H.M. Soeharto: Nyatanya, Saya Tidak Korupsi

Matahari belum sepenggalah ketika H.M. Soeharto berjemur di pekarangan rumahnya di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pertengahan Ramadan lalu. Di pagi cerah itu, Pak Harto, 86 tahun, menghangatkan tubuhnya dengan duduk menyandar di kursi taman. Usai bermandi cahaya matahari, ia kemudian berjalan ke ruang keluarga.

Langkahnya tertatih-tatih. Tak sampai 10 meter berjalan, Pak Harto sudah tampak kelelahan. Napasnya tersengal. Tubuhnya pun tampak terhuyung, tapi dengan cepat dipegang oleh pengawalnya ketika mengulurkan tangan untuk menyalami tim Gatra yang datang. Toh, ia menyebut kesehatannya tidak ada masalah. “Saya baik-baik saja,” katanya seraya melempar senyumnya yang khas.

Namun tampaknya dua kali serangan stroke, ditambah usianya yang semakin lanjut, membuat kondisinya jauh menurun. Tangannya tak berfungsi normal. Bahkan, pada saat akan duduk di kursi, Pak Harto harus sering dibantu pengawal setianya, Letkol (purnawirawan) I Gusti Nyoman Sweden, 61 tahun.

Purnawirawan polisi militer itu bertugas di ring satu Cendana sejak berpangkat letnan. “Sudah 20 tahun saya mengawal Bapak,” tutur Sweden, yang menjelang H.M. Soeharto lengser pada Mei 1998 menjabat sebagai Komandan Detasemen Pengamanan Khusus, satuan pada Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang ditempatkan di ring satu.

Sehari-hari, kini Sweden menemani Pak Harto mulai subuh hingga malam. Tak mengherankan bila ia lebih sering menginap di Jalan Cendana ketimbang pulang ke rumah pribadinya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur. Sweden merasa tak enak hati bila terlalu sering meninggalkan Cendana.

Tak banyak perwira mantan Paspampres yang berada di sekitar Pak Harto. Sebagai mantan presiden, semestinya Pak Harto berhak mendapat pengawalan anggota Paspampres aktif. Tapi tak ada lagi yang ditempatkan di sana.

Kini dia hanya dijaga 10 pensiunan Paspampres, termasuk Sweden. Yang lain adalah satpam sebanyak 15 personel yang bertugas secara bergiliran. Keadaan ini berbeda dari para penerusnya, baik B.J. Habibie, Gus Dur, maupun Megawati Soekarnoputri, yang masih mendapat pengawalan personel militer aktif.

Ditemani Nyoman Sweden, mantan Presiden Soeharto menerima tim Gatra untuk sebuah wawancara. Ini kali pertama Pak Harto bersedia ditemui pers sejak lengser pada Mei 1998. Wawancara berlangsung di ruang keluarga kediamannya, yang disekat dari ruang makan oleh rana kayu jati berhiaskan ukiran kulit sosok Pandawa Lima.

Ruang keluarga itu tampak sederhana untuk ukuran rumah seorang mantan presiden. Langit-langit ruangan itu terlampau pendek, membuat sirkulasi udara di dalamnya terasa terbatas. Tak terlihat perabotan baru. Satu-satunya perkakas yang terbilang keluaran abad ke-21 hanyalah televisi layar datar 36 inci merek Samsung, ditambah sebuah jam meja berbentuk bundar bertuliskan “Peringatan 1.000 Hari Wafatnya L.B. Moerdani”.

Di luar itu, semuanya stok lama. Ada satu set sofa dengan bingkai kayu jati ukiran khas Jepara. Ada juga meja ukir dengan beberapa toples. Isinya makanan ringan, seperti keripik tempe, pisang sale (semacam keripik pisang), emping melinjo, dan kacang mete. Sebuah keranjang buah ada juga di sana, berisi buah duku yang sebagian besar kulitnya sudah menghitam.

Mantan Presiden Soeharto duduk membelakangi rana. Usia sepuh, ditambah kondisi fisik yang semakin renta, membuatnya tak mampu lagi duduk tegak. Ia selalu menyandarkan badan di kursi.

Pak Harto juga selalu kesulitan berbicara atau gagap pada saat mengawali ucapan. Ia seperti kesulitan memilih kata-kata. Kalaupun sempat mengucapkan kalimat panjang, hampir selalu ditutup dengan suara batuk-batuknya. Pedengarannya makin terbatas, Karena itu, tim Gatra yang terdiri dari Putut Trihusodo, Heddy Lugito, dan Herry Mohammad harus “setengah berteriak” ketika mewawancarainya. Pak Harto pun hanya menjawab dengan kalimat-kalimat pendek. Petikannya:

Apakah kesehatan Bapak sekarang cukup baik?
(Mantan Presiden Soeharto hanya tersenyum. Tidak menjawab sepatah kata pun).

Bapak baik-baik saja?
Saya baik-baik saja.

Bapak masih sempat mengurus yayasan-yayasan yang dulu Bapak dirikan?
Dhar, Dhar… Dharmawis (maksudnya Dharmais) itu bantu orang miskin (Pak Harto sering gagap pada saat mengawali ucapan). Bantu orang tua jompo operasi mata.

Tahun ini, Yayasan Dharmais masih menyalurkan bantuan? Berapa besar?
(Pak Harto tidak menjawab. Ia mengangkat kepala, lalu menyandarkannya kembali di bantalan kursi. Beberapa saat kemudian, ia memencet tombol bel di meja kecil, di samping tempat duduknya. Sweden bergegas mendekat. Lalu tangan Pak Harto menunjuk ke arah tumpukan berkas di meja sambil mengucapkan, “Dharmais, Dharmais, laporan….” Sweden segera mengambil berkas itu dan menyerahkannya pada Pak Harto).

(Berkas itu adalah laporan penyaluran dana Yayasan Dharmais yang diterima pada hari itu juga. Setelah mencermati berkas itu, Pak Harto kemudian memberikannya kepada Gatra. Isinya menyebutkan, selama tahun 2007 Yayasan Dharmais menyalurkan dana sebesar Rp 32 milyar).

Disalurkan ke mana?
Seribu… seribu seratus… (Pak Harto masih terus menatap angka-angka di map tersebut sambil berpikir keras. “Seribu lima ratus lima puluh panti asuhan dan panti jompo,” Sweden membantu membacakan. Ia juga menunjukkan data bahwa bantuan itu jatuh ke 47.500 anak yatim piatu dan orang tua jompo yang tersebar di 1.550 panti di seluruh Indonesia. Yayasan Dharmais pun membiayai operasi katarak dan bibir sumbing warga miskin).

Dari mana sumber dana Yayasan Dharmais itu?
Penghasilan Dharmais itu dari rente.

Bunga bank?
Ya, bunga dana abadi. Seluruhnya dari rente untuk menghidupkan yayasan.

Kalau begitu, dana abadi milik yayasan itu tidak akan habis?
Ya. Umpamanya dipakai 7%, sisanya 30% disimpen.

Maksudnya, dari bunga dana abadi itu, yang dipakai 70%, kemudian yang 30% disimpan?
Apa namanya, 30% disimpen. Lantas 70% disimpen, biar tambah terus. Kontinu, membantu orang miskin. (Tampaknya Pak Harto kesulitan menjawab pertanyaan panjang. Jawabannya sering tidak klop dengan persoalan yang ditanyakan).

Jadi, Bapak menginginkan yayasan itu terus-menerus memberi bantuan?
Ya. Kontinu, terus.

Yayasan lainnya apa saja?
Ada tujuh. Supersemar mengatasi kemiskinan. (Sebenarnya Yayasan Supersemar begerak di bidang pendidikan. Boleh jadi, Pak Harto kini sudah lupa tentang fungsi dan peran masing-masing yayasan yang didirikannya).

Selain Yayasan Supersemar, yayasan apa lagi?
Lantas itu, Dharmais, Mandiri, Gotong Royong, YAM (Yayasan Amal Bhakti Muslim) memberi bantuan masjid.

Apakah Yayasan Amal Bhakti sekarang masih bisa membangun masjid?
Tinggal 33 yang belum. Kompletnya 999, nanti tahun 2009.

Kalau sudah 999, apa masih akan membangun masjid lagi?
Mem, mem… membangun lagi. Ada lagi, terus saja.

Akan membangun masjid sampai berapa jumlahnya?
Membangun satu, satu, satu lagi, sampai 999. Nyambung terus.

Mengapa harus 999?
Sembilan, sembilan, sembilan dibagi-dibagi jadi 99. Itu asmaul khusna (99 adalah nama-nama keagungan Tuhan dalam ajaran Islam).

Yayasan Dakab juga masih melakukan kegiatan?
Dakab mengentasken kemiskinan. Keseluruhannya mengentasken kemiskinan.

Ada yayasan yang bergerak di bidang pertanian?
Ada juga.

Karena Bapak ahli pertanian, ya? (Pertanyaan diulang dua kali)
He, he, he… cita-citanya. Cita-citanya itu. Yayasan pertanian, apa namanya, Mekar Sari. Oleh Mamiek (putri bungsu Pak Harto) dikembangken jadi pembibitan buah. Eh, apa namanya, luasnya dua, dua, 250 hektare.

Apakah pengurus yayasan memberikan laporan rutin?
Ada laporan. Ada tanggung jawab.

Masih sempat hadir dalam rapat yayasan?
Saya hadir, akan tetapi tempo-tempo.

Berapa besar dana yang disalurkan seluruh yayasan per tahunnya?
Ehm, ehm, ehm… (Pak Harto terbatuk-batuk). Dharmais itu untuk pendidikan, kebudayaan (Pak Harto lupa bahwa Yayasan Dharmais bergerak di bidang kesehatan dan batuan sosial).

Jumlah dana yang disalurkan berapa?
Itu ditanyaken pada Yono (maksudnya Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan Menteri Kependudukan, kini menjadi Ketua Harian Yayasan Dharmais).

Ketika dituduh melakukan korupsi, apakah Bapak merasa sakit hati?
He, he, he… biarken saja. Biarken ngomong, pating celomet. Biarken saja disangka korupsi. Nyatanya, saya tidak korupsi. Lantas saya dikasih satu trilyun.

Satu trilyun karena menang gugatan terhadap majalah Time. Akan digunakan untuk apa uang itu?
Kalau sudah dibayar, apa namanya, untuk pajak 350%.

Maksudnya 350 milyar atau 35% untuk membayar pajak?
Ya, ya. Sisanya untuk bantu orang miskin.

Tapi, sisanya kan masih banyak?
He, he, he… sugih dadakan (kaya mendadak). He, he, he… semua disumbangkan fakir miskin.

Apa benar Bapak punya tanah di mana-mana?
He, he… ndak benar.

Tanah di Tapos itu atas nama pribadi atau yayasan?
Tanah pemerintah, hak guna usaha. Dipakai mengembangken domba dan sapi untuk rakyat. Apa namanya, anak sapi dan kambing itu diberikan rakyat.

Bapak juga dikabarkan punya simpanan uang di bank Swiss? (Pertanyaan diulang dua kali)
Ndak benar itu (berhenti sebentar). Saya sudah bikin kuasa (surat kuasa). Kalau ada, biar untuk rakyat. Tapi, nyatanya, ya, ndak ada.

Atau mungkin disimpan di bank lainnya di luar negeri?
(Pak Harto tak langsung menjawab. Ia melihat dulu ke Nyoman Sweden. “Ndak ada simpenan di luar,” kata Pak Harto).

Bapak masih sering menonton televisi?
Tempo-tempo.

Acara televisi apa yang paling sering ditonton?
Badut-badutan, pelawak, Srimulat, Tukul, he, he, he….

Suka film atau sinetron?
Dulu itu ada Angling Dharma, Jaka Tingkir, sekarang ndak ada.

Acara olahraga?
Tinju. Dulu, apa namanya itu, banting-bantingan… smackdown (Pak Harto menirukan Nyoman Sweden). Sekarang sepak bola.

Apa kegiatan lain untuk mengisi waktu senggang?
Berdoa. Membaca ini (Pak Harto menunjukkan selembar kertas berisi catatan sejumlah doa dan zikir. Antara lain berbunyi, “Laa khaula walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim“, yang artinya, “Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas izin Allah”).
[Laporan Utama, Gatra Nomor 50 Beredar Kamis, 22 Oktober 2007] [Sumber: gatra.com/artikel.php?id=109228]

——————

Selamat jalan Hj. Mohammad Soeharto, kami sangat kehilangan. Terutama semangat, jiwa kebapakan dan pelindung rakyat kecil seperti kami ini. Semoga semua dosa2nya terampuni dan diterima disisiNya.
Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: