Kasus BI, Ibarat Menunggu Godot

Kasus dugaan korupsi yang menimpa Gubernur Bank Indonesia (BI) belum berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Indonesia.Tetapi perlu diwaspadai.

Kasus dugaan korupsi yang menimpa Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengingatkan publik tentang nasib para pendahulunya.Setiap mendekati proses pergantian gubernur, otoritas moneter ini selalu tersandung berbagai kasus.

Dari Soedrajad Djiwandono (menjabat 1993-1998) yang tersandung kasus BLBI, Syahril Sabirin (1998-2003) tersandung kasus Bank Bali, kini Burhanuddin (2003-sekarang) diduga terlibat kasus mengalirnya dana BI ke sebagian kantong anggota DPR. Tidak heran jika muncul kecurigaan kasus ini sarat muatan politik. Meski hal itu dibantah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar.

Menurut Skandal Antasari, hal yang menimpa Burhanuddin tidak ada kaitannya dengan proses pergantian Gubernur BI pada Mei 2008 nanti.Antasari mengingatkan seluruh pihak agar tidak memberikan komentar yang kontraproduktif, termasuk di dalamnya menghubungkannya dengan pergantian Gubernur BI.

“Saya tidak ingin ini dipolitisasi,” ungkapnya. Dia juga mengungkapkan pemeriksaan yang dilakukan KPK tidak bertujuan untuk mengganggu proses moneter yang berlangsung. Seiring berjalannya kasus ini, diharapkan BI tetap tertib dalam melakukan pengelolaan terhadap anggaran.Sampai saat ini, proses pemeriksaan masih berlangsung. Belum ada kata pasti bagaimana akhir dari skandal ini.

“Kami tidak akan menggambarkan secara terang benderang. Nanti mendahului proses persidangan,” kata Antasari. Meski sudah memberikan jaminan, tetapi sejumlah kalangan menilai proses hukum yang membelit Gubernur BI ini akan mengganggu proses moneter yang berlangsung di Indonesia.

Kasus yang menimpa Burhanuddin diperkirakan bisa menurunkan kepercayaan pasar di Indonesia. Menurut pengamat pasar modal Yanuar Rizki, penetapan Burhanuddin sebagai tersangka akan mengurangi kepercayaan asing terhadap Indonesia. Dampaknya, perkembangan ekonomi Indonesia, terutama di pasar keuangan, akan mengalami gangguan.

Dia mengungkapkan, idealnya bank sentral itu dijauhkan dengan berbagai kepentingan politik.Langkah ini diambil mengingat posisi bank sentral yang sangat strategis bagi perekonomian nasional. “Tetapi di Indonesia bank sentralnya saja bisa dipolitisasi, apalagi lembaga yang lain.Kepercayaan kepada pasar keuangan kita akan semakin menurun,”ungkapnya.

Dia memperkirakan kasus ini akan memperparah kondisi pasar uang maupun pasar modal Indonesia, yang saat ini sedang tertekan akibat subprime mortage serta kondisi perekonomian Amerika Serikat terakhir.”Pasar sekarang sudah sangat spekulatif dan dengan kasus ini suasana spekulatif semakin kuat di pasar keuangan Indonesia,” ungkapnya.

Memang hingga saat ini belum ada gejolak yang berarti, bahkan secara meyakinkan BI mampu menguatkan nilai mata uang hingga mencapai Rp9.200 per dolar satu hari pascapenetapan Burhanuddin sebagai tersangka. Namun,penguatan rupiah ini harus dibayar mahal oleh Indonesia. Angka Rp9.200 per dolar bisa tercapai setelah BI mengintervensi pasar sebesar USD2 miliar yang diambil dari cadangan devisa.” Seharusnya cadangan devisa kita tidak keluar sebanyak itu kalau kasus ini tidak ada.Jadi kasus ini dampaknya besar sekali bagi ekonomi kita,”ungkap Yanuar.

Karenanya, saat ini pasar waspada terhadap dampak yang diakibatkan kasus ini. Meski belum terbukti bersalah, penentuan beberapa pejabat teras bank sentral bisa memicu munculnya sentimen negatif pasar terhadap rupiah. Bila para pelaku pasar tidak waspada, saat seperti inilah yang sangat rawan dimanfaatkan oleh para spekulan untuk menggoyang pasar rupiah.

Apalagi setelah isu subprime mortagedan perkembangan ekonomi AS nilai rupiah belum stabil benar. Bila ini terjadi,langkah intervensi BI ke pasar-dengan menyuntikkan dana sebesar USD2 miliar-akan percuma saja. Diperkirakan, kondisi pasar tidak mengalami keterkejutan akibat penentuan Gubernur BI sebagai tersangka.

Hal ini bisa dilihat saat Syahril Syabirin, Gubernur BI sebelum Burhanuddin, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Bank Bali. Saat Syahril dipastikan akan menghadapi meja hijau, pasar uang tidak terlalu reaktif. Bahkan bisa digambarkan akibat kasus Bank Bali itu nilai tukar rupiah tidak mengalami tekanan cukup berarti. Begitu pula akibat kasus penyelewengan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) yang menimpa Burhanuddin.

Saat ini nilai tukar rupiah masih bergerak di kisaran Rp9.300,namun ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar modal dan pasar uang yang tertekan akibat kondisi global. Apalagi cadangan devisa yang dimiliki Indonesia, sebesar USD58 miliar, masih cukup untuk meredam gejolak yang berkembang di pasar modal.Terkait dengan kasus ini, meski diperkirakan tidak menyebabkan cukup guncangan, para pengamat mengingatkan pasar agar tetap mewaspadai menurunnya kepercayaan asing terhadap Indonesia.

Terutama jika nanti Burhanuddin dipastikan terlibat dalam kasus penyelewengan. Para pelaku pasar hingga saat ini masih menunggu perkembangan terakhir akibat kasus penyelewengan dana YPPI ini. Hal yang perlu menjadi perhatian, seharusnya pemerintah menyadari masalah yang melilit BI, paling tidak mencermati bagian akhir masa jabatan tiga gubernur terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: