Wawancara dengan Rais Am PB NU KH M.A. Sahal Mahfudh

INDOPOS

Minggu, 17 Feb 2008,

Warga NU Tahu Pemimpin Baik seperti Apa
Musim pemilihan kepala daerah (pilkada) datang, kader Nahdlatul Ulama (NU) pun digadang-gadang. Kader NU memang laris manis dipinang partai politik untuk maju dalam pilkada.

Di Jawa Tengah, Ketua PW NU Muhammad Adnan menjadi calon wakil gubernur. Di Jawa Timur, yang merupakan basis warga nahdliyin, Ali Maschan Moesa, ketua PW NU Jawa Timur, diwacanakan masuk bursa pemilihan gubernur (pilgub) setempat. Masih ditambah kader NU lainnya, seperti Ali Mufiz (gubernur Jawa Tengah) yang kini menjadi calon gubernur Jawa Tengah, dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang ikut meramaikan Pilgub Jatim.

Bagaimana pandangan Rais Am PB NU KH M.A. Sahal Mahfudh tentang maraknya kader NU yang maju dalam bursa pencalonan kepala daerah tersebut? Berikut petikan wawancara wartawan Radar Kudus (Grup Jawa Pos) Ris Andy Kusuma dengan pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, itu pada Kamis (14/2).

Bagaimana pandangan Kiai tentang banyaknya tokoh NU terjun ke dalam politik praktis, khususnya ikut memperebutkan kursi kepemimpinan eksekutif?
Semua itu tidak masalah karena sifatnya perorangan, bukan atas nama lembaga. Yang jelas, NU tidak pernah mencalonkan seseorang untuk maju.

Apakah tidak rancu ketika tokoh (pengurus) NU terjun dalam politik praktis?
Tidak, asalkan mereka tidak menggunakan fasilitas dan nama NU dalam pertarungan itu. Mereka jelas dilarang menggunakan lembaga NU dan fasilitas yang ada untuk berpolitik praktis.

Bagaimana membedakannya, Kiai?
Calon yang mengatasnamakan NU itu tidak benar karena NU tidak pernah mencalonkan atau mendorong seseorang untuk maju. Pengurus NU yang maju harus nonaktif.

Apakah sebatas nonaktif?
Dalam aturan saat ini bunyinya seperti itu. Bahkan, sekarang banyak suara yang berkembang bahwa tidak hanya nonaktif, tetapi harus mengundurkan diri.

Kalau nonaktif, berarti pengurus tersebut masih bisa duduk kembali di kepengurusan NU?
Bisa. Sepanjang tidak terpilih dalam pemilihan itu, mereka masih bisa menjabat lagi. Sebab, bunyinya hanya nonaktif, tidak mengundurkan diri. Itu beda kalau bunyinya harus mengundurkan diri.

Apakah hal itu tidak akan membingungkan warga NU, Kiai?
Tidak. Ini juga sebagai pendidikan bagi warga NU tentang berpolitik. Bagaimana membedakan antara urusan politik dan organisasi (NU).

Apakah tidak dikhawatirkan suara warga NU digiring untuk memilih calon dari NU?
Kapan warga NU bisa dewasa kalau hanya dibimbing terus. Warga NU sekarang sudah pintar tentang siapa yang harus dipilih tanpa harus diarahkan.

Apakah tidak ada kekhawatiran pengurus NU yang maju menggunakan struktur di bawahnya untuk memenangkan pertarungan pilkada, Kiai?
Mereka tidak dibenarkan menggunakan fasilitas NU. Mereka yang telah nonaktif tidak diperkenankan menggunakan fasilitas NU untuk kepentingan pribadi.

Bagaimana soal kasus hari ulang tahun NU di Semarang yang dibelokkan ke arah kampanye oleh salah seorang calon (dari NU)?
Saya sangat menyesalkan sekali hal itu. Kampanye bukan pada tempatnya. Tetapi, saya tidak tahu apakah yang mengucapkan itu pengurus NU di wilayah atau cabang.

Apakah pengurus tersebut tetap dibiarkan maju, Kiai?
Warga NU punya hak dipilih dan hak memilih, seperti warga Indonesia lainnya. Itu urusan pribadi mereka. Kalaupun tidak terpilih, mereka tetap sebagai warga NU.

Bagaimana calon yang mengklaim telah mengantongi dukungan dari kiai-kiai untuk maju dalam pertarungan pilkada?
Kalau ada kiai yang mendukung salah seorang calon, silakan saja. Itu atas nama pribadi, bukan atas nama lembaga NU. Tidak benar jika mereka menggunakan nama NU.

Bagaimana soal kiai yang meminta restu?
Kalau meminta restu dan semua datang ke sini minta direstui, saya akan restui. Kalau sekadar datang untuk minta doa restu, ya direstui, tetapi bukan berarti mendukung.

Bagaimana warga NU menilai pencalonan pengurus NU itu?
Mereka punya hak politik untuk menentukan calon mereka. Warga NU sudah tahu pemimpin yang baik seperti apa.

Ada imbauan terhadap warga NU dalam menghadapi pilkada, Kiai?
Warga NU harus bersikap netral. Soal siapa yang mau dipilih, itu hak pribadi untuk memilih siapa. (jpnn/ib)

Data Pribadi

Nama : Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudh bin Abd. Salam Al-Haijaini
Lahir : Pati, 17 Desember 1937
Istri : Nafisah binti KH Abdul Fatah Hasyim
Anak : Abdul Ghaffar Razin

Pendidikan:
– Sekolah Dasar (Ibtidaiyah)
– Peguruan Islam Mathali’ul Falah (Tsanawiyah)
– Pondok Pesantren Bendo, Kediri
– Pondok Pesantren Sarang, Rembang

Karangan (kitab):
– Thoriqotul Husul ila Ghayah al-Wushul
– Al-Bayan al-Maulamma’an Alafazh al-Luma’
– Al-Tsamaratul al-Hajeniah
– Al-Faraid al-Ajibah
– Faidh al-Hija
– Intifah al-Wadajaian fi Munazharati Ulama Hajein
– Ensiklopedi Ijma’, terjemahan bersama KH A. Mustofa Bisri
– Nuansa Fiqh Sosial
– Pesantren Mencari Makna
– Telaah Fiqh Sosial, Dialog dengan KH M.A. Sahal
– Dialog dengan Kiai Sahal Mahfudh, Solusi Problematika Umat
– Wajah Baru Fiqh Pesantren

Organisasi:
Ketua MUI Pati 1980-an
Ketua MUI Jawa Tengah 1990-2000
Ketua MUI Pusat 2000-sekarang
Wakil Syuriah NU Cabang Pati
Katib Syuriah Wilayah PW NU
Rais Syuriah PW NU
Rais PB NU 1984
Wakil Rais Am PB NU
Rais Am PB NU

Karir Akademis:
Guru di Pondok Pesantren Sarang, Rembang, 1958-1961
Dosen Mata Kuliah Tahassus Fiqh di Kajen, Pati, 1966-1970
Dosen Fakultas Tarbiyah Uncok, Pati, 1974-1976
Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang, 1982-1985
Rektor INISNU, Jepara, 1989-sekarang

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: