Gempa dan Sodomi (2)

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Pukul 11.00 waktu Aceh. Hari Jum’at. Saya dan Bang Nash nongkrong di warung kopi, alih-alih menunggu salat Jum’at tiba. Soal gempa masih menjadi pokok bahasan.
Saya bercerita tentang hukuman terhadap kaum Luth yang dijelaskan Al-Qur’an. Allah mengutus beberapa malaikat untuk membinasakan kaum Luth yang berperilaku seks menyimpang. Hukuman yang ditimpakan adalah sambaran petir, membalik tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri lemparan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kaum Luth dan kotanya tinggal kenangan.
“Seluruh kitab suci yang diimani kaum Yahudi, Nasrani dan Islam memang menceritakan peristiwa itu,” kata Bang Nash. “Dan peristiwa itu memang benar-benar pernah terjadi.”
Bang Nash lalu bercerita tentang penelitian arkeologis mendapatkan kota Sodom yang semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth). Letaknya, terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. “Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati,” ucap Bang Nash, yang memang dikenal agak kutu buku ini.
“Lalu ada penelitian ilmiah kontemporer,” lanjutnya. “Hasilnya menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah.”
Penjelasan Bang Nash agak serius dan mendekati ilmiah, sehingga kepala saya terasa bak tertekan langit-langit warung, tempat kami ngopi.
Patahan itu, kata dia, berawal dari tepi Gunung Taurus, memanjang ke pantai selatan Laut Mati dan berlanjut melewati Gurun Arabia ke Teluk Aqaba dan terus melintasi Laut Merah, hingga berakhir di Afrika.
Biasanya, bila dua lempengan kerak bumi ini bergeser di daerah patahan maka akan menimbulkan gempa bumi dahsyat yang diikuti dengan tsunami yang menyapu kawasan pesisir pantai. Juga biasa diikuti dengan letusan lava/lahar panas dari perut bumi. “Hal seperti itu pula yang terjadi pada kota Sodom, sebagaimana diungkap peneliti Jerman, Werner Keller,” katanya.
Kembali saya mencoba menggiring pokok persoalan ke gempa di sini. “Secara ilmiah, gempa di Aceh dan Simeuleu juga bisa dijelaskan seperti itu,” jawab Bang Nash.
“Apakah ini ada hubungannya dengan azab yang ditimpakan kepada kaum Luth,” tanya saya. “Bila ini terjadi di Jakarta atau kota lain di Indonesia, seperti Surabaya, Makassar dsb, bisa diterima akal.”
Di kota-kota besar itu penjaja seks dari kaum waria banyak berserak di malam yang dingin. Di jalan-jalan protokol sampai di bawah jembatan layang dengan lenggak-lenggok mereka menawarkan layanan seks menggairahkan kaum homoseks. Di Jakarta, prostitusi jenis ini berpusat di Taman Lawang.
Bang Nash terdiam.
Saya mengirim SMS ke Bang Zul; “Saya di warung depan.”
Tak lama beliau nongol dengan peci putihnya. “Apa lagi yang dibicarakan?” tanya Bang Zul nyelidik.
“Tak ada yang penting,” kata Bang Nash. “Soal gempa dan kaum Luth.”
Saya pun ikut menjelaskan lebih rinci asbabul nuzul-nya.
“Itulah sebabnya kita perlu introspeksi diri. Ngaca! Adakah dosa yang kita perbuat selevel dengan itu?” ujar Bang Zul dengan intonasi dibuat-buat nendang. “Mungkin ini sebuah peringatan sebelum azab yang sebenarnya itu datang.”
Seakan belum tuntas bicara tentang itu, tiba-tiba Bang Zul terbelalak dan berkata: “Aneh. Mengapa ketika gempa dan tsunami terjadi, Gubernur Abdullah Puteh ada di Jakarta tengah menghadapi tuduhan korupsi. Kini, Simeuleu juga gempa, di saat Bupati Darmili ada di Jakarta. Bedanya proses kasus korupsi Darmili di Banda Aceh. Apa ini ada hubungannya?” Dia seakan bertanya pada dirinya sendiri.
Bang Joni, begitu kami memanggil pemilik warung kopi ini, rupanya nguping diskusi dadakan itu sejak tadi. Dia bergumam; “Ada-ada saja.. masa’ sodomi dihubung-hubungkan dengan korupsi. Kalau sogok-menyogok, bolehlah..!”
Kami terbahak. Bang Joni tersenyum masam meninggalkan kami, menurunkan tirai rotan penutup warungnya. “Salat Jum’at,” ujarnya.
Kami pun bubar karena azan pertama memanggil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: