRR adalah acara seremonial yang layak dipublish untuk memberikan informasi pada khalayak bahwa lembaga super body ini mulai mewariskan aset-aset-nya kepada pemerintah daerah.
Kedua, tentang ambruknya rumah bantuan BRR, mengungkap bahwa aset-aset BRR ini perlu dipertanyakan kualitasnya. Rumah yang sudah ambruk jelas busuk, menyalahi blue print yang dibuat sendiri, dan yang belum ambruk bisa menjadi bom waktu bila ternyata juga busuk. Continue reading

Happy Ending Drama Penculikan

Seorang toke sawit diculik dan penculiknya meminta tebusan Rp5 miliar. Terjadi tawar menawar antara penculik dan keluarga korban sampai kemudian disepakati uang sebusan senilai Rp200 juta. Ini adalah kejadian sesungguhnya di sini, Aceh. Heriyanto, 30, warga Desa Alue Awe, Kecamatan Geurudong Pase, Kabupaten Aceh Utara itu diculik sejumlah orang bersenjata sejak Jumat, pekan lalu.
Drama ini berakhir happy ending. Penculik happy karena dapat uang tebusan, Heriyanto juga happy karena bisa keluar dari sarang penyamun. Memang, tidak seperti cerita dalam film-film laga versi Hollywood yang selalu mengalahkan para pencoleng itu. Cerita ini dimenangkan sang penculik.
Inilah episode lanjutan masa konflik dulu. Dan kasus ini bukanlah satu-satunya. Deretan kasus serupa sering terjadi. Aksi culik menculik ini dalam sepekan saja sudah ada dua kasus. Selain Heriyanto, penculikan juga terjadi pada diri Jamaluddin Daud,38, Mukim GAM Sawang, warga Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rabu (13/2) lalu. Beruntung Jamaluddin, yang hanya luka karena pemukulan saat disekap sang penculik. Ia berhasil lolos dari sekapan setelah memanfaatkan kelengahan sang penculik.
Kasus pertama murni perampokan dan soal uang. Sedangkan kasus kedua diduga bermotif balas dendam. Kasus kedua ini terjadi menyusul terbunuhnya Badruddin selepas keluar penjara bulan lalu. Badruddin ‘dihabisi’ dengan timah panas oleh orang tak dikenal. Kelompok Badruddin inilah yang dicurigai menculik Jamaluddin karena ia disangka sebagai orang yang dianggap tahu tentang siapa pembunuh Badruddin.
Ini cerita nyata Bung. Bukan film fiksi yang sering kita tonton di layar kaca bikinan Hollywood atau Bolywood. Kisah nyata ini belakangan sering terjadi di Aceh, terutama di wilayah Pase yakni Lhokseumawe dan Bireuen yang sejak masa konflik dianggap daerah paling ganas dan panas. Dua kasus tadi hanyalah contoh saja dari deretan kasus culik menculik di tanah rencong ini. Continue reading

Propaganda Memecah Provinsi Aceh

EDITORIAL HARIAN ACEH
20 FEBRUARI 2008

Miftah H, Yusufpati

Propaganda memecah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) menjadi tiga provinsi belakangan kian gencar. Ada yang berpendapat bahwa tuntutan ini sengaja dimunculkan para petualang politik. Akan tetapi ada yang bilang sebagai hal yang wajar sehingga tidak perlu disikapi dengan emosional.
Terlepas dari pada itu, sudah menjadi semacam trend, sejak pemerintah membuka ruang memekarkan wilayah (tahun 2000), kebijakan ini menjadi alat berselancar bagi para petualang politik. Pemekaran daerah sering dilakukan dengan rekayasa para elite politik dan seringkali sarat dengan tarik menarik kepentingan pribadi dan golongan.
Sejak 2000-2007 telah terjadi pertambahan 173 daerah otonom baru terdiri tujuh provinsi, 135 kabupaten dan 31 kotamadya. Indonesia sekarang memiliki 473 daerah otonom. Tak berhenti di sini. Kini sudah menunggu 48 RUU baru pemekaran termasuk 12 RUU yang sudah diserahkan pemerintah kepada DPR.
Dasar pemekaran daerah adalah Peraturan Pemerintah (PP) 129 Tahun 2000 yang kemudian direvisi dengan PP No. 78 tahun 2007. Gelombang pemekaran daerah memanfaatkan prosedur aturan itu. Pemekaran tidak menjamah kepentingan masyarakat karenadisertai kepentingan subyektif para elite daerah maupun di pusat.
Berbagai studi yang dilakukan sejumlah kalangan, termasuk Depdagri, membuktikan pemekaran daerah sarat dengan berbagai persoalan sehingga sebagian besar dari daerah pemekaran dianggap gagal. Sumber utama kegagalan pemekaran adalah menjadikan pemekaran daerah sebagai ladang bisnis para elite politik dan birokrasi. Continue reading

Nasir Jamil: Irwandi Harus Berani..!

Selasa, 19 Pebruari 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Muhammad Nasir Jamil, menyatakan Irwandi harus berani menyampaikan secara terbuka sikap pemerintah pusat terhadap aspirasi pemekaran wilayah Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh Barat Selatan (Abas) sebagai provinsi baru.

“Saya haqqul yakin SBY pasti sudah menyampaikannya kepada Gubernur Irwandi (tentang sikap pemerintah pusat itu—red),” kata Anggota Komisi II DPR (Bidang Pemerintahan Dalam Negeri, Otonomi Daerah, Aparatur Negara dan Agraria) dari daerah pemilihan Nanggroe Aceh Darussalam I ini.

Itu sebabnya kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini berharap Kepala Pemerintahan Aceh, Irwandi Yusuf, berani menyampaikan apa yang sudah dikatakan SBY dalam menyikapi usulan pemekaran ALA dan Abas.

Selain itu, mantan Wakil Ketua Pansus RUU Pemerintahan Aceh ini juga mengingatkan Presiden SBY agar segera memberikan jawaban yang kongrit tentang pemekaran ALA dan Abas. “Jangan diambangkan karena justru akan membuat ‘PR’ Pemerintah Aceh semakin banyak,” katanya, wartawan Harian Aceh, Miftah H. Yusufpati di Banda Aceh, Senin (18/2). Berikut petikan wawancara dengan Muhammad Nasir Jamil selengkapnya. Continue reading

Kemerdekaan Kosovo

TAJUK HARIAN ACEH
19 FEBRUARI 2008

Hari Ahad (17/02), Kosovo menyatakan diri merdeka, berpisah dengan Serbia. Provinsi Serbia yang dihuni mayoritas etnis Albania tersebut resmi berdiri sebagai negara berdaulat. Perpisahan ini diharapkan mengakhiri kisah penderitaan panjang warga etnis Albania di salah satu negara bekas Yugoslavia tersebut.
Warga Kosovo yang sebagian besar muslim, 96%, bersuka cita. Kembang api mewarnai langit Kosovo dan puluhan ribu warga Kosovo turun ke jalan-jalan di ibukota Pristina untuk merayakan kemerdekaannya.
Tentu saja, pesta ini disambut marah pemerintah Serbia. Perdana Menteri Serbia Vojislav Kostunica menuding Kosovo sebagai ’negara palsu’. Presiden Serbia Boris Tadic menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah mengakui kedaulatan Kosovo.
Muslim Kosovo meminta dunia Islam segera menyatakan pengakuan atas kemerdekaan negara mereka secara resmi. Mereka juga meminta agar dunia Islam turut membantu pengembangan negara mereka agar lebih baik di masa mendatang.
Shabri Bagouri, Ketua Imam Islam di Kosovo menyerukan agar dunia Islam mengakui segera negara Kosovo. “Kosovo kini sangat memerlukan dukungan politik dari negara Islam untuk mengokohkan eksistensinya. Juga, dukungan ekonomi sehingga Kosovo bisa bangkit menjadi negara maju.”
Indonesia yang dihuni mayoritas muslim sampai detik ini belum mengeluarkan statemen dukungan. Bahkan ada indikasi, pemerintah kita ‘menyesalkan’ peristiwa tersebut yang dianggap sebagai ‘kegagagal’ di meja perundingan.
Memang masalah Kosovo adalah masalah tarik menarik kepentingan Eropa dan AS di satu sisi, dan Rusia di sisi lain. Serbia menduduki lokasi vital dan strategis di wilayah Balkan, serta mempunyai hubungan yang erat secara tradisi, budaya dan agama dengan Kristen Ortodox Rusia. Saat ini, khususnya setelah pecahnya Yugoslavia, Serbia menikmati hak istimewa dan mendapatkan ibukota Belgrade, bekas ibukota Yogoslavia.
Serbia juga menjadi lebih dekat dengan Rusia dan bertindak mewakili Rusia di baris terdepan di wilayah Balkan. Atas pengaruh Rusialah, Serbia keluar dari Uni Eropa dan menentang kebijakan-kebijakan AS di Balkan, yang juga bertujuan untuk mendapatkan pengaruh di Balkan (Eropa Timur) agar bisa memukul AS di sarangnya.
Itulah sebabnya AS berencana memisahkan Montenegro yang masih menyatu dengan Serbia. Untuk mencapai maksud tersebut, AS memberikan bantuan kepada gerakan sparatis di Montenegro.
Sebagian kalangan berpendapat, AS terlibat dalam upaya pemisahan Kosovo dari Serbia, bukan untuk kepentingan muslim di sana, tetapi untuk memperlemah Serbia dan berusaha memutuskan ikatan terakhir yang dimiliki Rusia di Balkan. Dalam hal ini, AS berharap bisa menjalankan agendanya di wilayah tersebut tanpa mendapatkan perlawanan dari Serbia, yang didukung Rusia.
Lepas dari pada itu, Kosovo adalah simbul ketertindasan sebuah provinsi di sebuah negara. Ribuan orang meninggal saat konflik terjadi.
Kemerdekaan Kosovo adalah keputusan akhir, inspirasi dari sebuah proposal yang diajukan pengamat internasional, mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari. Tokoh sama yang memfasilitasi perundingan Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki yang berhasil melahirkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki. Sebuah kesepakatan yang menjadi dasar perdamaian di bumi Aceh ini.
Kosovo adalah wilayah paling miskin di kawasan Eropa Selatan. Namun memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar. Batu-bara, tambang besi, susu dan anggur dapat menjamin keberlangusngan pertumbuhan ekonomi negeri itu. Semua itu dapat terjadi dengan satu syarat, Kosovo memiliki status politik yang jelas.
Kosovo memerlukan kemerdekaan untuk memperbaiki nasibnya. Dan kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh sebab itu, sudah sepatutnya bila Indonesia mengeluarkan dukungan secara simpatik. (*)

DITULIS MIFTAH H. YUSUFPATI

Kita Ini Negeri Kaya

Aceh bakal kaya raya. Melebihi Saudi Arabia, raja minyak dunia. Benarkah?
Kabar itu kencang menerpa seantero negeri ini menyusul diumumkannya hasil Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) yang menemukan adanya migas di perut bumi kawasan perairan timur laut Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh. Jumlahnya sungguh fantastis; 107,5 hingga 320,79 miliar barel.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pekan lalu lalu mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa tersebut. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu. “Kandungan migas itu luar biasa besar.”
Sebagai perbandingan, kini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.
Angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30 persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu yang mengandung migas. Meski demikian, belum tentu seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak. Continue reading