SOERHARTO DAN POLITIK ISLAM INDONESIA

Oleh: Fachry Ali
Pengamat Sosial Politik
(Republika, 28 Januari 2008, hlm. 1)

Ahad kemarin, sekitar pukul 13.00, sebelum berangkat, saya melihat sambil lalu running text sebuah stasiun televisi yang mengabarkan kesehatan mantan presiden Soeharto kian kritis. Pukul 13.30 saya mengikuti rapat Elsaf. Pemimpin rapat, Mas Dawam Rahardjo, yang kian kurus tergurus penyakit gula dan ginjal tampak tertidur ketika Habib Chirzin sedang berbicara. Saat itulah sahabat saya, Suharso Monoarfa, anggota DPR Fraksi Persatuan Pembangunan, menelepon, ”Apakah benar Pak Harto sudah meninggal?” Jawaban saya — berdasarkan running text yang sempat saya baca beberapa saat lalu — ”Belum. Hanya sangat kritis.” Beberapa menit kemudian, Komala, sekretaris Mas Dawam, masuk ke ruang rapat mengabarkan meninggalnya mantan orang terkuat di Asia itu.
Saat itu, sms dari Pak Slamet, mantan direktur SDM PT Perkebunan VIII Jawa Barat, masuk menyampaikan kabar duka itu. Rapat tentang masa depan Elsaf, sama sekali tidak terganggu dengan berita dan sms itu. Pukul 16.00 rapat usai. Dalam perjalanan pula, Wakil Pemred Republika, Nasihin Masha, meminta saya menulis tentang ”Soeharto dan Islam di Indonesia” dan, perintahnya, ”Harus selesai pada pukul 20.00.”
Ketika sampai di rumah, sambil mengatur strategi pembagian waktu antara istirahat terlebih dahulu — karena malam sebelumnya saya main pingpong hingga pukul 03.00 pagi — atau langsung bekerja, saya menerima sms dari anggota DPR dari Fraksi Amanat Nasional, Afni Ahmad. Bunyinya, ”Selamat jalan Pak Harto, jasamu tetap kami kenang, kesalahanmu akan menjadi pelajaran yang berharga, agar kami amanah dalam kekuasaan.”
Bersiap untuk tidur menunggu magrib, mata yang sudah temaram ini kembali terbuka melihat berita Metro TV. Diselingi laporan suara Sugeng Suprawoto, saya melihat rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla sedang melayat di rumah duka. Semuanya — kecuali Menteri Keuangan, Sri Mulyani; Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu dan Mensesneg, Hatta Rajasa — adalah tokoh-tokoh yang pernah bersentuhan dengan kekuasaan Presiden Soeharto, secara langsung atau tidak. Dan yang membuat suasana sedikit sendu adalah lantunan kalimah ”Lailaha ilallah” dengan gema berkesinambungan. Format suasana keagamaan dengan sendirinya terbentuk.
Saya tertidur hingga magrib menjelang. Seusai shalat, lantunan kalimah ”Lailaha ilallah” itu masih melekat dalam struktur ingatan ketika laptop saya buka untuk menulis risalah ini. Sebab, bukankah kalimah semacam itu secara simbolis tak pernah terdengar sepanjang awal dan pertengahan kekuasaan Soeharto sejak akhir 1960-an hingga akhir 1980-an? Pertarungan kekuasaan awal Orde Baru bukan saja ditandai oleh perlawanan sisa-sisa kekuatan mantan presiden Soekarno melawan Soeharto. Bukan cuma penghapusan pengaruh komunis serta perebutan wacana antara pembangunan ekonomi pragmatisme berhadapan dengan gagasan ekonomi nasionalisme, seperti disuarakan Sarbini Sumawinata, melainkan juga ditandai ketegangan negara sekular dengan hasrat politik sisa-sisa kekuatan Masyumi dan Darul Islam (DI). Sebagai partai modern, Masyumi di satu pihak, memperjuangkan politik demokratis dengan warna Islam. Sementara DI berhasrat mendirikan negara Islam. Tetapi bagi penguasa Orde Baru, terutama karena keterlibatan tokoh Masyumi dalam gerakan PRRI akhir 1950-an, kedua hasrat tersebut disatukan.
Sebagai konsekuensinya, politik Orde Baru hingga akhir 1980-an bukan saja bersifat anti-ideologi, melainkan juga mempraktikkan gagasan Snouck Hurgronye dalam menaklukkan Aceh: membiarkan kalangan Islam melaksanakan ibadah secara teknis dan memberangus setiap orang atau kelompok yang mempunyai gagasan tentang politik Islam.
Politik Islam Orde Baru hingga akhir 1980-an itu, dengan demikian, pada hakikatnya adalah usaha memapankan sebuah negara sekular melalui perlindungan angkatan bersenjata dan intelejen dengan legitimasi pembangunan ekonomi. Dan karena gagasan politik Islam tak sejalan dengan sekularisme negara pembangunan (developmental state), maka usaha menjinakkannya, selain menekan, harus dilakukan.
Inilah, antara lain, yang mendorong proyek amalgamasi berbagai partai politik Islam pada awal 1980-an. Kelahiran Partai Persatuan Pembangunan (PPP), selain PDI, berlangsung dengan latar belakang motivasi ini. Akan tetapi, tanpa diketahui dengan persis motifnya, tiba-tiba pada 1989, Presiden Soeharto tampil sangat demonstratif dengan simbol keislamannya. Pada sebuah upacara hari anak, direkam TVRI secara langsung, ia mengundang beberapa kanak-kanak untuk membaca surah Al-Fatihah bersama-sama. Dalam suana politik di mana panggung publik dikuasai sepenuhnya oleh negara, penayangan ini bukan saja atraktif, melainkan juga menggambarkan pergeseran politik Islam Orde Baru.
Jika sebelumnya lambang Ka’bah tak diperkenankan digunakan PPP sejak pemilu 1987, sementara dami latihan kemiliteran selalu menggambarkan Islam politik sebagai musuh, kini jantung kekuasaan Orde Baru yang sekular itu secara publik melafal surah Al-Fatihah. Sebuah demonstrasi yang mengisyaratkan simbolisasi Islam dalam upacara resmi kenegaraan. Tak mengherankan kemudian, jika negara, di bawah proteksi politik Presiden Soeharto, mensponsori berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada 1990.
Dalam konteks ini, pendirian organisasi tersebut tak berpreseden dalam perspektif politik sekular negara di bawah Orde Baru. Dan karena itu, jauh dari harapan banyak pendukung sekularnya di masa lalu, pergeseran kebijakan Soeharto ini mengejutkan. Pasalnya adalah karena melalui ICMI yang dipimpin BJ Habibie tersebut telah menjadi tangga di mana kalangan santri secara masif terakomodasi ke dalam negara. Euphoria terbuka lebarnya gerbang kekuasaan bagi kalangan santri ini menyentak kesadaran historis tentang betapa hanya di bawah Soehartolah jeratan kesejarahan yang membelit kaki kaum santri untuk maju (ke dalam kekuasaan) sejak zaman kolonial ratusan tahun lalu telah terpotong. Dan tahapan perubahan politik Islam Orde Baru ini memang decisive.
Melalui krisis moneter 1997/1998, kekuasaan Soeharto dan Orde Baru tumbang. Akan tetapi, aspirasi politik santri yang mengalami proses institusionalisasinya pada jaringan kekuasaan negara dan politik justru mengalami konsolidasi. Sisa kekuatan Masyumi, DI, bersama dengan angkatan sarjana baru berlatarbelakang budaya santri dalam jumlah massive telah menjadi pendukung ICMI. Dan karena Habibie terpilih menjadi wakil presiden pada 1997, praktis secara konstitusional menggantikan posisi Soeharto sebagai presiden. Untuk pertama kalinya, walau dalam waktu singkat, kaum santri terpelajar menguasai kekuasaan negara, mulai dari middle range layer hingga puncaknya, ketika ketua umum ICMI, Prof BJ Habibi,e menjadi Presiden Republik Indonesia yang ketiga.
Kini, walau tak menjadi the core part of power, sisa-sisa aktivis ICMI telah menjadi pemeran penting dalam negara ini. Dan karena berlatarbelakang profesionalisme, pengaruh ini tak mudah hilang. Terutama karena baik Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla adalah tokoh-tokoh yang juga pernah aktif di dalam organisasi tersebut.
Namun tetap saja, misteri yang harus dipecahkan adalah pertanyaan mengapa Presiden Soeharto, tanpa apa-apa, muncul membaca surah Al-Fatihah bersama kanak-kanak pada 1989 itu, sebagai simbol akomodasi Islam ke dalam kekuasaan negara? Ada yang mengatakan karena ia tak lagi bisa mengontrol kaum militer dan karena itu membutuhkan dukungan massive dari kalangan Islam. Spekulasi ini mungkin benar. Tetapi di dalam sejarah Jawa, sebelum mangkat, Sultan Agung memerintahkan pembangunan pasarean Imogiri. Alasannya, seperti dinyatakan sejarawan Anthony Reid, karena ia ingin dikubur di daerah perbukitan, seperti juga para wali Jawa lainnya. Lantunan kalimah Lailaha ilallah yang mengiringi mangkatnya Presiden Soeharto, dalam beberapa hal mengingatkan kita pada Sultan Agung itu. ( )

One Response

  1. bagus banget tulisannya
    ternyata masih ada sesuatu yg menarik untuk dibahas tentang mantan presiden terkuat kita ini
    benar juga dibalik mendung biasanya terpendam secercah cahaya harapan
    semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: