Bersatulah Wahai Pemimpin

EDITORIAL MEDIA INDONESIA

6 Februari 2008

TIDAK ada yang meragukan bahwa pemimpin memainkan peran sentral baik bagi kemajuan maupun kehancuran negara dan bangsa. Baik pemimpin, baik negara. Jahat pemimpin, celakalah bangsa.

Karena itu, seruan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi agar para pemimpin bersatu bukanlah retorika klise. Seruan itu merupakan tamparan halus bagi para pemimpin negeri, baik formal maupun informal, yang dari waktu ke waktu tidak akur. Yang sedang dan telah memimpin bertengkar seperti berebut tulang. Begitu sering dan intens pertengkaran itu sehingga Hasyim Muzadi menyindir, ”Di negeri ini lebih sulit mengurus pemimpin daripada mengurusi rakyat.”

Atau dengan kata lain, pemimpin lebih sibuk mengurus diri daripada mengurus rakyat. Bahkan lebih celaka lagi, rakyat malah dipaksa mengurus pemimpin. Itu, disadari atau tidak, adalah penyakit dari feodalisme kekuasaan. Pemimpin lebih getol menuntut pelayanan daripada melayani.

Coba kita lihat ke belakang hubungan di antara mantan presiden. Pak Harto mengucilkan Bung Karno. Pak Harto kemudian mengalami nasib yang sama, yaitu meninggal dalam pengucilan. Setelah Pak Harto, hubungan Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono tidak harmonis.

Yang paling kentara dalam pertikaian sekarang adalah antara Presiden Yudhoyono dan Megawati. Mega, dalam kedudukan sebagai pemimpin partai oposisi, melancarkan berbagai kritik di berbagai kesempatan. Tidak ada yang baik dari pemerintah sekarang di mata Megawati.

Lalu, SBY meladeni melalui tangkisan yang sekaligus menyerang. Dengan gampang, SBY menyindir, ”Kalau sekarang marah-marah, ketika menjadi presiden dulu apa saja yang sudah dikerjakan?”

Pola pertengkaran di kalangan pemimpin seperti itu tidak sehat dan tidaklah elok. Baik beroposisi maupun memerintah bertujuan sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang semakin terseok-seok dewasa ini. Bila kemiskinan dan keterbelakangan menjadi situasi permanen, rakyat tidak percaya lagi kepada pemimpin baik yang berkuasa maupun yang beroposisi.

Tentu, tidak sehat bila yang memerintah hanya mau mendengar pujian semata. Sama tidak sehatnya bila yang tidak memerintah menutup mata terhadap hasil kerja positif dari yang sedang memerintah.

Dengan demikian, kritik-kritik itu sehat, sama sehatnya dengan reaksi terhadap kritik. Yang tidak sehat adalah yang mengkritik dan yang dikritik terjerumus dalam sikap destruktif. Tiap-tiap pemimpin menempatkan pemimpin yang tidak disukai sebagai rival yang harus dijatuhkan.

Mengapa kita merindukan persatuan di kalangan pemimpin? Bangsa ini menghadapi persoalan sangat berat. Persatuan dan keakraban di kalangan pemimpin adalah modal kuat bagi resolusi problem. Karena, andai kata para pemimpin bersatu, setengah persoalan bangsa terselesaikan.

Alasan lain, realitas politik Indonesia yang multipartai seperti sekarang berpotensi sangat kuat melahirkan pemerintahan yang lemah karena sangat kecil kemungkinan seorang presiden dipilih dari partai yang memenangi pemilu parlemen.

Dengan demikian, keakraban dan kehangatan hubungan di antara pemimpin bisa mengatasi realitas politik yang menghasilkan pemerintahan yang lemah tersebut.

Itu tidak bisa dihasilkan melalui undang-undang, tapi hanya dilahirkan dari hati dan batin yang mulia di kalangan pemimpin itu sendiri. Untuk menghindari rivalitas di kalangan pemimpin, mereka itu harus juga tahu diri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: