*Lepaskan Ketergantungan dengan Medan, Aceh Butuh 10 Kilang Padi

Banda Aceh | Harian Aceh
Daerah ini membutuhkan sedikitnya 10 kilang padi untuk memproses produksi gabah yang dihasilkan petani Aceh. Kilang padi yang ada sampai kini baru satu, akibatnya produksi gabah Aceh lebih banyak digiling kilang Medan. “Prospek bisnis kilang padi bagus,” kata pejabat pertanian Aceh.
Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Ir. Asrin, MP, pada diskusi ‘Industri Beras di Aceh’, di Aula BPTP, Banda Aceh Rabu (30/4) menyatakan kilang padi modern bisa menggiling 80 ton/hari seperti yang ada di Glumpang Minyeuk, satu-satunya kilang yang ada di daerah ini.
Bila ada 10 kilang padi, maka gabah Aceh tak perlu lagi harus dibawa ke Medan, untuk diproses menjadi beras di sana. Produksi beras Aceh diprediksi 1,3 juta ton per tahun, dan akan terus meningkat. Dengan begitu, bila ada sembilan kilang padi lagi maka 800 ton gabah per hari dapat digiling sendiri.
Dia mengingatkan, pengusaha Aceh harus berani membuka kilang padi karena pasti untung. “Selama orang masih makan nasi maka selama itu terus ada pembelinya. Jangan seperti selama ini, pagi-pagi datang ke kantor minta diberikan proyek. Aceh harus mampu menandingi kilang-kilang padi yang ada di Medan agar dapat bersaing,” katanya.
Menurut dia, setiap musim panen, 250 ton gabah di Pidie dibawa ke Medan. Ini belum daerah lain. Itu sebabnya, pengusaha Aceh harus mampu meniru apa yang telah dilakukan oleh pengusaha kilang di Medan. Mereka membeli gabah dari Aceh, kemudian menggilingnya menjadi beras yang berkualitas dan mengirim kembali ke Aceh. Akibatnya, masyarakat menanggung beban harga beras yang mahal. “Jangan cuma bisa minta proyek saja,” kata Asrin. “Pengusaha datang ke kantor pagi-pagi, lalu tanya kapan saya dapat proyek.”
Padahal dengan membuka kilang padi maka keberlanjutan usaha ini akan terus terjaga. Masalah modal, ia menyatakan, dalam setiap pertemuan dengan kalangan perbankan selalu meminta kemudahan kredit kepada pengusaha pertanian. Bank telah diimbau untuk melayani bisnis sektor ini dan bukan jangan ke kontraktor bangunan.
Adanya kilang padi yang memadai produksi beras di Aceh menjadi berkualitas dan terjaga stoknya, sehingga harga pun terkendali. Apalagi harga pangan dunia sedang mengalami krisis.t-7

Terbuka, Peluang Pasar Beras Organik Aceh

Banda Aceh | Harian Aceh
Peluang pasar beras organik Aceh masih cukup terbuka untuk pasar lokal maupun dijual ke Sumatera Utara. Potensi beras tanpa pestisida ini bila dikembangkan di Aceh akan mampu mengimbangi beras organik dari Sumut.
”Aceh saat ini merupakan daerah surplus beras. Medan sudah memiliki pasar beras organik yang layak dan mereka sendiri masih belum mampu memenuhi permintaan pasar,” kata Officer Program Rice Market Mercy Corp, Ridwan Sulaiman, dalam diskusi ’Industri Beras di Provinsi NAD, di aula BPTP Provinsi NAD, Banda Aceh, Rabu (30/4).
Menurut dia, beras organik mudah dikembangkan di Aceh karena biaya produksinya murah dan harga jualnya mahal. Pertanian organik cuma memakai pupuk kompos yang mudah diperoleh. Masyarakat hanya perlu di beri pemahaman yang cukup tentang pentingnya pertanian organik dan manfaatnya bagi manusia. ”Apalagi pertanian organik merupakan penerapan dari trend masyarakat dunia yaitu back to nature, kembali ke alam,” katanya.
Pemahaman akan beras organik sendir, kata dia, bukan hanya pada berasnya saja melainkan juga cara bercocok tanamnya yang organik. Mercy corps sendiri saat ini sedang melakukan program kampanye potensi bisnis beras dengan menggandeng semua stakeholder.
Beras organik merupakan beras yang dihasilkan dari padi yang diproduksi tanpa pestisida dan pupuk kimia. Sistim organik memakai pupuk seperti kompos alami dan untuk mengendalikan hama menggunakan pestisida alami.
Biasanya, budidaya padi jenis ini menggunakan bahan organik, antara lain Azolla pinata, jerami, pupuk hijau (crotalaria juncea). Beberapa varietas yang sudah dibudidayakan di beberapa tempat di Indonesia antara lain IR 64, Way Apoburu, Cisantana, Ciherang, Midun, Sarinah, Raja Bulu dan varietas tipe baru seperti Fatmawati dan varietas aromatik Sinta Nur.
Beras organik dapat menggunakan Teknologi Cairan Penyubur Tanah dan Tanaman ( CPT). Poduk ini berwawasan lingkungan karena dalam budidaya tidak menggunakan pupuk kimia buatan pabrik maupun obat-obatan/pestisida, sehingga menghasilkan beras bermutu tinggi dan aman untuk dikonsumsi.
Dampak lain dari teknologi ini adalah mampu memperbaiki lahan-lahan pertanian yang rusak, meliputi struktur tanahnya, tekstur, Ph, porositas, kapasitas tukar kation, serta kemampuan menyimpan air, sehingga tanah menjadi subur kembali secara alamiah dalam waktu 14 minggu. Ini disebabkan mikro organisme dan jasat renik (bakteri tanah) dapat berkembang kembali dengan baik.
Menurut data yang ada selain bebas racun, rendemen beras organik mampu mencapai 70 -72% dari gabah kering giling (GKG ). Bandingkan dengan beras kimia (konvensional) yang hanya mencapai 60 – 65 %. Di samping itu, beras jenis ini mampu disimpan dalam waktu yang lebih lama, rasanya lebih enak, pulen alias nikmat dan tidak mudah basi.
Mengkonsumsi nasi ini juga dapat memperbaiki dan meningkatkan kesehatan tubuh dari penyakit seperti kencing manis (diabetes), asam urat, kolesterol dll. ”Sayangnya, butuh sosialisasi lagi untuk mengembangkan jenis bercocok tanam beras organik,” kata Ridwan. t-7


Kredibilitas Penyuluh Pertanian Menurun

Banda Aceh | Harian Aceh
Kredibilitas penyuluh pertanian semakin menurun di mata para petani. Para petani kini lebih mempercayai informasi penjual benih, ketimbang para pegawai yang dibayar rakyat itu.
Kepala BPTP Provinsi NAD, Ir. T. Iskandar, M.Si, kepada Harian Aceh di Banda Aceh, Rabu (30/4) menyatakan penyebab turunnya kepercayaan petani kepada mereka akibat kurang intensnya kontak antara petani dan penyuluh pertanian.
”Fakta ini merupakan hasil penelitian ilmiah,” katanya, mengungkap, hasil penelitian BPTP.
Menurut dia, kenyataan ini berbeda dengan masa pemerintahan Orde Baru. Saat itu para penyuluh pertanian sangat sering berjumpa dan berkomunikasi dengan petani setiap saat. Petani pun banyak bertanya kepada penyluh pertanian. Namun sekarang keadaan berbalik.
”Kredibilitas penyuluh sudah berkurang, petani lebih percaya kalau bertanya kepada penjual pestisida, penjual bibit atau rekannya sendiri yang dipercayai,” katanya.
Kurangnya interaksi antara penyuluh dan petani juga disebabkan perbandingan jumlah penyuluh dan wilayah kerjanya tidak seimbang. Idealnya satu desa ditangani satu penyuluh.
Saat ini yang terjadi satu kecamatan dilayani oleh tiga atau empat penyuluh. Oleh karena itu ia berharap dimasa mendatang harus diupayakan solusi alternatif misalnya membentuk penyuluh swakarsa yang direkrut dari masyarakat sekitar yang mempunyai pendidikan minimal sekolah menengah.t-7

*Irigasi Krueng Pase Aceh Utara Rusak
Sawah di 9 Kecamatan Terancam Kekeringan
Lhoksukon | Harian Aceh
Ribuan petani di delapan kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara dan satu kecamatan di Lhokseumawe khawatir tidak dapat dapat bercocok tanam menyusul jebolnya bendungan irigasi induk Krueng Pase sayap kiri dan kanan di Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, enam hari lalu. Bendungan ini merupakan alat vital penyedia air bagi delapan kecamatan. Bila segera diperbaiki, ribuan ha sawah terancam tak bisa ditanami.
“Kami khawatir krisis pangan akan melanda delapan kecamatan yang selama ini areal persawahannya bergantung dari suplai air irigasi induk itu,” kata Anwar,45, tokoh masyarakat Kecamatan Meurah Mulia, Rabu (30/4).
Delapan kecamatan di Aceh Utara yang sawahnya mengandalkan air bendungan Krueng Pase adalah Kecamatan Tanah Luas, Matangkuli, Nibong, Meurah Mulia, Samudera, Syamtalira Bayu, Syamtalira Aron, dan Tanah Pasir. Satu kecamatan lagi ada Pemerintah Kota Lhokseumawe, yaitu Blang Mangat.
Kecamatan yang memiliki areal persawahan 8.311 hektar, itu juga bergantung pada irigasi Krueng Pase.
Keresahan ribuan petani padi di delapan kecamatan tersebut sangat beralasan. Sebab, kalau pun bendungan irigasi yang jebol terseret arus itu diperbaiki, butuh waktu lama. “Paling tidak butuh waktu empat tahun. Jadi, dalam rentang waktu itu sudah barang tentu petani mengalami berbagai persoalan, seperti ledakan pengangguran,” kata Anwar.
Anwar mengkhawatirkan akan terjadi gejolak sosial yang berdampak rawan terjadinya tindak kriminalitas, misalnya pencurian atau penjarahan. “Itu tidak tertutup kemungkinan terjadi, karena sawah tempat mereka mencari nafkah sudah tidak ada lagi. Untuk itu, Pemda Aceh Utara dan Pemprov Aceh harus segera memikirkan solusi nasib warga di delapan kecamatan tersebut,” katanya.
Menurut Anwar, saat ini yang harus dilakukan Pemda Aceh Utara terhadap kondisi irigasi induk tersebut adalah membangun bendungan darurat, sehingga paling tidak untuk sementara waktu para petani dapat kembali ke sawahnya sambil menunggu pembangunan bendungan permanen.
Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid mengatakan jebolnya bendungan irigasi Krueng Pase sayap kiri dan kanan merupakan musibah bagi para petani padi. Ilyas mengakui kondisi tersebut dapat mengancam terjadinya krisis pangan bagi penduduk di kawasan itu. “Dalam waktu dekat, kami akan mengusahakan dana untuk pembangunan bendungan baru. Tapi, kita cari dulu dana untuk pembangunan bendungan darurat,” tuturnya saat meninjau lokasi irigasi Krueng Pase.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Aceh Utara, Mawardi mengaku sudah berkoordinasi dengan pejabat di dinas provinsi yang menangani irigasi dan bendungan. Persoalan tersebut, lanjut dia, juga sudah dilaporkan ke Direktorat Jenderal SDA di Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta, beberapa hari lalu.
“Kita berharap, persoalan ini segera dapat diatasi provinsi. Kemungkinan besar anggaran yang akan digunakan bersumber dari APBA atau pun dari APBN. Karena, untuk pembangunan bendungan baru akan mengahabiskan dana puluhan miliar rupiah dan waktu empat tahun,” kata Mawardi.
Bendungan baru, menurut Mawardi, nantinya akan dinaikkan hingga 2 Km dari posisi saat ini dengan harapan daerah jangkauan irigasi dapat lebih jauh. Sementara, untuk menghindari terjadinya krisis pangan berkepanjangan, Mawardi mengatakan segera membangun bendungan darurat dan akan dinaikan 200-500 meter dari posisi sekarang.
“Itu langkah tepat. Paling untuk membangun bendungan darurat menghabiskan waktu tiga hingga empat bulan atau untuk sekali panen saja. Kemungkinan, Mei 2008 bendungan darurat sudah bisa kita bangun,” kata Mawardi optimis.irs


Peluang Bisnis
Jamur Merang yang Merangsang

Bisnis budidaya jamur merang kelihatannya sederhana. Padahal bisnis ini cukup menjanjikan. Lee Guna, perusahaan yang berderak pada bisnis budidaya jamur, sukses mengembangkan bisnis ini.
”Cara pengelolaan jamur merang ini tak sulit,” kata pimpinan unit usaha budidaya jamur merang Lee Guna, Syarwan, T.A, kepada Harian Aceh di tempat mengelolaan budidaya jamur merang Lee Guna, Peurada, kemarin.
Areal yang dibutuhkan juga tidak perlu besar.
Kumbung-kumbung tempat penanaman jamur dapat didesain sehemat mungkin dengan membuat rak-rak. Kumbung untuk budidaya jamur merang ini terdiri atas dua bangunan, yaitu bangunan dalam dan bangunan luar.
Bangunan luar terbuat dari rangka kayu/bambu dan berdinding rumbia/bilik, atap berbentuk segitiga siku.
Kumbung bagian dalam berupa rangka kayu/bamboo yang berisi lima rak yang disusun pada bagian kiri dan kanan bangunan.
Jarak antara bangunan dalam dan luar adalah 30 – 40 cm. Ukuran bangunan luar panjang tujuh meter, tinggi lima meter, bangunan bagian dalam panjang enam meter, lebar empat meter dan tinggi 4,5 meter.
Bahan baku produksinya pun mudah didapat yaitu terdiri dari jerami, ampas sagu, kapur dylamete, dedak dan bibit serta kayu bakar.
Pengelolaan dimulai dengan melakukan pengomposan jerami terlebih dahulu, yaitu menyiapkan sumber makanan yang cukup bagi jamur dalam masa pertumbuhan dan perkembangan sampai siap panen. Pengomposan dilakukan 7–8 hari.
Langkah kedua pemasukan dan pemasangan media, yaitu menyusun kompos yang telah disiapkan tadi ke dalam rak-rak. Langkah ketiga proses pasteurisasi/steam untuk menciptakan iklim yang sesuai dengan habitat jamur merang yaitu menjadikan suhu ruangan minimal 70 derajat celcius. Langkah keempat adalah penanaman bibit, pada proses ini suhu berkisar 35 – 38 derajat celcius dan kelembaban berkisar 95 – 98 %. Selama 3 -4 hari proses ini pintu harus ditutup rapat.
Memasuki hari ke lima dilakukan penyemprotan dua kali sehari untuk pemeliharaan sampai kepada masa pemanenan jamur merang.
Pemanenan sudah dapat dilakukan pada hari kesepuluh setelah penanaman, bahkan bila kondisi kumbung sangat baik memungkinkan panen lebih cepat yaitu sekitar hari kedelapan sampai kesembilan.
Masa panen rata-rata 20 hari dengan total hasil 150-250 kg. Jamur merang ini dijual dengan harga Rp35.000/kg. Artinya, dalam waktu tersebut hasil yang hisa dipetik adalah Rp5,2 juta sampai Rp7,3 juta.
Tapi jangan salah. Bedeng tempat budidaya tak bisa terus menerus ditanami jamur. “Bedengan akan harus diistirahatkan selama 4-5 hari setelah 3 – 4 kali panen pertama, kemudian mulai panen lagi. Masa panen kedua dan seterusnya sampai panen ketiga. Jika kondisi optimum bisa mencapai tujuh kali panen,” kata Syarwan.
Selain ada pembeli yang datang langsung ke tempat dan memilih jamurnya sendiri, komoditas ini dijual secara grosiran di rumah makan dan pasar swalayan seperti di Pante Perak, Blangrakal, restoran-restoran sea food dan warung-warung nasi. “Untuk sementara area pemasaran hanya untuk Banda Aceh dan sekitarnya dikarenakan kapasitas produksi yang masih terbatas,” tambahnya.
Biasanya, konsumen ada yang lebih senang membeli jamur merang langsung ke tempat budidaya karena terasa masih alami.
Kini telah tercatat ada dua unit usaha budidaya jamur merang yang dikelola Lee Guna. Budidaya lainnya berlokasi di Lampeudaya (Kamoe Saban) dan Lampuuk (Jamur Ajaib). Sri Mardianti

Kembangkan Batubara Cair,
Pemerintah Gandeng Sasol Afrika

Jakarta | Harian Aceh
Pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan pertemuan kembali dengan salah satu perusahaan asal Afrika Selatan yang bergerak dibidang pencairan batubara yaitu Sasol.
“Dari pertemuan ini diharapkan ada langkah baru yang terjadi terkait rencana investasi Sasol, termasuk menghasilkan memorandum of understanding (MoU),” kata Kepala Litbang Departemen ESDM Neni Sri Utami dalam acara peninjauan sumur CBM Rambutan di Muara Enim, Sumatra Selatan, Selasa (29/4).
“Dari KBRI ada surat dari Sasol, yang intinya mereka siap menerima kita untuk melakukan pertemuan kembali,” ungkap Neni.
Dari pertemuan ini, lanjut Neni, diharapkan bisa menyambung pertemuan sebelumnya perihal keinginan Sasol untuk mengembangkan pengolahan pencairan batubara berkalori tinggi di Indonesia.
Selain itu, kata Neni dibutuh langkah cepat untuk bisa menyelesaikan rencana investasi ini mengingat industri pencairan batubara perlu dibangun dalam waktu yang lama yaitu paling tidak selama 10 tahun.
“Sasol telah lebih dahulu bekerjasama dengan Qatar, China, India dan Nigeria,” tambahnya. Maklum empat negara ini sudah terlebih dahulu mengajukan proposalnya ke pihak Sasol.
Rencananya kerjasama pencairan batubara Indonesia dengan Sasol akan diarahkan membentuk perusahaan patungan (joint venture). “Kalau dahulu swasta sekarang pemerintah sendiri yang akan maju langsung,” imbuhnya.
Sebelumnya pihak Sasol telah melakukan penjajakan dengan perusahaan dalam negeri yaitu Bumi Resources. Selain Sasol, perusahaan asal Jepang juga telah berminat untuk masuk ke bidang pencairan batubara.
Selama ini pengolahan batubara dengan proses pencairan bisa menghasilkan gasolin (premium) dan beberapa produk tambahan lainnya termasuk bahan kimia.dtf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: