Parpol incar Mbak Tutut karena uang

Tanggal 05 Feb 2008
Sumber Harian Terbit

JAKARTA – Langkah sejumlah elite politik berusaha menarik Siti Hardiyanti Indra Rukmana (Mbak Tutut bersaudara-red) masuk partai politik (parpol) tak lepas dari uang. Soalnya, mungkin saja sampai saat ini keluarga Cendana itu memiliki uang yang dapat dikatakan “tak terbatas” jumlahnya.

Pengamat politik Unpad, Deddy Mulyana, dan pengamat politik Universitas Indonesia, Maswadi Rauf, yang diminta pendapatnya seputar sinyal yang diperlihatkan Partai Golkar untuk merangkul anak-anak mantan Presiden Soeharto, sama se-pendapat menyebutkan motif merangkul keluarga Cendana itu tak lepas dari uang.

Beberapa hari lalu Ketua U-mum Partai Golkar Yusuf Kalla menyatakan Tutut –panggilan untuk putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana– masih merupakan fungsionaris Golkar. Kalla malah meminta jajaran Golkar merangkul kader-kader yang loyal kepada mantan Presiden itu. Pernyataan Kalla ini menyusul tawaran Ketua Dewan Pertimbangan PDI Perjuangan, Taufik Kiemas, sebelumnya yang mengajak Tommy Soeharto masuk PDIP.

Menurut Maswadi, ada beberapa alasan yang bisa dijadikan untuk menarik keluarga Cendana masuk parpol. Alasan pertama adalah karena elite politik dan juga masyarakat menilai bahwa keluarga Cendana itu memiliki uang yang tidak terbatas.

“Dengan masuknya keluarga Cendana ke parpol, ini bisa mengamankan parpol tersebut terutama dari segi dana. Soalnya, bagaimana pun juga parpol tak bisa eksis tanpa adanya dana. Jadi, dengan masuknya keluarga Cendana ke suatu parpol, paling tidak dari segi dana pengurus parpol itu sudah terbantu,” kata Maswadi.

Alasan lain, lanjut dia, sampai saat ini sebagian masyarakat termasuk elite politik masih merindukan dan mengeluk-elukan mantan Presiden Soeharto. “Mungkin mereka merasa hidup di zaman Pak Harto lebih enak ketimbang setelah era reformasi,” kata dia.

Memang, lanjut Maswadi, terlepas dari berbagai kekurangan yang dimiliki mantan Presiden Soeharto, hidup masyarakat kala itu memang jauh lebih baik. “Tak hanya ekonomi stabil, stabilitas politik dan keamanan juga terjaga. Jadi, kerinduan-kerinduan semacam itulah yang membuat banyak parpol berusaha menarik putra dan putri Pak Harto,” kata dia.

Namun, kata Maswadi, masuknya keluarga Cendana ke parpol, ini tidaklah menjadi jaminan parpol tersebut eksis dan mampu memenangkan pemilihan umum (pemilu) mendatang. Buktinya, Partai Karya peduli Bangsa (PKPB) yang didirikan Mbak Tutut bersama mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), R Hartono tidak meraih suara signifikan pada pemilu 2004.

“Kalau kita lihat, apa kurangnya PKPB. Dari segi uang, jelas PKPB tidak kekurangan. Demikian pula dengan pengurusnya, adalah orang-orang yang sudah dikenal. Tapi, toh saat pemilu masyarakat tidak memilih mereka,” kata Maswadi.

Kenapa Partai Golkar mengklaim bahwa Mbak Tutut adalah kader partai berlambang Pohon Beringin tersebut seperti yag diutarakan Jusuf Kalla?

Maswadi melah mengatakan, Partai Golkar berusaha untuk membalas jasa-jasa almarhum Pak Harto yang telah membesarkan partai itu.

Keputusan Partai Golkar tersebut sama saja dengan berjudi. Memang dari segi dana Partai Golkar bakal aman dengan masuknya keluarga Cendana. Hanya saja, bisa saja perolehan suara partai Golkar menjadi berkurang.

Soalnya, kata Maswadi, pada satu pihak Partai Golkar mengaku hadir dengan paradigma baru. Tapi kenyataannya, Partai Golkar masih sama saja dengan masa Orde Baru berkuasa. “Mana paradigma baru partai Golkar kalau mereka kembali ke sikap semula?” Tanya Maswadi.

Hal senada dikatakan Deddy Mulyana. Pakar komunikasi politik ini mengatakan, paling tidak ada dua sampai tiga kriteria kenapa banyak parpol yang berusaha menarik keluarga Cendana. Alasan pertama karena uang keluarga Cendana yang tidak terbatas sehingga diharapkan dapat digunakan membiayai partai. Alasan berikutnya adalah sebagai bukti bahwa pendukung Pak Harto masih banyak.

Mereka, kata Deddy, adalah orang atau kelompok yang merasa diuntungkan ketika Orde Baru, “Mereka itu tersebar, tidak hanya ada di partai politik, namun juga di kalangan bisnis, masyarakat biasa. Jadi, walaup mungkin jumlahnya tidak banyak, pendukung Pak Harto itu masih ada,” kata dia. (art)

2 Responses

  1. apapun pandangan orang-orang pintar mengenai mbak Tutut, dia tetap salah satu tokoh yang belum terkontaminasi oleh racun politik praktis. dan yang harus di garis bawahi, cendana adalah bukan golkar begitupun sebaliknya, golkar bukan cendana. Mbak Tutut tetap milik PKPB.

  2. don’t make mistakes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: