Buya Hamka dan Palestina

Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah gelar Datuk Indomo yang akrab dengan panggilan Buya Hamka, lahir 16 Februari 1908, di Ranah Minangkabau, desa kampung Molek, Sungai Batang, di tepian danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Buya Hamka yang bergelar Tuanku Syaikh, gelar pusaka yang diberikan ninik mamak dan Majelis Alim-Ulama negeri Sungai Batang – Tanjung Sani, 12 Rabi’ul Akhir 1386 H/ 31 Juli 1966 M, pernah mendapatkan anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, 1958, Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974, dan gelar Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.

Buya Hamka adalah seorang ulama yang memiliki ‘izzah, tegas dalam aqidah dan toleran dalam masalah khilafiyah. Beliau sangat peduli terhadap urusan umat Islam, sehingga tidak mengherankan, di dalam dakwahnya, baik berupa tulisan maupun lisan, ceramah, pidato atau khutbah selalu menekankan tentang ukhuwah Islamiyah, menghindari perpacahan dan mengingatkan umat untuk peduli terhadap urusan kaum muslimin. Continue reading

Advertisements

Budaya Permisif dan Mesin Birokrasi

Oleh : Yusuf Wibisono

KabarIndonesia – Semula birokrasi untuk mengelola secara sistemik pelayanan terhadap kepentingan masyarakat banyak, tapi lambat-laun bergeser fungsinya menjadi “mesin besar” yang menggerus berbagai kepentingan masyarakat itu sendiri. Yang tersisa hanya kepentingan aparat pemerintah atau sejenisnya demi meraup keuntungan profit individu atau kelompoknya. Dengan kata lain, motto: “Pelayanan Publik” hanya menjadi tempelan plang papan nama di beberapa instansi pemerintah. Diakui atau tidak, hal inilah yang kerapkali mewarnai proses perjalanan birokrasi institusi-institusi pelayanan publik di Indonesia.

Praktek “jalan tol” dalam birokrasi di Indonesia sudah merupakan “virus” yang merembes di berbagai instansi pemerintah, terutama yang berkaitan dengan layanan publik. Siapa pun dapat pelayanan yang super cepat kalau memenuhi syarat yang tak tertulis — atau bahasa gaulnya “angpau” (uang) — meski syarat yang sesungguhnya masih kurang lengkap. Realitas seperti ini pada gilirannya mengkristal dan menjadi kultur di tengah-tengah masyarakat kita. Istilah TST (tau sama tau) sudah bagian dari idiom komunikasi birokrasi yang dimaklumi bersama. Ironisnya, kadangkala hal ini dikemas dengan logika take and give, dan berdasarkan deal /kesepakatan yang tak tertulis antar aparat dan masyarakat, meskipun terkesan dipaksakan. Continue reading

Kita Ini Negeri Kaya

miftahhh.jpgoleh Miftah H. Yusufpati

Aceh bakal kaya raya. Melebihi Saudi Arabia, raja minyak dunia. Benarkah?
Kabar itu kencang menerpa seantero negeri ini menyusul diumumkannya hasil Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) yang menemukan adanya migas di perut bumi kawasan perairan timur laut Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh. Jumlahnya sungguh fantastis; 107,5 hingga 320,79 miliar barel.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pekan lalu lalu mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa tersebut. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu. “Kandungan migas itu luar biasa besar.”
Sebagai perbandingan, kini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel. Continue reading

Kursi Basah

CANG PANAH

Basah-basah kadang enak. Ada mimpi basah. Mandi basah. Ikan basah. Lahan basah. Terakhir yang jadi perhatian adalah kursi basah. Soal lahan basah dan kursi basah ini tentu saja hanyalah kiasan belaka.
Makna lahan basah aslinya wetland yakni lahan yang selalu tergenang air. Merupakan sumberdaya alam yang begitu besar nilainya bagi masyarakat, kontribusi bagi keanekaragaman hayati, lumbung pangan, penopang ekosistem lainnya, dan pengatur iklim makro.
Lain lagi makna sebenarnya tentang kursi basah. Singkat saja, kursi yang terguyur air, tentulah basah.
Hanya saja, kita tidak sedang membicarakan tentang yang basah-basah macam itu. Apalagi soal mimpi basah yang seringkali dialami anak muda atau mandi basah, pada mereka yang sudah menikah.
Kita di sini bicara tentang lahan basah dan kursi basah bukan dalam arti letter lux atawa apa adanya. Continue reading

Nama

CANG PANAH
27 Desember 2008

Seorang perempuan paruh baya, dengan pakaian resmi, menghampiri saya. “Tolong Mas tanda tangan,” pintanya sembari menyodorkan buku karya saya dan minta dibubuhi tanda tangan. Malam itu saya menggelar acara launching buku, di Gedung Antara, Jakarta. Banyak pejabat dan mantan pejabat yang hadir.
“Siapa ya?” tanya saya.
“Ini untuk Pak Ryamizard,” lalu dia mengeja huruf per huruf nama mantan KSAD tersebut. “Bapak titip salam, beliau tidak bisa hadir.”
Saya tersenyum; “Nggak usah dieja, saya sudah tahu,” kata saya.
Saya tulis di halaman paling depan isi buku; ‘Buat Tentara Sejati, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu’ lalu saya sodorkan untuk diperiksa speling namanya.
“Benar Pak, seperti itu,” katanya senang.
Setelah itu, saya bubuhi tanda tangan berikut tanggalnya; 8 Juni 2007.
Saya ingat betul speling nama jenderal tersebut karena saya cukup konsen mengikuti sepak terjang beliau. Turutama saat beliau turun langsung ke Aceh memimpin evakuasi korban tsunami maupun perbaikan infrastruktur yang hancur akibat bencana itu. Mungkin yang minta tanda tangan tadi sekretaris pribadi beliau. Continue reading

Mitos

CANG PANAH
24 Desember 2007

Haba Miftah H. Yusufpati

Secara sederhana, definisi mitos adalah suatu informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar karena telah beredar dari generasi ke generasi.
Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarat tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat. Begitu, tentang mitos.
Siang itu kami bertiga –saya, Bang Zul dan Bang Ian– makan siang di RM Hasan, di Darussalam. Menu-menu hot disajikan di sini. Kami pesan kare kameng atau kari kambing, tiga porsi. Kari Kambing ternyata menjadi menu pavorit di sini. Separoh meja yang disedikan rumah makan terisi, semua menyantap kari kambing, selain deretan menu lainnya, rata-rata bersantan.
“Inilah mengapa rakyat Aceh sangat reaktif dan sensitif,” ulas Bang Zul, mengulang kembali obrolan kami yang sempat terputus saat masih di dalam mobil tentang reaksi keras SIRA (Sentral Informasi Referendum Rakyat Atjeh) mengenai pernyataan Pangdam Iskandar Muda, Mayjen (TNI) Supiadin AS yang menyebut rakyat Aceh tak butuhkan partai lokal (Parlok).
Seperti biasa, saya lebih banyak mendengar. Diam saya itulah yang membuat Bang Zul amat bersemangat. Apalagi kalau saya sudah menganggung-angguk. Dia berturur seperti meluncur. Cas cis cus. Continue reading

PRT

Canang Panah
18 Desember 2007

Menjelang Idul Adha, di Banda Aceh, kedai sudah banyak yang tutup. “Mereka sudah pulang kampung,” ujar Bang Yus. Tukang cuci pakaian juga sudah tak mau terima order. Karena lebaran haji jatuh pada hari Kamis, maka balik ke Banda Aceh Ahad sore. “Tanggung,” kata langganan cuci saya.
Penjaga kedai sampai tukang laundry rata-rata kaum urban. Mereka berasal dari Aceh Utara, Bireuen, Takengon dan paling dekat Aceh Besar. Tukang laundy dan kedai kopi serta warung nasi seakan sudah menjadi jantung kota Banda Aceh. Irama kota seakan dikendalikan di sini. Bahkan masalah politik sampai gosip politik juga seringkali diputuskan di kedai kopi.
Kedai kopi selain sebagai tempat bergosip, juga sebagai ajang lobi cari proyek. Tempat bertemu teman yang mengasyikkan. Bagi pengangguran, tempat ini menjadi sumber rezeki; setidaknya sebagai tempat “nodong”. Bagamana tidak, kaum pengangguran berkelas, punya kolega yang sudah jadi pejabat atau pengusaha sukses. Di kedai kopi ini biasanya sang kolega bakal nongol. Di sinilah kebutuhan bayar rekening listrik, telepon, air sampai uang sekolah anak diekskusi.
Warung nasi tak kalah pentingnya. Keluarga tertentu, para ekspatrait, dan perantau mengandalkan tempat ini. Tak mau repot-repot masak di rumah, maka warung nasi menjadi tumpuan. Tak mau mendengar keluhan istri karena harga bawang merah yang meroket maka warung nasi sebagai tempat untuk enjoy. Continue reading