Mengelola Dampak Bencana dengan Kepala Dingin

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi dampak Tsunami di Aceh-Nias sempat sulit dijalankan karena adanya kekacauan data. Untunglah, sebuah aplikasi gsederhanah bisa membantu urusan yang kompleks ini menjadi lebih sederhana pengelolaannya.

26 Desember 2004. Pagi baru saja menyapa Bumi Serambi Mekkah. Tiba-tiba, sebuah gempa tektonik berkekuatan lebih dari 9 Skala Richter terjadi –dengan episentrum kurang-lebih 150 km dari lepas pantai Aceh. Sekitar 45 menit kemudian, gelombang Tsunami menyapu bersih daerah pesisir pantai Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang panjangnya sekitar 1.000 kilometer – hampir sama dengan jarak antara Jakarta dan Surabaya. Akibat amukan alam ini, Tanah Rencong luluh lantak. Lebih dari 200 ribu nyawa melayang, serta lebih dari 600 ribu orang kehilangan keluarga dan tempat tinggalnya.

Semua panik dan bingung. Pemerintah langsung membentuk organisasi penanganan bencana Aceh. Hanya saja, penanganan korban menjadi sulit karena ketidakjelasan data korban bencana – semisal berapa jumlah korban, pengungsi, anak yang hilang dari keluarganya, dan sebagainya. Data yang diperoleh oleh beberapa tangan tidak sinkron satu sama lain. Kondisi amburadul dan kacau ini terjadi berhari-hari. Maklum, belum ada sistem yang menopang kebutuhan pendataan. Padahal, dalam kondisi seperti ini data yang valid merupakan kebutuhan vital untuk membuat rencana prioritas penanganan dampak bencana.

Banyak lembaga ataupun perusahaan yang kemudian mengirim donasinya. Tak terkecuali PT IBM Indonesia yang mendatangkan timnya ke NAD, pada minggu kedua Januari 2005, dengan membawa sejumlah perangkat TI. Satu hal yang menarik, tim dari IBM ini juga membawa hasil rancangan aplikasi yang dibutuhkan untuk pendataan korban bencana alam. Mereka menyebutnya Sistem Informasi Manajemen Bencana Aceh (SIMBA). Mereka rupanya cukup jeli melihat masalah krusial yang terkait dengan data ini sebelum bertolak ke Aceh. gUntuk membangun kembali kehidupan rakyat Aceh dan Nias, memang diperlukan sebuah pendekatan yang inovatif,h ujar Suryo Suwignjo, Presdir IBM Indonesia, pada acara penyerahan penghargaan oleh Presiden RI – diwakili Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mangkusubroto – kepada IBM atas kontribusinya saat bencana Tsunami Aceh-Nias. Acara tersebut berlangsung pada 6 Maret 2008.

SIMBA – seperti dijelaskan Widita Sardjono, Global Business Services Leader IBM Indonesia – merupakan aplikasi yang dirancang untuk mendata informasi yang diperoleh dari berbagai posko, dan mengonsolidasikannya sampai ke tingkat struktur sosial terkecil, yakni keluarga. gSIMBA juga bisa menjadi salah satu sumber data untuk kebutuhan cek silang sampai tingkat RT/RW, meskipun sebenarnya tidak didesain untuk itu,h paparnya.

Menurut Widita, SIMBA dikembangkan setelah lebih dulu mengirim tim survei ke NAD, yang jumlahnya sekitar 20 orang. Tugas anggota tim survei ini berbeda-beda, antara lain mempelajari infrastruktur apa yang diperlukan, informasi apa yang dibutuhkan, pihak mana saja yang perlu dihubungi, dan sebagainya. Dari hasil survei itu kemudian dianalisis hingga disimpulkan bahwa NAD membutuhkan sebuah sistem yang membantu pendataan penduduk, pengaturan logistik, dan pelaporan data. Oleh karena itu, setelah berkoordinasi dengan kantor IBM Global Crisis Response Team di New York, Amerika Serikat, tim pengembang IBM yang terdiri dari 10 orang mengembangkan SIMBA. Sistem ini menggunakan software open source berbasis Java, MySQL, Tomcat dan PHP. gSIMBA merupakan aplikasi sederhana, yang proses implementasinya pun sangat mudah. Hanya butuh waktu 10 menit untuk menginstalnya,h Widita menjelaskan.
Kendati sederhana, dari sisi fungsionalitas keandalan SIMBA diakui banyak pihak. Buktinya, pemerintah kemudian menetapkan SIMBA sebagai sistem untuk pendataan pengungsi atau Internal Displaced Person (IDP), pelaporan logistik, penilaian kerusakan, dan konsolidasi data. Dengan fitur yang cukup lengkap seperti ini, pengguna langsungnya adalah Bakornas Penanganan dan Penanggulangan Bencana. Pada fase berikutnya, pengguna langsungnya adalah Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, plus berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), unsur PBB dan pihak-pihak yang terkait dengan penanganan dampak bencana Aceh.

Diakui Widita, proses pendataan korban hingga mengorelasikan data antara lokasi ditemukannya korban dengan tempat tinggalnya merupakan proses yang cukup kompleks. Sebab, bisa saja seorang korban ditemukan belasan kilometer dari tempat tinggalnya. Dari informasi yang sudah terkonsolidasi sampai ke tingkat keluarga itu, dilakukan pemetaan informasi seperti berapa jumlah korban tewas, korban yang hilang, korban selamat, termasuk informasi mengenai berapa jumlah anak usia sekolah yang selamat, profesi korban, dan lain-lain. gBerdasarkan hasil pemetaan informasi itulah diperoleh data untuk membantu perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi,h tutur Widita.

SIMBA bisa diakses lewat jaringan Internet. Kelebihan lain sistem ini, para petugas dapat memasukkan berbagai data secara online di mana saja mereka berada, selama ada akses ke Internet. Untuk memfungsikan SIMBA secara optimal, IBM menyediakan: lebih dari 250 notebook jenis ThinkPad dilengkapi camcorder yang ditempatkan di berbagai posko; empat unit server untuk memproses data; 10 unit IBM ThinkCenter; lima router Cisco; dan perangkat pendukung jaringan lainnya.

Selain perlengkapan tersebut, IBM juga meminjamkan dua unit peralatan komunikasi data berupa perangkat satelit Secure Wireless Infrastructure System (SWIS), berkecepatan transfer data 3 Mbps dengan daya tempuh 70 km. Teknologi SWIS ini digelar di Banda Aceh dan Teunom. Peralatan SWIS yang bisa dipindah-pindahkan, memungkinkan terkoneksinya komunikasi data di mana saja di NAD. Menurut Widita, perangkat SWIS yang dipakai di NAD itu sama dengan yang dipakai pemerintah AS untuk menangani korban World Trade Center 11 September 2001. Guna memperlancar entri data pengungsi korban bencana ini dikerahkan tenaga sebanyak 120 orang yang dibagi dalam tiga shift sehari. Bantuan juga mencakup SDM ahlinya, misalnya dari IBM Global Services.

Selain SIMBA, IBM menyediakan pula sistem MUFASA, yakni sistem server untuk konsolidasi data, monitoring, dan pembuatan portal publik. Sistem MUFASA juga berfungsi sebagai penyedia informasi yang bisa diakses berbagai pihak dan lembaga yang terlibat dalam proses rehabilitasi pascabencana.

Dijelaskan Widita, sebenarnya SIMBA tidak hanya berguna dalam proses darurat, melainkan juga pada saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Pasalnya, siapa saja yang mengakses sistem portal SIMBA ini akan segera mengetahui apa saja bantuan yang dibutuhkan, bagaimana menyalurkan bantuan itu, dan memonitor secara langsung proses yang hendak membutuhkan banyak sekali dana ini. gKami mengoperasikan SIMBA sejak Maret hingga September 2005. Setelah itu, pengoperasiannya kami serahterimakan ke pihak Pemda setempat. Seluruh perangkat keras, kecuali SWIS, kami donasikan ke Pemda,h Widita menuturkan. Ketika bencana gempa bumi terjadi lagi di Yogyakarta, teknologi SIMBA pun dimanfaatkan lagi oleh pemerintah.

Walaupun terbukti cukup andal, Widita mengaku IBM tidak berkeinginan menjadikan SIMBA sebagai produk komersial. Bahkan, pihaknya sangat membuka diri terhadap semua pihak bagi pengembangan teknologi, fitur dan kegunaan aplikasi ini.

Peran aplikasi SIMBA dalam membantu penanganan bencana alam, baik di NAD maupun Yogyakarta, diakui Kuntoro. Menurutnya, sistem pendukung akurasi data sangat penting, karena hasil pencatatannya akan dipakai sebagai bahan informasi dan kajian asuransi bencana alam mengingat lokasi Indonesia berada di daerah rawan bencana (ring of fire). Nah, SIMBA dinilainya cukup efektif dalam membantu pengolahan data selama tanggap darurat bencana Tsunami.
Dengan adanya aplikasi itu, BRR bisa memperoleh masukan untuk membuat keputusan yang tepat. Bagaimana tidak, badan ini mesti mengelola sejumlah LSM yang memiliki karakter berbeda. Maklum, pasca-Tsunami, NAD dibanjiri berbagai organisasi untuk memberi bantuan. Ketika itu, total partner implementer yang ada di Aceh mencapai 487 lembaga. Adapun funding agency mencapai 578 lembaga. Namun, melalui aplikasi itu BRR dapat berkoordinasi dan menyatukan berbagai organisasi tersebut untuk melaporkan dan menyampaikan konsepnya. gSebagian keputusan BRR diambil berdasarkan SIMBA,h Kuntoro mengakui.

Kuntoro menyebutkan pula, program rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh- Nias telah berlangsung sesuai dengan rencana. Sejak akhir Desember 2007, jumlah rumah tinggal yang sudah dibangun mencapai 104.287 unit dari 120 ribu rumah yang harus dibangun. Sementara itu, tanah pertanian seluas 64.019 hektare telah direvitalisasi. Begitu pula jalan raya sepanjang 2.191 km telah diperbaiki dari total 3.000 km. Lalu, 17 pelabuhan telah diselesaikan, dan hanya 14 pelabuhan yang rusak. Saat ini, 10 dari 11 bandar udara yang dibutuhkan telah dibangun. gTerlepas dari itu, memang sudah saatnya perlu dipikirkan kita mengembangkan sebuah software untuk manajemen bencana alam,h kata Kuntoro.

Belajar dari SIMBA, memang sudah semestinya pemerintah mengembangkan sistem manajemen berbasis TI yang lebih generik sekaligus holistik untuk mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam. Apalagi, negeri ini berada di wilayah rawan bencana. Perlu diketahui, negara selevel Sri Lanka saja berhasil mewujudkan inisiatif warganya mengembangkan sebuah sistem manajemen bencana alam (disaster management system) bernama Sahana – yang dalam hal ini disponsori oleh SIDA, NSF (AS), dan IBM. Sahana telah dipakai resmi oleh Pemerintah Sri Lanka dalam kasus Tsunami yang juga menghantam negeri ini pada akhir 2004. Negara lain yang telah menggunakannya adalah Filipina, Bangladesh dan Pakistasn. Bahkan, AS pun memanfaatkannya ketika terjadi serangan badai Katrina. Maklum, sistem manajemen bencana alam ini bersifat free, dan dikembangkan dengan software berbasis open source.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: