HMS WAFAT

soeharto_dalam_bulan_bintang_media.jpg

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, Mantan Presiden Soeharto akhirnya tutup usia pada hari Ahad, 27 Januari 2008 Pukul 13.10 WIB di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) setelah menjalani perawatan dan masa kritis selama 25 hari, terhitung sejak 4 Januari 2008.
Pemerintah dalam pernyataan pers yang disampaikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan rasa belasungkawa yang mendalam sekaligus menetapkan hari berkabung selama 7 hari serta menginstruksikan pengibaran bendera merah putih setengah tiang di kantor – kantor pemerintah dan kantor perwakilan RI di luar negeri.Sejak dinyatakan kritis tercatat banyak pejabat , mantan pejabat, kawan dan bahkan lawan politik Pak Harto yang berdatangan membesuknya, tidak ketinggalan kolega dan sahabat sesama mantan pemimpin Asean seperti Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kwan Yew, Mantan Perdana Menteri Malaysia Datuk Doktor Mahathir Muhammad dan Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darussalam beserta rombongan yang menyempatkan datang untuk mengungkapkan rasa simpati atas makin memburuknya kondisi kesehatan mantan penguasa orba tersebut.Selama masa kritis hingga tutup usia pada hari ini, perhatian masyarakat, media massa cetak dan elektronik baik dalam dan luar negeri cukup besar, hampir semua stasiun televisi berlomba – lomba membuat liputan khusus secara live dan ekslusif. Tidak berlebihan kiranya jika pada kesempatan ini Bulan Bintang Media juga menghadirkan catatan – catatan khusus mengenai mantan presiden Soeharto.

Putra Desa, Dari Tentara Menuju Istana

H.M Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Lahir di Kemusuk, Kab. Bantul Yogyakarta pada tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.
Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro dengan menitipkan Soeharto kepada adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.Memulai karir militer dengan menjadi siswa sekolah bintara KNIL di Gombong, Jawa Tengah. Pada tahun 1941, Soeharto muda akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan dengan pangkat sersan, pada masa pendudukan jepang bergabung dengan PETA dan menjadi komandan resimen dengan pangkat Mayor, karirnya menanjak cepat dan sempat menjadi pengawal Panglima Besar Soedirman hingga menduduki jabatan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Perkawinan Letnan Kolonel Soeharto dengan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Keduanya kemudian dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Catatan Karir ketentaraan Soeharto yang menonjol adalah keberhasilan dalam memimpin pasukannya merebut kembali Yogyakarta pada serangan umum 1 Maret 1949, Menjadi Panglima Komando Operasi Mandala dalam pembebasan Irian Barat serta terpenuhinya tuntutan rakyat untuk Pembubaran PKI setelah Soeharto berhasil mengambil alih pimpinan Angkatan Darat dan bersama rakyat menumpas PKI hingga ke akar – akarnya. Catatan diatas tidak menutup terdapatnya banyak versi yang berbeda terhadap peristiwa – peristiwa penting tersebut khususnya tentang kontrovesi SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret) yang dipercaya menjadi pemulus langkah Soeharto dari tentara menuju Istana.

Demokrasi Terpimpin Jilid 2

Demokrasi Pancasila yang didengung – dengungkan oleh Soeharto sejak resmi menjabat sebagai presiden RI kedua perlahan tapi pasti menunjukkan “wajah” sebenarnya yang “berdarah –darah”, gerakan dan geliat politik dikebiri oleh Azas Tunggal Pancasila, Demokrasi terpasung tanpa adanya kekuatan penyeimbang, sementara kekritisan dan vokalitas (media dan personal) menjadi sasaran pemberangusan dengan dalih menciptakan “stabilitas” dan iklim yang kondusif untuk menggerakan roda – roda pembangunan.
Sehingga Demokrasi “semu” yang tercipta pada akhirnya menjadi Demokrasi Terpimpin Jilid 2 dengan tiga pilar utama penyangga yakni ABRI, Birokrasi dan Golkar yang belakangan berkembang dan menumbuh suburkan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) selama 32 tahun masa kepemimpinan Soeharto.

Bapak Pembangunan dan Jenderal Besar

Diakui atau tidak, di masa pemerintahan Pak Harto pijakan Pembangunan Nasional terencana secara jelas, terarah dan bertahap melalui Program Repelita dengan Trilogi Pembangunannya. Sektor Pertanian dan isu kerawanan pangan menjadi prioritas utama walhasil Indonesia mampu membalikkan sejarah dari negara pengimpor beras terbesar menjadi negara yang sukses melaksanakan revolusi hijau (Intensifikasi dan Diversifikasi Pertanian) dan meraih swasembada beras. Masalah Kependudukan yang padat dan terpusat di Jawa – Bali menjadi perhatian, Pemerintah berhasil menggulirkan Program Keluarga Berencana untuk menekan ledakan jumlah penduduk dan Program Transmigrasi untuk menyebarkan penduduk. Stabilitas Keamanan Nasional dan Regional menjadi isu bersama yang diwujudkan dengan mendirikan ASEAN sehingga memicu terjadinya investasi besar – besaran untuk memacu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Stabilitas Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta Sembilan Kebutuhan Pokok (Sembako) relatif terkendali, dan hampir di semua sektor, pembangunan mulai menapaki kemajuan yang berarti.

Atas dasar itulah Pak Harto dijuluki sebagai “Bapak Pembangunan Nasional” dan belakangan julukan itu bersanding dengan predikat “Jendral Besar”. Menjelang Medio tahun 1998 Presiden Soeharto meletakkan jabatan (lengser keprabon) pada tanggal 21 Mei 1998 setelah kekuasaannya diguncang oleh gerakan reformasi mahasiswa yang dipicu krisis ekonomi dengan tuntutan pergantian kepemimpinan nasional, penghapusan dwi fungsi ABRI dan pemberantasan KKN. Gerakan Mahasiswa pada 1998 merupakan gerakan mahasiswa terbesar yang menandai lahirnya perubahan dari periode masa orde baru menuju orde reformasi.

Satu Lagi Pelaku Penting Sejarah Telah Tiada.

Sejak dinyatakan wafat, para pelayat membanjiri kediaman mantan presiden soeharto di Jalan Cendana, para kerabat, tamu – tamu penting, pejabat dan mantan pejabat, presiden dan mantan presiden (SBY dan Gus Dur) dan banyak warga masyarakat yang bertakziyah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mantan penguasa orde baru tersebut.

Dari Persemayaman di Jalan Cendana rencananya hari ini jenazah akan diterbangkan menggunakan Pesawat Hercules Khusus milik TNI – AU dari Bandara Halim Perdana Kusuma menuju Bandara Adi Sumarmo di Solo, selanjutnya jenazah akan dibawa menuju peristirahatan terakhir yang telah disiapkan berdampingan dengan makam sang isteri Siti Hartinah (Ibu Tien Soeharto) di Komplek Pemakaman Astana Giri Bangun di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah yang konon dibangun diatas Bukit Bangun dengan ketinggian 666,6 meter yang secara simbolik melambangkan jumlah ayat – ayat suci Al Qur’an.

TNI – AU diberitakan juga menyiagakan 7 Pesawat untuk mendukung prosesi pemakaman yang dipimpin langsung oleh Presiden SBY, Sepanjang perjalanan jenazah dari rumah duka menuju bandara halim maupun sepanjang jalan dari bandara adi sumarmo menuju astara giri bangung, ribuan warga masyarakat membanjir, tumpah ruah ingin memberikan penghormatan terakhir kepada mantan presiden yang penuh kontroversi itu.

The Smiling General “Soeharto” telah tutup usia, kepergiannya mengingatkan kita pada wafatnya sang proklamator “Soekarno”, keduanya meninggal dunia dengan status hukum yang “sama – sama” belum tuntas dan jelas. Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyelimuti, kita Bangsa Indonesia kehilangan satu lagi pelaku penting sejarah menyisakan jalan panjang yang tetap terbentang bagi upaya pelurusan sejarah bangsa, Selamat Jalan Pak Harto semoga jalanmu lapang disisi-NYA.

(Ditulis oleh Badrut Tamam Gaffas : dari berbagai sumber)
soeharto_dalam_bulan_bintang_media.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: