Kejagung: Data Kita Berbeda dengan ”TIME”

Oleh
Rafael Sebayang/
Rikando Somba

Jakarta – Putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan kasasi yang diajukan mantan Presiden Soeharto terhadap majalah TIME Asia telah sampai ke telinga mantan penguasa Orde Baru (Orba) itu. Soeharto sangat senang dan menyatakan rasa gembira ketika kabar tersebut disampaikan kepadanya.
Hal ini disampaikan OC Kaligis, salah satu dari anggota tim pengacara Soeharto kepada SH, Senin (10/9) petang. “Bapak (Soeharto-red) sangat senang dan tersenyum-senyum waktu kita sampaikan berita itu. Demikian juga keluarga besar merasa sangat gembira mendengarnya,” papar Kaligis.
Sebaliknya, pihak TIME Asia belum memutuskan langkah hukum apa pun terkait putusan ini. Kuasa hukum majalah TIME, Todung Mulya Lubis, mengatakan kepada SH, Selasa (11/9), pihaknya akan melihat dulu salinan putusan kasasi ini.
“Saya belum menerima salinan putusan kasasi tersebut. Jadi, kita belum mengambil keputusan apapun sekarang ini,” kata Todung Mulya Lubis yang melakukan konferensi pers di Jakarta, Selasa siang.
Sementara itu, ketika ditanyakan perihal salah satu bukti yang digunakan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam gugatan negara terhadap Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, adalah estimasi kekayaan seperti yang dipublikasikan TIME Asia beberapa waktu lalu, OC Kaligis tidak banyak berkomentar.
Kaligis hanya memberi gambaran bahwa Kejagung menggugat Tommy secara perdata atas perintah pengadilan Guernsey dalam kasus BPPC, namun ternyata semuanya tidak masalah dan sudah dilunasi oleh Tommy.

Kejagung Optimistis
Di sisi lain, Direktur Perdata dan Tata Usaha Negara Kejagung Yoseph Suardi Sabda kepada SH membantah pemberitaan TIME Asia menjadi salah satu bukti dalam gugatan negara di terhadap Tommy di pengadilan Guernsey. Adapun kliping pemberitaan majalah asing ini, menurut Yoseph, digunakan tak lebih ilustrasi semata.
Yoseph lantas menjelaskan bahwa data-data yang digunakan Kejagung dalam gugatan tersebut di antaranya bersumber dari data yang diperoleh dari Indonesian Corruption Watch, auditor independen Price Waterhouse Cooper, serta data dari IMF.
“Pemberitaan TIME itu kita gunakan hanya sebagai ilustrasi saja, karena kita sadar informasinya bersumber dari kata-kata orang,” kata Yoseph.
Menanggapi sikap optimisme dalam gugatan terhadap Soeharto dan Yayasan Supersemar, terlebih setelah MA memenangkan Soeharto dalam kasus TIME Asia, Yoseph menandaskan hal tersebut tidak berpengaruh satu sama lain.
Keyakinan atas bukti-bukti yang dimiliki Kejagung dalam kasus Supersemar adalah sesuatu yang mendasar dan membedakannya dengan kasus Soeharto versus Time.
“Kasus TIME datanya kan dari mulut orang. Data yang kita punya sangat kuat. Kita jalan di atas rel dan keyakinan kita,” ujarnya.
Sementara itu, proses mediasi antara pemerintah dengan Yayasan Beasiswa Supersemar dan mantan Presiden Soeharto benar-benar gagal mencapai kesepakatan.
Ketua tim Jaksa Pengacara Negara (JPN) Dachamer Munthe menjelaskan pihak tergugat dalam upaya mediasi enggan memenuhi substansi yang dimintakan pihaknya, yakni menyangkut penyerahan aset dan perbuatan melawan hukum, sehingga proses perundingan mengalami kebuntuan alias deadlock. Sidang perdana gugatan pemerintah terhadap Soeharto akan digelar pada 24 September mendatang.
Pemerintah melalui JPN menggugat Yayasan Beasiswa Supersemar dan mantan Presiden Seoharto terkait dugaan penyelewengan dana pada yayasan tersebut. Kejaksaan menuntut pengembalian dana yang disalahgunakan senilai US$ 420 juta dan Rp 185 miliar. Ganti rugi immateriil senilai Rp 10 triliun.
Putusan kasasi atas kasus TIME Asia, diputuskan MA akhir bulan lalu. MA mengabulkan gugatan Soeharto yang menuntut ganti rugi material Rp 280 juta dan immateriil Rp 1 triliun atas pemberitaan yang dinilai mencemarkan nama baik penguasa Orde Baru tersebut.
Sebelumnya, gugatan Soeharto terhadap TIME Asia dikalahkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 6 Juni 2000. Pun, Majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta yang diketuai Gde Soedharta dalam putusannya tanggal 16 Maret 2001, menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat itu.
Gugatan Soeharto terhadap Time ini untuk pertama kali disidangkan pada 12 April 2000 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Gugatan berihwal dari artikel bertajuk Soeharto Inc. How Indonesia’s Longtime Boss Built a Family Fortune pada terbitan edisi 24 Mei 1999. Artikel tersebut berisi tentang kekayaan mantan Presiden Soeharto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: