hukum tak pandang besan presiden

Skandal aliran dana Bank Indonesia memasuki babak baru. Dalam sehari, dua peristiwa penting terjadi. Burhanuddin Abdullah divonis, Aulia Pohan ditetapkan sebagai tersangka. Terlambat, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Aulia adalah salah satu dari empat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain dia, ada Aslim Tadjuddin, Maman H. Soemantri, serta Bunbunan Hutapea.
Sebelum menjadi tersangka, Aulia Pohan adalah sosok yang menjadi “incaran” publik dalam kasus aliran dana BI. Sejumlah pemberitaan di media massa selalu berisi desakan kepada KPK untuk menetapkan Aulia sebagai tersangka.
Hal itu cukup beralasan karena status Aulia sebagai besan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Di tengah pemberitaan yang memojokkan, Presiden Yudhoyono menegaskan tidak akan mengintervensi penegakan hukum. Semua orang memiliki kedudukan yang sama di depan hukum.
Selama proses penyidikan, Aulia selalu bungkam. Setiap kali diperiksa oleh petugas KPK, Aulia selalu berusaha menghindar dari wartawan. Berbagai fakta tentang Aulia justru terkuak di persidangan perkara aliran dana BI di Pengadilan tindak Pidana Korupsi untuk beberapa terdakwa yaitu mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, mantan Deputi Direktur Hukum BI Oey Hoy Tiong, mantan Kepala Biro Gubernur BI Rusli Simandjuntak, mantan anggota DPR Antony Zeidra Abidin, dan anggota DPR Hamka Yandhu.
Di dalam dakwaan terhadap para terdakwa terungkap bahwa Aulia mengetahui rencana pemberian uang ke para mantan petinggi BI dan anggota DPR.Aulia juga tercatat sebagai orang yang memberikan catatan persetujuan pencairan dana dari Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) hingga mencapai Rp100 miliar.
Bahkan, Aulia adalah koordinator Pengembangan Sosial Kemasyarakatan (PSK), sebuah badan yang bertugas menatausahakan uang dari YPPI. Dalam perkembangannya, uang YPPI itu didistribusikan kepada para mantan petinggi BI dan anggota DPR.
Dalam persidangan juga terungkap bahwa Aulia Tantowi Pohan selaku Deputi Gubernur BI mengakui bahwa aliran BI juga ditujukan untuk promosi sejumlah pejabat untuk menduduki posisi tertentu di bank sentral. Jadi wajar saja jika Aulia Pohon ditetapkan KPK sebagai tersangka.
Itu sebabnya, penetapan status tersangka bagi Aulia Pohan pada 29 Oktober itu menjadi poin penting dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Keberanian KPK ini diharapkan juga akan terus berlanjut. Soalnya, skandal korupsi di BI tersebut masih menyisakan nama-nama tokoh penting yang kini masih duduk di kursi basah.
Aktor penting lainnya yang sering disebut-sebut dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) adalah Anwar Nasution, Paskah Suzetta, Miranda Gultom dan MS Kaban.
Anwar saat ini adalah Ketua BPK dan termasuk yang paling ngotot membongkat skandal ini. Padahal, saat peristiwa itu terjadi, dia adalah Deputi Senior Gubernur BI. Sedangkan Paskah, Menneg PPN/Kepala Bappenas, saat itu jadi anggota DPR pada komisi yang dikucuri duit BI. Sedang Miranda, dari saat itu sampai sekarang tetap orang penting BI. MS Kaban yang kini Menhut juga anggota DPR-RI bersama Paskah.
Wajar adanya jika banyak pihak menSoal Anwar Nasution, publik sudah mendengar bahwa dalam kesaksiannya, mantan Deputi Gubernur BI, Bun Bunan Hutapea, menyebutkan Anwar turut terlibat. Sebab, dia menyetujui pengambilan dana YPPI Rp100 miliar untuk bantuan hukum sejumlah mantan pejabat BI dalam kasus BLBI, dan amandemen UU BI.
Dalam sidang 16 Juli, Bun Bunan menjelaskan Anwar tidak mengajukan keberatan apapun pada saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22 Juli 2003. Keterkaitan Anwar dalam kasus aliran dana BI juga terungkap dari eksepsi terdakwa aliran dana BI, Anthony Zeidra Abidin. Menurut Anthony pengungkapan BPK atas kasus aliran dana BI lebih karena motif balas dendam akibat Anwar tidak terpilih dalam pemilihan Gubernur BI.
Anwar sendiri membantah motif balas dendam itu. “Pada bulan Mei 2005, saya panggil Burhanuddin Abdullah. Saya katakan kepada Burhan, bereskan semua persoalan itu. Malu kita besok, kau mau menjadi Gubernur BI ‘yang kedua’,” katanya.
Sedangkan untuk Anthony, Anwar juga mengatakan hal serupa. Wakil Gubernur Jambi itu segera menyelesaikan tabungan YPPI. “Kau ini Wakil Gubernur Jambi dan saya katakan cepat bereskan buku tabungan YPPI dan saya berikan toleransi 1,5 tahun,” ujarnya.
Lain lagi dengan kesaksian Oey Hoey Tiong, mantan Direktur Hukum BI. Dia mengaku dirinya diperintah Anwar untuk memusnahkan dokumen terkait aliran dana BI. “Kamu musnahkan saja dokumen-dokumen itu Oey,” ungkap Oey menirukan Anwar dalam sidang 13 Agustus. Intruksi pemusnahan dokumen tersebut terkait laporan Oey kepada Anwar tentang kronologis aliran dana BI.
Aktor lainnya Paskah Suzetta (mantan Wakil Ketua Komisi IX DPR periode 1999-2004). Nama Paskah sangat gamblang disebutkan oleh terdakwa Hamka Yamdhu dalam persidangan di Pengadilan Tipikor akhir Juli lalu 28 Juli lalu. Hamka menyebutkan Paskah menerima aliran dana BI sebesar Rp1 miliar.
Selain Paskah, Hamka juga menyebutkan sebanyak 52 anggota dengan nominal yang beragam. Artinya, ini kasus korupsi berjamaah karena seluruh anggota Komisi IX juga menerima dana dari BI, termasuk MS Kaban.
Akan halnya Miranda bisakah terlepas dari statusnya sebagai anggota Dewan Gubernur BI? Pasalnya, setiap keputusan di BI memang diambil secara kolegial.
Miranda bahkan kemudian disebut-sebut pula terlibat kasus lain. Deputi Senior Gubernur BI ini disebut-sebut Agus Condro, mantan politisi PDI Perjuangan, melakukan suap saat pemilihan Deputi Gubernur BI pada 2004 lalu berupa cek perjalanan. Hal ini pula diperkuat temuan Pusat Pengkajian dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) yang menyebutkan terdapat 400 cek.
“Kalau dua orang (Miranda Ghultom dan Anwar Nasution, red) ini tidak jelas statusnya, dikhawatirkan akan merusak citra KPK sebagai lembaga antikorupsi,” tegas Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: