Kita Ini Negeri Kaya

Aceh bakal kaya raya. Melebihi Saudi Arabia, raja minyak dunia. Benarkah?
Kabar itu kencang menerpa seantero negeri ini menyusul diumumkannya hasil Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) yang menemukan adanya migas di perut bumi kawasan perairan timur laut Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh. Jumlahnya sungguh fantastis; 107,5 hingga 320,79 miliar barel.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pekan lalu lalu mempublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa tersebut. Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu. “Kandungan migas itu luar biasa besar.”
Sebagai perbandingan, kini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.
Angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30 persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu yang mengandung migas. Meski demikian, belum tentu seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak. Continue reading

Tiga Tahun Tsunami

Tiga tahun sudah bencana itu berlalu. Tak kurang dari 250 ribu jiwa penduduk hilang dan meninggal dunia di 13 kabupaten/kota pesisir pantai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 26 Desember 2004 lalu, akibat tsunami. Anak-anak menjadi yatim, orang tua ditinggal anaknya. Suami ditinggal istri atau istri ditinggal suami. Mereka yang selamat ditinggal orang-orang-orang terkasih.
Roda kehidupan terus berputar dan kini, tiga tahun tsunami, apa yang sebenarnya membekas pada diri kita?
Masih ada di antara kita yang meratapi peristiwa tersebut atau setidaknya belum bisa menghilangkan kesedihan yang mendalam, atau bahkan belum bisa menerima takdir yang menimpa dirinya. Sebagian lagi sudah merasa terobati, dengan sabar dan berpasrah (tawakal) kepada Allah karena menyadari bahwa Allah jua yang mematikan dan menghidupkan kita.
Ada empat macam sikap orang dalam menghadapi musibah; bersyukur, ada yang ridha, ada juga yang sabar dan ada yang berkeluh kesah ( jazi’ ). Orang yang jazi’, artinya, marah kepada ketentuan (qadha’) Rabbul ‘alamin.
Adanya musibah ini kita memang patut bersyuskur. Ini adalah tingkat paling tinggi. Mengapa? Pertama, karena toh kita selamat dari maut tersebut selain juga masih banyak orang justru terkena musibah lebih besar dari kita. Kedua, kita berharap dengan musibah itu, dosa-dosa kita akan terhapus. Sebab musibah itu akan dapat meningkatkan derajat kita di sisi Allah bila kita bersabar. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang berkeluh kesah dengan musibah itu.
Tentang berbagai bentuk pensikapan orang terhadap musibah itulah yang kini membentuk wajah Aceh baru. Di satu kutub kita menyaksikan orang-orang yang zuhud, di sisi lain, kita juga melihat sikap orang-orang di antara kita sangat mencintai dunia. Mereka ini justru mengail di air keruh. Hidup bermewah-mewah di tengah penderitaan saudaranya.
Kita yang tiba-tiba terjebak dalam kubangan musibah dan derita, tiba-tiba di antara kita muncul orang-orang yang memacu ambisi, mengejar kemewahan yang tiba-tiba pula. Celakanya lagi, tsunami dianggap sebagai peruntungan materi bukan peruntungan bathin. Sungguh sebuah ironi yang patut kita sesalkan. Uang yang mengalir deras ke daerah ini telah membuat sebagian kita lupa. Lupa akan banyak hal.
Tapi kita tentu masih ingat; sejak tsunami dan beberapa bulan berselang, masjid-masjid dan meunasah-meunasah penuh oleh jamaah. Doa dipanjatkan dengan kekhusukan. Kepasrahan total yang sungguh menyentuh hati. Wajah Aceh, wajah umat Islam, yang berpasrah diri terpotret dengan indah. Bibir-bibir yang memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Illahi Robbi begitu syahdu.
Tapi kini, tiga tahun sudah. Kita menyaksikan mulai berkurangnya jamaah masjid, meunasah mulai sepi lagi. Lalu, kemana doa itu? Kemana kepasrahan dan kezuhudan itu?
Kadang kita patut bertanya, adakah ini juga sebagai musibah susulan? Sungguh kita patut cemas, bila musibah disusul dengan musibah baru yang lebih dahsyat. Syirik, tamak dan kesombongan adalah musibah yang lebih dahsyat dari tsunami itu sendiri!

EDITORIAL HARIAN ACEH
25 Desember 2008
Ditulis Miftah H. Yusufpati
Redaktur Pelaksana

Langkah Maju Gubernur Tentang Perlindungan Hukum Tapol Napol

Gubernur Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf, mengambil keputusan tepat menyangkut upaya pembebasan para tahanan politik (tapol) dan narapindana politik (napol) eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sampai kini masih meringkuk di penjara di Jawa. Minimal, mereka bisa dipulangkan ke daerahnya, Aceh.
Langkah yang diambil gubernur adalah dengan mengeluarkan SK Gubernur No. 183.1/665/2007 tentang pembentukan tim koordinasi perlindungan hukum dan penyelesaian status tapol/napol Aceh, yang diteken 4 Desember 2007.
Sejumlah kalangan menyambut positif kebijakan gubernur tersebut. Ini diterjemahkan sebagai political will pemerintah untuk membantu pembebasan tapol dan napol yang selama ini menjadi isu penting pasca MoU Helsinki.
Sebagaimana kita ketahui bahwa bedasarkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki para tapol napol GAM harusnya sudah dilepas semua pasca penandatangan perjanjian damai tersebut. Dalam MoU Helsinki pasal 3 poin 3.1.2 dan Keppres No. 22/ 2005 tentang amnesti umum disebutkan, narapidana dan tahanan politik yang ditahan akibat konflik akan dibebaskan tanpa syarat secepat mungkin selambat-lambatnya 15 hari sejak nota kesepahaman ditandatangani. Continue reading

Selamat Idul Adha

Hari ini dan besok gema takbir dan tahmid mengumandang di jagad raya. Idul Adha telah tiba. Bagi warga Aceh, Idul Adha adalah hari yang sakral. Lebih dari pada itu di hari ini umat Islam Aceh dan seluruh dunia kembali diingatkan agar bersikap ikhlas dan sabar dalam berkorban.
Keihlasan dan kesabaran sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan yang penuh gangguan dan tantangan. Idul Adha adalah sebagai wahana intropeksi dan refleksi diri umat Islam.
Tentang berkorban, rakyat Aceh tampaknya sudah mengamalkan dengan baik. Bahkan pengorbanan lebih luas, berkorban untuk bangsa, berkorban untuk agama telah dilakukan dan dibuktikan rakyat Aceh.
Kini di hari ini, rakyat Aceh dan seluruh umat Islam, kembali memperingati Hari raya Idul Adha atau hari kurban. Peringatan Idul Adha dengan melakukan penyembelihan hewan kurban oleh umat Islam merupakan upaya merunut sejarah Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail dalam mentaati perintah dan ujian dari Allah. Idul Adha yang juga disebut Idul qurban memiliki arti mendekatkan diri dan rasa keikhlasan menerima ujian dari Allah. Continue reading

Mesum di Tahun Baru, Tantangan Syariat Islam

Operasi gabungan razia para penggembira tahun baru Masehi membuahkan hasil yang fantastik. Selain mendapati pasangan yang sedang ‘beraksi’ di dalam mobil goyang, hasil kerja aparat Wilayatul Hisbah (WH), Badan Anti Maksiat (BAM), POM, dan polisi sukses menjaring ratusan pasang muda-mudi yang sedang di mabuk asmara. Sampai-sampai kendaraan yang disiapkan untuk para pelanggar syariat Islam tak mampu mengangkut mereka. Akibatnya bisa kita tebak; mereka hanya diberi pengarahan lalu disuruh pulang ke rumah masing-masing.
Menariknya, petugas hanya 150 personel yang diturunkan, tapi yang ditangkap lebih dari itu. Akibatnya, petugas kewalahan menjaring ratusan pasangan tersebut sehingga mereka hanya dibina di tempat kejadian perkara. “Karena terlalu banyak terpaksa kita bina di tempat,” kata Komandan WH Kota Banda Aceh, Irwanda S.Ag. Continue reading

Mengevaluasi Kinerja BRR

Selain zikir dan doa, tiga tahun tsunami digunakan sejumlah kalangan; LSM, politisi dan pengamat, sebagai hari mengkritisi kinerja Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias. Ini tak bisa dielakkan. Tiga tahun waktu berjalan, sedangkan masih banyak korban tsunami yang tinggal di barak-barak. Di sisi lain, banyak masalah di dalam lembaga super body ini tersaji di depan mata masyarakat.
Mengherankannya, di tengah hujan kritikan dan hujatan Ketua Badan Pelaksana (Bapel) BRR Kuntoro Mangkusubroto, justru menjawab dengan angka-angka statistik tentang capaian kinerja BRR.
Tengoklah angka-angka itu. Sampai akhir November 2007, jumlah rumah baru yang telah terbangun mencapai 102.691 unit dari 120.000 rumah yang harus dibangun. Lahan pertanian yang telah selesai direhabilitasi seluas 64.019 ha dari total yang rusak sebesar 60.000 ha. Panjang jalan yang telah selesai sepanjang 2.191 km dari total kebutuhan 3.000 km. Pelabuhan laut yang telah selesai direhabilitasi dan direkonstruksi sebanyak 17 unit, dari yang rusak sebanyak 14 unit. Bandara/Aistrip yang telah selesai sebanyak 10 unit dari 11 unit yang dibutuhkan. Continue reading

Kesiapan Parlok dalam Menyongsong Verifikasi

Cukup mengejutkan apa yang dilaporkan Kanwil Hukum dan HAM menyangkut kesiapan partai politik lokal (parlok). Hingga kini, dari delapan parlok yang sudah mendaftar, belum satu parlok pun yang telah memenuhi syarat untuk diverifikasi, padahal biaya untuk kepentingan itu sudah cair atas bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias.
Menurut Kepala Bidang Pelayanan Hukum Kanwil Hukum dan HAM Aceh, M. Jailani Mohd. Ali, syarat yang belum dipenuhi antara satu parlok dengan parlok lainnya berbeda-beda (Harian Aceh, 2 Januari 2008).
Syarat-syarat sebuah parlok dapat diverifikasi antara lain, akta notaris yang memuat AD/ART kepengurusan, susunan pengurus kabupaten/kota 50% dan kecamatan 25%, alamat kantor tetap, surat domisili yang dikeluarkan kepala desa, camat atau lurah berlalu dari tingkat kecamatan sampai ke provinsi, bukti sah kantor sekretariat dan logo atau lambang partai.
Boleh jadi, untuk sebagian parlok masalah persyaratan tersebut bukan hal yang sulit. Hanya saja, menganggap sepele masalah ini juga sangat berbahaya bagi parlok itu sendiri sebab bila nantinya gagal verifikasi maka parlok yang bersangkutan tidak bisa mengikuti pemilu 2009 kelak.
Boleh saja kita tidak perlu mencemaskan kondisi itu, sebab masih banyak waktu yang tersedia bagi parlok untuk memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan. Hanya saja, kita patut cemas terhadap satu parlok, yakni Partai GAM yang sampai saat ini belum mengambil satu keputusan bulat mengenai nama dan lambang parlok mereka. Sementara pemerintah pusat sudah mengeluarkan aturan yang melarang lambang dan logo parlok yang ‘bernuansa’ sparatis. Continue reading