SUARA MAHASISWA, Smart Card dan Nasib Pedagang BBM Eceran

SINDO

Senin, 18/02/2008

PADA awal tahun ini, pemerintah memberikan kado istimewa kepada rakyatnya berupa pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Setelah pada akhir tahun lalu pemerintah melakukan program konversi minyak tanah ke gas dengan membagi-bagikan jutaan tabung gas dan kompor, kini pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan penggunaan BBM, terutama premium bagi mobil pribadi dengan metode penggunaan kartu pintar (smart card).

Dengan metode ini, pemerintah berharap mampu menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp10 triliun. Sebelumnya, kontroversi dan persoalan selalu muncul. Misalnya saja dalam program konversi minyak tanah ke gas. Jenis tabung gas dan kompor berkualitas rendah,persoalan distribusi yang tidak merata, bahkan salah sasaran hingga masyarakat harus terseok untuk membeli isi ulang gas yang selain cukup mahal, juga susah didapatkan di pasaran, terutama daerah nonperkotaan.

Kini, masyarakat harus menelan pil pahit akibat munculnya kebijakan pembatasan pembelian BBM. Kebijakan ini seperti menjadikan masyarakat sebagai kelinci percobaan. Kita masih ingat beberapa waktu lalu, pemerintah mewacanakan kebijakan penghematan BBM melalui pengalihan penggunaan premium ke pertamax yang kemudian dibatalkan karena mendapat reaksi keras dari masyarakat.Bisa jadi kebijakan baru ini,merupakan bentuk lain dari kebijakan lama,yakni kebijakan menaikkan harga BBM secara terselubung. Continue reading

Advertisements

Gempa dan Sodomi (2)

CANG PANAH
Haba Miftah H. Yusufpati

Pukul 11.00 waktu Aceh. Hari Jum’at. Saya dan Bang Nash nongkrong di warung kopi, alih-alih menunggu salat Jum’at tiba. Soal gempa masih menjadi pokok bahasan.
Saya bercerita tentang hukuman terhadap kaum Luth yang dijelaskan Al-Qur’an. Allah mengutus beberapa malaikat untuk membinasakan kaum Luth yang berperilaku seks menyimpang. Hukuman yang ditimpakan adalah sambaran petir, membalik tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri lemparan batu yang membumihanguskan mereka, sehingga kaum Luth dan kotanya tinggal kenangan.
“Seluruh kitab suci yang diimani kaum Yahudi, Nasrani dan Islam memang menceritakan peristiwa itu,” kata Bang Nash. “Dan peristiwa itu memang benar-benar pernah terjadi.”
Bang Nash lalu bercerita tentang penelitian arkeologis mendapatkan kota Sodom yang semula berada di tepi Laut Mati (Danau Luth). Letaknya, terbentang memanjang di antara perbatasan Israel-Yordania. “Dengan sebuah gempa vulkanis yang diikuti letusan lava, kota tersebut Allah runtuhkan, lalu jungkir-balik masuk ke dalam Laut Mati,” ucap Bang Nash, yang memang dikenal agak kutu buku ini.
“Lalu ada penelitian ilmiah kontemporer,” lanjutnya. “Hasilnya menjelaskan, bencana itu dapat terjadi karena daerah Lembah Siddim, yang di dalamnya terdapat kota Sodom dan Gomorah, merupakan daerah patahan atau titik bertemunya dua lempengan kerak bumi yang bergerak berlawanan arah.” Continue reading