Calon Gubernur BI Harus Miliki Pemahaman Moneter & Bank

Sejumlah kalangan menilai calon Gubernur Bank Indoensia (BI) di masa depan harus memiliki pemahaman dalam bidang moneter dan perbankan.

Selain itu, memiliki pengalaman dan jaringan internasional yang luas sehingga bisa meningkatkan fungsi BI sebagai otoritas moneter nasional.

Komisaris PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Aviliani menilai sosok pengganti Burhanuddin Abdullah sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) adalah seseorang yang memiliki pemahaman moneter dan perbankan. Menurutnya sosok yang memenuhi persyaratan ini adalah Muliaman D Hadad, Sri Mulyani dan Miranda S Goeltoem.

“Sri Mulyani selama ini cukup baik di Departemen Keuangan dan ahli moneter. Miranda punya ide brilian di kedua bidang tersebut. Namun, ke depan harus ada terobosan lain tidak hanya bermain di suku bunga untuk menjaga moneter,” jelas dia, di Jakarta, Selasa (4/2/2008).

Menurut Aviliani, penetapan Burhanuddin Abdullah sebagai tersangka tidak menghalangi untuk kembali bersaing dan mencalonkan diri. Sebab, selama kepemimpinannya, kondisi perbankan dan moneter nasional tetap stabil. Selain itu tidak ada menimbulkan gejolak akibat kebijakan BI dan berkoordinasi dengan pemerintah, terutama perbankan.

“Pak Burhanuddin, masih sosok yang masih bagus untuk dipilih lagi. Saya setuju dan masih wajar untuk dicalonkan lagi,” tegasnya.

Aviliani menuturkan jika ada calon baru dan kurang pengalaman terpilih, maka bisa menimbulkan kerawanan. Sebab, kondisi perekonomian di Amerika Serikat masih bergejolak dan akan banyak dana yang masuk ke Indonesia. Selain itu, pelaku pasar menilai Gubernur BI yang baru kurang kredibel.

“Sekarang terbukti, meskipun (Burhanuddin Abdullah) menjadi tersangka, banyak pihak yang tidak menyangkutkan hal ini pada kebijakan maupun kredibilitasnya. Ini menunjukkan penerimaan terhadap Burhanuddin Abdullah masih tinggi,” tandasnya.

Salah seorang bankir senior bank BUMN yang enggan disebutkan namanya mengatakan figur Gubernur BI ke depan yang ideal adalah lebih senior setelah Burhanuddin Abdullah, selain itu harus memiliki kapasitas dan kompetensi di bidang moneter baik keilmuan maupun dalam praktiknya.

“Figur itu harus memiliki jaringan internasional yang luas sehingga bisa diterima dalam pergaulan bank sentral di dunia,” katanya.

Kriteria lain yang harus diperhatikan, yakni pengambilan keputusan di BI sendiri bersifat kolegial sehingga diperlukan sosok yang lebih matang dan memiliki pengalaman serta jejak karir yang sudah teruji.

“BI sarat dengan pengambilan kebijakan, sehingga bukan seperti perusahaan swasta yang bisa menempatkan orang kepercayaan menggantikan pejabat sebelumnya,” tegasnya.

Ketua Umum Masyarakat Profesional Madani Ismet Hasan Putro menilai, untuk merespons tantangan dan dinamika yang cepat terjadi, seharusnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengajukan nama calon Gubernur BI ke DPR dari orang yang terkait dalam kasus aliran dana BI sehingga tidak menimbulkan kerisauan maupun masalah baru. Selain itu akan merendahkan kredibilitas BI sebagai institusi.

“Figur bermasalah berpotensi memunculkan resistensi dan menjadi beban yang dapat merusak citra politik Presiden SBY,” tegasnya.

Gubernur BI di masa depan, lanjutnya, harus memiliki integritas, jejak rekam (track record), visi dan kompetensi. Hal tersebut mutlak diperlukan? sehingga bisa merespon tantangan global maupun permasalahan bank sentral yang multidimensial. (Tomi Sujatmiko/Sindo/rhs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: