Kinerja SBY-JK, maju dan mundur

Rubrikasi

Tanggal 05 Feb 2008
Sumber Harian Terbit

JAKARTA – Anggota Fraksi PDI Perjuangan Ramson Siagian mengatakan kinerja pemerintah memang mirip tari poco-poco. Buktinya, terjadi penurunan prestasi sehingga target untuk mengurangi kemiskinan tidak akan tercapai.

“Masak, APBN 2008 yang baru berjalan sebulan sudah diajukan perubahan lagi, ini kan potret kemunduran pemerintah,” kata Ramson dalam rapat kerja antara Komisi XI DPR dengan pemerintah yang diwakili Menkeu, Menneg/Kepala Bappenas, Gubernur Bank Indonesia (BI) dan Kepala BPS, Senin (4/2).

Dalam raker yang dipimpin Ketua Komisi XI DPR Awal Kusuma dari FPG itu, lanjut Ramson, makin jelas bahwa kinerja pemerintahan SBY hanya maju selangkah, mundur selangkah seperti tari poco-poco. Buktinya, dalam usul perubahan APBN P 2008 disebutkan, lifting minyak sebesar 1,034 juta barel/hari ternyata turun (mundur) menjadi 910 ribu barel/hari.

Belanja kementerian/lem-baga dari Rp 311,9 triliun yang diharapkan bisa jadi stimulan perekonomian, turun (mundur) menjadi Rp 274 triliun, konversi minyak tanah ke elpiji yang pemerintah optimis sekitar 2 juta kilo liter, nyatanya turun (mundur) menjadi hanya 1 juta kilo liter minyak tanah.

Defisit anggaran yang di APBN 2008 ditetapkan sebesar 1,7 persen dari PDB ternyata membengkak (mundur) menjadi 2 persen dari PDB, sehingga pembengkakan itu otomatis menambah pembuatan utang tahun 2008 baik dalam dan luar negeri naik dari Rp 106,7 triliun menjadi Rp 129,6 triliun.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang dalam APBN 2008 diproyeksikan sebesar 6,8 persen tampaknya mengalami penurunan (mundur) dengan alasan faktor minyak dan gonjang-ganjingnya ekonomi dunia.

Realitasnya dalam APBN 2008, pemerintah sangat optimis dan PDI-P sebagai ke-kuatan oposisi di parlemen turut bergembira mendengarnya. Tapi apa lacur, APBN ba-ru berjalan satu bulan, pemerintah sudah mengajukan usul perubahan, apalagi dalam usul perubahan itu menggambarkan terjadinya penurunan prestasi.

“Jadi, apa yang dibilang Ibu Mega, bahwa pemerintahan SBY mirip tari poco-poco, itu benar sehingga presiden SBY dan pendukungnya tak usah marah-marah,” kata Ramson.

Anggota Komisi XI DPR dari FPP Endin AJ Soefihara mengatakan, keinginan pemerintah melakukan perubahan APBN 2008 menunjukkan keprihatinan ekonomi yang serius karena fondamental ekonomi mulai terganggu. Lebih-lebih bila keinginan merubah itu untuk menutupi ketidaksanggupan pemerintah mengelola ekonomi, hilangnya kebutuhan konsumsi masyarakat dan sebagainya.

Dikatakan, rencana kenaikan belanja pemerintah pusat, kenaikan subsidi BBM, listrik dan pangan yang jumlahnya Rp 80 triliun menunjukkan adanya ketidakhematan belanja pemerintah. (art)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: