Soeharto, Mengapa Begitu Kuat?

PADANG EKSPRES

Selasa, 15 Januari 2008

Oleh : Muhammad Taufiq, Ketua DPC Peradi dan Ikadin Kota Surakarta 
Meski telah satu dasawarsa tidak lagi menjabat presiden, ”kharisma” Soeharto ternyata masih amat besar. Terbukti sakitnya mantan presiden yang berkuasa 32 tahun itu tetap mendapat perhatian publik nasional dengan berita yang selalu menjadi head lines di media cetak, elektronik maupun online. Seolah-olah rakyat ingin mengetahui perkembangan detik per detik mantan pemimpinnya tersebut. Padahal, jika Soeharto sampai wafat, tidak begitu signifikan dengan nasib mayoritas rakyat Indonesia yang masih miskin. Jika berpedoman pada kriteria World Bank dengan patokan makan USD 2 per orang per hari, jumlah penduduk miskin 49,5 persen atau 108 juta orang dari 220 juta penduduk Indonesia. Jika berpedoman pada Badan Pusat Statistik (BPS) dengan patokan makan hanya Rp170 ribu per bulan per orang, jumlah penduduk miskin hanya 37,7 juta orang.

Namun, yang jelas, saat ini Indonesia masih tergolong negara miskin dan GNP per kapitanya hanya bisa disejajarkan dengan Vietnam. Sesungguhnya rakyat miskin tidak peduli apakah Soeharto akhirnya sembuh atau wafat. Yang penting bagi mereka adalah kesejahteraan meningkat dengan mampu membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Dengan demikian, mengapa sekarang berita tentang sakitnya Soeharto begitu gencar di media massa, padahal tidak akan berpengaruh signifikan terhadap nasib rakyat miskin di Indonesia? Jelas kematian Soeharto akan berdampak pada konfigurasi kekuasaan elite politik nasional, apalagi menjelang pemilu dan pilpres. Meski sudah tidak berkuasa, Soeharto masih memiliki pengaruh cukup kuat dalam perpolitikan nasional. Apalagi, presiden dan wakil presiden adalah mantan murid-murid Soeharto di ABRI dan Golkar dulu. Kedua institusi kekuasaan itulah, selain birokrasi, yang menjadi pilar utama penyokong kekuasaan Orba selama 32 tahun. Tanpa ketiganya yang berbaju militer dan sipil, sulit kekuasaan mampu bertahan amat lama di bumi Nusantara. Continue reading

Advertisements

KHUTBAH

 Intisari Khutbah Jum’at tanggal, 01 Februari 2008 M / 23 Muharram 1429 H )

Oleh : Prof.DR.H. Bambang Pranowo, MA

Hari ini adalah hari Jum’at enam hari wafatnya presiden ke dua Republik Indonesia H.Muhammad Soeharto. Tentu banyak komentar tentang beliau tetapi sebagai orang beriman kita tentu tidak boleh mengungkit-ungkit hal-hal yang negatif tentang beliau tetapi marilah kita kenang apa yang telah dilakukan oleh beliau yang jasanya sungguh sangat besar bagi perkembangan agama Islam di negeri ini. Kita harus merenungkan kembali tuntunan Rasulullah sebagaimana tercantum dalam shohih Bukhari dalam Kitabul Jana’is

 :لاَ تَشُبُّوْا اْلاَمْوَاتَ فَاِنَّهُمْ قَدْ اَفْضَوا اِلَى مَا قَدَّمُوْا

Janganlah kamu mencerca orang-orang yang sudah meninggal karena sungguh mereka itu telah sampai kepada tujuan mereka” (HR.Bukhari). Sejalan dengan hadits ini, itu kita akan mengenang jasa-jasa beliau yang terkait dengan kehidupan beragama di negeri ini. Barangkali kita masih ingat masa-masa sebelum tahun 1965 ketika itu partai komunis sangat jaya, ketika  itu bangsa kita terkotak-kotak karena memang pada waktu itu konon Pancasila itu bisa diperas menjadi Tri Sila (tiga sila) dan tiga sila itupun bisa diperas lagi menjadi NASAKOM, Nas : Nasionalis, A : Agama, Kom : Komunis. Memang pelaksanaan dari NASAKOM ini menimbulkan dampak yang luar biasa tujuannya adalah untuk menyatukan seluruh elemen bangsa tetapi dalam praktek yang terjadi adalah terpecah-pecah bangsa kita apalagi umat Islam. Nasionalis yang pada waktu itu hanya semangat nasionalis milik partai nasionalis terutama PNI, agama seolah-olah hanyalah milik partai Islam khususnya Nahdatul Ulama, komunis adalah PKI. Karena golongan agama identik dengan partai Islam maka seolah-oleh mereka yang mendukung partai nasionalis bukanlah orang Islam apalagi mereka yang komunis. Umat Islam yang konon 90 % dalam prakteknya kemudian terpecah belah dengan nasionalis dan komunis tadi, apalagi yang terjadi pada tahun 1965 adalah makin merajalelanya kaum komunis yang memang dasarnya adalah anti agama.          Continue reading

Kembalikan Orde Baru

  Sekitar 53% rakyat Indonesia tak puas dengan jalannya demokrasi. Itulah salah satu hal yang diungkapkan LSI, lembaga survei yang bisa dipercaya. Andrianto Soekarnen dan Ahimsa Sidarta Sudah habiskah Orde Baru? Ternyata belum, setidaknya, menurut hasil sebuah survei, hampir 60% responden survei tersebut menyatakan bahwa kondisi di masa Orde baru lebih baik daripada sekarang. Tapi, tidakkah demokrasi dengan plus-minusnya kini sudah berjalan di Indonesia dibandingkan dengan pemerintahan otoriter di masa Soeharto? Benar, 65% responden bilang bahwa sistem demokrasi adalah pilihan terbaik bagi Indonesia. Tapi, harap maklum, menurut teori, demokrasi baru berjalan positif bila setidaknya didukung oleh 80% rakyat. Itulah hasil survei pertama Lembaga Survei Indonesia, sebuah lembaga yang dimotori oleh Denny J.A. dan kawan-kawan. Para pendiri lembaga ini percaya bahwa demokrasi tak akan berjalan baik bila pemerintah tidak responsif terhadap â€�persepsi, harapan, dan kekecewaan publik yang luas.â€� Dan karena persepsi, harapan, dan kekecewaan publik itu berubah-ubah, penting untuk mengetahui perubahan tersebut. Untuk itulah LSI didirikan, dan lembaga ini akan melakukan survei sekali setiap tiga bulan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap â€�pemimpin nasional, partai politik, lembaga pemerintahan, serta sistem dan nilai demokrasi.â€� Continue reading

SULITNYA MENDEFINISIKAN PAK HARTO

  Oleh M. Subhi-IbrahimPeneliti PSIK Universitas Paramadina, Dosen FE UHAMKA Drama hidup mantan Presiden RI ke-2, HM. Soeharto telah berakhir. Sejak 4 Januari lalu, Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Akhirnya, Ahad, tepat pukul 13.10 WIB, 27 Januari 2008, sang penguasa Orde Baru itu dijemput malaikat maut. Kini Soeharto telah menghuni istana terakhirnya di Astana Giribangun, suatu tempat yang sudah disiapkannya lebih dari tiga dekade silam (1976).     Soeharto adalah figur yang dipuja sekaligus dicerca, dipuji sekaligus dicaci. Hal ini dapat dimengerti karena selama 32 tahun berkuasa, cukup banyak kebijakan Soehato yang dinilai kontroversial. Memang, ia dijunjung karena mampu berkuasa secara “tak tersentuh” selama 32 tahun, menjaga stabilitas politik, dan membangun pertumbuhan ekonomi yang spektakuler sehingga digelari “Bapak Pembangunan”. Rakyat dimanja dengan harga kebutuhan pokok yang terkendali dan subsidi bahan bakar minyak. Tidak aneh bila dalam benak masyarakat awam figur Soeharto cukup membekas, dan mereka pun merindukan kembalinya masa-masa yang dipenuhi kemudahan tersebut. Continue reading

KATA GUS DUR

“Ketentuan hukum Islam dalam hal ini adalah pemberian ampun kepadanya, dalam arti ia menyerahkan jumlah uang tertentu kepada sebuah komisi lima orang yang akan menetapkan jumlah yang harus dibayarkan oleh mantan presiden Soeharto kepada rakyat untuk mengatasi krisis pangan dan investasi kembali dalam kegiatan ekonomi bangsa kita,” demikian penjelasan Gus Dur tentang usulannya itu kepada sejumlah wartawan (Kompas, 4/8/1999).

SOERHARTO DAN POLITIK ISLAM INDONESIA

Oleh: Fachry Ali
Pengamat Sosial Politik
(Republika, 28 Januari 2008, hlm. 1)

Ahad kemarin, sekitar pukul 13.00, sebelum berangkat, saya melihat sambil lalu running text sebuah stasiun televisi yang mengabarkan kesehatan mantan presiden Soeharto kian kritis. Pukul 13.30 saya mengikuti rapat Elsaf. Pemimpin rapat, Mas Dawam Rahardjo, yang kian kurus tergurus penyakit gula dan ginjal tampak tertidur ketika Habib Chirzin sedang berbicara. Saat itulah sahabat saya, Suharso Monoarfa, anggota DPR Fraksi Persatuan Pembangunan, menelepon, ”Apakah benar Pak Harto sudah meninggal?” Jawaban saya — berdasarkan running text yang sempat saya baca beberapa saat lalu — ”Belum. Hanya sangat kritis.” Beberapa menit kemudian, Komala, sekretaris Mas Dawam, masuk ke ruang rapat mengabarkan meninggalnya mantan orang terkuat di Asia itu.
Saat itu, sms dari Pak Slamet, mantan direktur SDM PT Perkebunan VIII Jawa Barat, masuk menyampaikan kabar duka itu. Rapat tentang masa depan Elsaf, sama sekali tidak terganggu dengan berita dan sms itu. Pukul 16.00 rapat usai. Dalam perjalanan pula, Wakil Pemred Republika, Nasihin Masha, meminta saya menulis tentang ”Soeharto dan Islam di Indonesia” dan, perintahnya, ”Harus selesai pada pukul 20.00.” Continue reading

HM. Soeharto Dalam Kenangan Para Aktivis Muslim

PDF Cetak E-mail
 
HM. Soeharto Dalam Kenangan
Para Aktivis Muslim

Tidak disangsikan lagi bahwa HM. Soeharto telah membawa bangsa ini menjadi bangsa besar, bermartabat dan disegani di mata internasional. Berhasilnya negeri ini berswasembada beras pada tahun 1983 hanya secuil dari prestasi itu.

Salah satu di kunci keberhasilan itu adalah terciptanya situasi stabil yang memungkinkan ia bekerja dengan tenang. Tapi sayang, atas nama stabilitas ia memberangus semua kekuatan-kekuatan yang dianggap aral dan membungkam tokoh-tokoh kritis. Bukan Cuma itu, atas nama stabilitas juga ia membonsai gerakan dakwah dan mempersempit ruang geraknya para pegiatnya bahkan menumpahkan darah mereka.

Pembaca budiman, pada edisi kali ini al-Balagh mencoba mengangkat satu sisi yang kurang mendapatkan perhatian dari media

Setelah rezim Orde lama runtuh, disusul naiknya orde baru pimpinan presiden Soeharto, umat Islam menyambutnya dengan gembira. Umat berharap ada perkembangan yang positif bagi perkembangan Indonesia umumnya  dan keserasia dengan umat Islam pada khususnya. Pada awalnya hubungan masih sangat harmonis, namun dalam perjalanannya bibit konflik itu mulai muncul. Islamofobia Orde Baru lambat laun terlihat jelas. Orde Baru menganggap umat Islam sebagai ancaman bagi kekuasaannya. Continue reading