Emil Salim dituduh hanya `cuci tangan`

Tanggal 05 Feb 2008
Sumber Harian Terbit

JAKARTA – Mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Prof Dr Emil Salim dinilai ‘cuci tangan’, karena sebagai salah seorang dari penasehat ekonomi yang sering dijuluki ‘mafia Berkeley’, dia ikut bertanggungjawab terhadap kehancuran ekonomi bangsa ini.

“Beliau kan cuci tangan dengan menyebut saat Soeharto menjadi presiden telah dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dibesarkannya,” kata pengamat ekonomi politik Ichanudin Noorsy menjawab Harian Terbit di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kehancuran ekonomi yang masih terasa hingga saat ini tidak terlepas dari peran Emil Salim. Sebagai penasehat ekonomi Soeharto kala itu, peran Emil Salim sangat besar.

Noorsy mengatakan, gagasan utama ‘Mafia Berkeley’ yang membuat ekonomi bangsa ini terpuruk adalah UU No.1/1967. Karena gagasan ini mengembalikan posisi ekonomi Indonesia dalam tatanan ekonomi penjajahan.

Tidak hanya itu, ‘Mafia Berkeley’ juga meliberalkan perbankan tahun 1983, perdagangan tahun 1987 – 1994, pasar modal 1995 dan membangun perekonomian berdasarkan utang luar negeri.

“Itu semua yang menjadi penyebab ambruknya perekonomian, karena patuhnya mereka (Mafia Berkeley) pada konsensus Washington. Jadi tidak perlu menyalahkan pihak lain. Mestinya mereka berjiwa besar, karena sekarang pun kebijakan yang diambil kelompok ‘Mafia Berkeley’ ini telah membuat pemerintah SBY mandul dalam menstabilkan harga dan mengangkat kedaulatan ekonomi bangsa,” tegas Noorsy.

Dalam percakapannya dengan sebuah stasiun TV swasta (30 Januari 2008 tengah malam), secara implisit Emil Salim menyalahkan dua pembantu Soeharto saat menjadi presiden. Antara lain, BJ Habibie, yang mengajukan konsep pembangunan industri teknologi maju – padat modal, sedang yang dibutuhkan Indonesia pasca keberhasilan mencapai swasembada beras adalah industri berbasis sumber daya alam, utamanya pertanian.

Menurut mantan Menteri Lingkungan Hidup di era Orde Baru itu, Presiden Soeharto (saat itu) sangat percaya kepada para pembantunya (baik penasehat maupun menteri), hingga tanpa disadarinya dia mendapatkan masukan yang tidak jujur dan menyesatkan. Jadi kalau ada masalah dalam kebijakannya tak lepas dari beberapa anak buahnya yang gemar menomorsatukan istilah ABS (Asal Bapak Senang).

“Padahal, beliau (almarhum) belum tentu senang dengan laporan menterinya. Kebanyakan laporan ABS inilah yang membuat kebijakan Pak Harto di akhir jabatannya cenderung fokus ke industrialisasi/liberalisasi,” ujar Emil Salim.

Menurut Emil, setelah tahun 1985-an atau usai prestasi swasembada beras, mulai banyak masukan dari menteri dan berbagai pihak perlunya memajukan industri.

“Saya lihat ini banyak ‘interest’ [kepentingan] yang membuat Pak Harto tak punya pilihan untuk men’drive’ fokus pembangunan ekonomi pedesaan ke industri. Tapi saya paham beliau tak terlalu happy karena saya tahu hatinya selalu ada di desa dan pertanian,” paparnya.(ntv/fen)

3 Responses

  1. […] “Beliau kan cuci tangan dengan menyebut saat Soeharto menjadi presiden telah dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dibesarkannya,” kata pengamat ekonomi politik Ichanudin Noorsy menjawab Harian Terbit di Jakarta, kemarin. Selengkapnya baca di kabinetindonesia […]

  2. […] “Beliau kan cuci tangan dengan menyebut saat Soeharto menjadi presiden telah dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dibesarkannya,” kata pengamat ekonomi politik Ichanudin Noorsy menjawab Harian Terbit di Jakarta, kemarin. Selengkapnya baca di kabinetindonesia […]

  3. […] “Beliau kan cuci tangan dengan menyebut saat Soeharto menjadi presiden telah dirusak oleh orang-orang dekatnya sendiri, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya dibesarkannya,” kata pengamat ekonomi politik Ichanudin Noorsy menjawab Harian Terbit di Jakarta, kemarin. Selengkapnya baca di kabinetindonesia […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: