Menyongsong Kemandirian

Terkadang gara-gara tak ada duit, keluarga sering ribut. Begitu juga sebaliknya, gara-gara punya duit banyak, juga ribut. Karena tak ada duit, tak bisa memenuhi kebutuhan, wajar saja keluarga menjadi bermasalah. Lalu, punya duit berlebihan seringkali orang menjadi tak adil. Itu juga membuat ribut. Pertengkaran terjadi.
Demikianlah cermin kita. Wajah anak negeri yang selalu dirangsang keributan. Saling tarik ulur dsb. Itu sebabnya kita patut bersyukur atas musyawarah antara gubernur dan kepala daerah tingkat II se-Aceh dalam masalah pengalokasian dana otonomi khusus dan migas.
Musyawarah adalah jalan terbaik. Dalam musyawarah ini akan tergambar dengan jelas, sebenarnya apa yang diinginkan masing-masing pihak untuk membangun Aceh ke depan. Sebab, sampai detik ini, rakyat sangat percaya bahwa antara pemerintah provinsi dan kabupaten serta kotamadya memiliki kepentingan yang sama: membangun Aceh lebih baik dari sekarang.
Dalam musyawarah tak perlu ada yang merasa kalah dan menang. Keputusan apa pun dalam musyawarah adalah milik rakyat. Sikap inilah yang perlu menjadi pegangan semua pihak.
Sejatinya, kucuran dana otonomi khusus dan migas yang kemudian menjadi pemasukan bagi APBA Rp8 trilun bukan hanya sekadar angka delapan dengan deretan nol yang lumayan panjang. Nilai APBA yang duakali lipat dari tahun sebelumnya ini menjadi tonggak baru bagi Aceh untuk menuju kemandian. Satu bangsa yang tadinya berharap belas kasihan menjadi bangsa yang mandiri.
Momentum ini menjadi tonggak kemandirian karena secara bersamaan pada 2008 nanti anggaran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias akan menurun.
Sungguh masuk di akal apa yang dikatakan pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dr. Nazamuddin Basyah Said, MA. Beliau menyebut tahun depan merupakan titik balik yang penting dalam perjalanan pertumbuhan ekonomi Aceh. Harap maklum, pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Aceh selama tiga tahun terakhir lebih banyak ditopang derasnya aliran uang masuk dalam berbagai bentuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.
Itu sebabnya mulai sekarang Pemerintah Aceh harus sudah memikirkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Aceh. Satu fondasi yang kuat sehingga dapat bertahan dalam jangka panjang.
Memang, ini bukan pekerjaan ringan. Hambatan sudah pasti ada. Misalnya masalah pertumbuhan ekonomi yang negatif pada 2005 sebesar 13,4%. Kondisi itu perlu dorongan besar (big push) untuk mencapai pertumbuhan positif. Belum lagi masalah aset-aset kapital yang rusak dan hilang akibat tsunami. Pada 2008, Aceh butuh investasi infrastruktur yang besar. Selain investasi swasta untuk menciptakan lapangan kerja di luar pertanian.
Bila itu sudah tercapai maka perekonomian Aceh akan berimbang dan modern. Tidak tergantung pada sektor pertanian tradisional yang berskala kecil dan penerapan teknologi rendah, melainkan kegiatan ekonomi yang meningkat nilai tambah pada setiap tahap dalam mata rantai produksi dan pemasaran.
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan daya saing ekonomi Aceh. Diketahui, tidak mungkin menarik investor dari luar untuk melakukan ekspansi usaha jika berbisnis mahal.
Sampai kini, biaya berbisnis di Aceh masih mahal, karena beberapa alasan, yakni infrastruktur belum memadai, birokrasi belum efisien, prosedur masih belum sederhana, dan pungutan ilegal masih berlangsung.
Pemerintah Aceh harus memikirkan bagaimana menarik investasi dengan mengurangi risiko bisnis. Sebab risiko selalu menjadi pertimbangan di samping keuntungan dalam kalkulasi usaha. Jadi, sekarang bagaimana agar investor merasa aman dan tidak terganggu usahanya.
Harapan besar masyarakat pada Pemerintah Aceh sekarang, jika salah kaprah, maka kepercayaan akan merosot, maka tinggallah pemerintah dengan keasyikan dan kenikmatan kekuasaan dan masyarakat kecil tetap termarjinalkan. Inilah yang tidak boleh terjadi. (*)

TAJUK HARIAN ACEH
17 Desember 2007
Ditulis Miftah H. Yusufpati
Redaktur Pelaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: