Kawasan Mas Mansyur mulai mencelak

oleh : Irsad Sati

Hingga tiga atau dua tahun yang lalu, koridor K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat, belum diperhitungkan sebagai kawasan favorit, kalau tidaklah sampai mengatakan sebagai kawasan terbelakang.

Yang terkenal di koridor itu mungkin hanya kawasan pusat grosir konveksi Tanah Abang. Lalu ‘dilengkapi’ dengan keberadaan tanah pemakaman Karet Bivak. Tidak ada yang hidup di kawasan itu selain geliat bisnis konveksi.

Ini memang sedikit ironis karena dari segi posisi, koridor Mas Mansyur justru bukan di belakang, tapi termasuk di muka Jakarta.

Namun, itu gambaran hingga dua atau tiga tahun yang lalu. Sekarang, coba tengok. Mas Mansyur mulai tercelak.

Sedikit demi sedikit wajah kawasan itu mulai disulap menjadi cantik. Dimulai dari dibangunnya Sudirman Park, kawasan hunian tinggi bagi kalangan kelas menengah atas, di samping apartemen Pavilon dan Sahid yang telah dulu eksis di sana. Lalu muncul lagi Jakarta City Center hingga Citylofts Sudirman.

Praktis, beberapa titik di koridor itu bak kena gincu yang membuatnya mencelak, sekaligus menutupi citra yang sudah melekat sebagai kawasan pemakaman.

Kehadiran sejumlah proyek properti yang bisa dibilang berkualitas itu, tak pelak mampu mengangkat prestise kawasan Mas Mansyur menjadi kawasan yang mulai diperhitungkan. Bahkan Mas Mansyur punya potensi menjadi kawasan alternatif hang out eksekutif di masa mendatang.

Apa sebab? Lokasinya cukup stretagis kalau lihat dari posisinya di sekitar kawasan utama bisnis dan perkantoran di sekitar Sudirman dan Thamrin. Lokasi dengan letak menyempil di area bebas three in one.

Tinggal lagi menunggu kecerdikan pengembang untuk mengolah potensi kawasan itu untuk menatanya dengan membangun pusat sarana hang out.

Proyek Citylofts

Kalau melihat kondisi saat ini, proyek Citylofts yang berada di samping superblok Sahid, bisa dikatakan sebagai proyek perintis untuk menjadi media hang out.

Hal itu didasarkan pada pertimbangan bahwa properti itu dibangun dengan konsep perpaduan life style, berupa mal dengan hunian berfungsi kantor untuk meningkahi keberadaan properti hunian dan perkantoran yang mulai berkembang di sana.

Citylofts itu bisa menjadi cikal bakal pembentukan kawasan Mas Mansyur menjadi kawasan hang out untuk kelangan eksekutif perkantoran yang mengandalkan periode jam kerja sebagai waktu pasarnya.

Hal ini bisa saja berkembang dikemudian hari menjadi lebih luas di luar jam kerja kalau kebutuhan media hang out bertambah di kawasan itu.

Perluasan fasilitas life style di kawasan Mas Mansyur masih memungkinkan karena masih adanya ruang lahan yang tersedia untuk megakomodasi kepentingan tersebut.

Setidaknya beberapa titik dari ujung arah Sudirman hingga ke pusat grosir konveksi Tanah Abang masih ada space yang bisa dikembangkan untuk kepentingan tersebut.

Di sisi lain, integrasi kawasan Mas Mansyur dengan koridor Satrio hingga Mega Kuningan di masa mendatang akan memunculkan koridor baru yang cukup kuat.

Apalagi, dalam beberapa tahun ke depan di Satrio dan Kuningan akan muncul sejumlah proyek properti terpadu baru yang pasti akan meramaikan kawasan tersebut.

Yang diperlukan dalam pengembangan kawasan itu mungkin pembenahan jalan utama yang masih belum tuntas.

Ada bagian yang masih dua lajur untuk satu arah, seperti di depan Sudirman Park.

Kalau pengembang yang punya kepentingan dengan kawasan itu bisa menatanya, dipastikan suasana kawasan itu akan semakin hidup.

Menyamakannya dengan Orchard Road di Singapura tentu sangat berlebihan, tapi setidaknya kawasan itu bisa ditata menjadi lebih sporty dan rilek sehingga menarik untuk didatangi. Apalagi Mas Mansyur sendiri sebenarnya punya warisan sejarah dari masa lalu.

Menurut Pangeran Kuningan Foundation, yang merekam jejak sejarah sekitar kawasan Setiabudi, Karet hingga Kuningan sejak tempo dulu, Masjid Al-Makmur di Jl K.H. Mas Mansyur, Tanah Abang, merupakan salah satu dari belasan masjid tua yang masih tersisa di Jakarta.

Masjid ini dibangun pada tahun 1704 oleh para keturunan bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro.

Kini masjid yang berusia lebih tiga abad itu terkepung oleh ingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, salah satu pusat perdagangan terbesar di Jakarta.

Menurut Lembaga itu, Kampung Kuningan masa lalu merupakan lintasan kota Batavia ke arah selatan dari kota. Tenabang atau Tanah Abang yang sejak dulu sebagai pasar, kampung Kuningan kemudian kampung Mampang hingga jauh ke Selatan.

Jalan lama yang ada adalah jalan K.H. Mas Mansyur sekarang, kemudian jalan Prof. Dr. Satrio sekarang (dulu bernama jalan Karet Raya) berbelok memasuki jalan K.H. Guru Mughni.

Kalau saja pengembang bisa memanfaatkan semua kekayaan historis dan khazanah itu, tentu di kemudian hari akan bisa dilihat wajah Mas Mansyur yang lebih tercelak dan berseri. (irsad.sati@bisnis.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: