Gempa dan Sodomi (1)

ini-miftah.jpgHaba Miftah H. Yusufpati

“Kenapa gempa bumi terjadi? Salah satu alasan adalah hal-hal yang mendapat legitimasi dari Knesset (parlemen), tentang sodomi.”

Itu adalah kata anggota parlemen Israel, Benizri dari partai ultra-ortodoks Partai Shas Yahudi. Terdengar menggelikan. Gaptek alias gagap teknologi. Anggota parlemen Yahudi menyalahkan kaum homoseksual menyusul gempa bumi bertubi-tubi melanda Timur Tengah belakangan ini.
“Masuk akal, nggak ya?” itu pertanyaan saya kepada Bang Zul saat ngopi bareng di Lambhuk, persis depan kantor kami.
Agar memperoleh jawaban yang pas, saya menjelaskan secara detail berita itu. Parlemen Israel gencar meliberalisasikan undang-undang mengenai kaum gay. Benizri menentang dan bilang: “Makanya, gempa bertubi-tubi.” Ini adalah berita dari news.com, akhir pekan lalu.
Sepekan terakhir, dua gempa bumi yang berasal dari Libanon mengguncang Israel. Gempa pertama terjadi hanya dua hari setelah jaksa agung memutuskan bahwa pasangan sejenis bisa mengadopsi anak.
Continue reading

Advertisements

Happy Ending Drama Penculikan

Seorang toke sawit diculik dan penculiknya meminta tebusan Rp5 miliar. Terjadi tawar menawar antara penculik dan keluarga korban sampai kemudian disepakati uang sebusan senilai Rp200 juta. Ini adalah kejadian sesungguhnya di sini, Aceh. Heriyanto, 30, warga Desa Alue Awe, Kecamatan Geurudong Pase, Kabupaten Aceh Utara itu diculik sejumlah orang bersenjata sejak Jumat, pekan lalu.
Drama ini berakhir happy ending. Penculik happy karena dapat uang tebusan, Heriyanto juga happy karena bisa keluar dari sarang penyamun. Memang, tidak seperti cerita dalam film-film laga versi Hollywood yang selalu mengalahkan para pencoleng itu. Cerita ini dimenangkan sang penculik.
Inilah episode lanjutan masa konflik dulu. Dan kasus ini bukanlah satu-satunya. Deretan kasus serupa sering terjadi. Aksi culik menculik ini dalam sepekan saja sudah ada dua kasus. Selain Heriyanto, penculikan juga terjadi pada diri Jamaluddin Daud,38, Mukim GAM Sawang, warga Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Rabu (13/2) lalu. Beruntung Jamaluddin, yang hanya luka karena pemukulan saat disekap sang penculik. Ia berhasil lolos dari sekapan setelah memanfaatkan kelengahan sang penculik.
Kasus pertama murni perampokan dan soal uang. Sedangkan kasus kedua diduga bermotif balas dendam. Kasus kedua ini terjadi menyusul terbunuhnya Badruddin selepas keluar penjara bulan lalu. Badruddin ‘dihabisi’ dengan timah panas oleh orang tak dikenal. Kelompok Badruddin inilah yang dicurigai menculik Jamaluddin karena ia disangka sebagai orang yang dianggap tahu tentang siapa pembunuh Badruddin.
Ini cerita nyata Bung. Bukan film fiksi yang sering kita tonton di layar kaca bikinan Hollywood atau Bolywood. Kisah nyata ini belakangan sering terjadi di Aceh, terutama di wilayah Pase yakni Lhokseumawe dan Bireuen yang sejak masa konflik dianggap daerah paling ganas dan panas. Dua kasus tadi hanyalah contoh saja dari deretan kasus culik menculik di tanah rencong ini. Continue reading