Presiden Perintahkan Kandangkan Alutsista Tua

JAKARTA–MI: Pascatewasnya enam prajurit marinir TNI AL dalam peristiwa tenggelamnya panser amfibi saat latihan di Situbondo, Pemerintah memutuskan untuk mengandangkan (grounded) alutsista TNI yang dibeli tahun 1962. Pimpinan TNI yang tidak sejalan dengan kebijakan tersebut akan diberi sanksi.

Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam konferensi pers seusai rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kantor Dephan, Jakarta, Senin (4/2).

Presiden mengatakan arah pemerintahan jelas dan memang ada rencana untuk melakukan penggantian terhadap alutsista tua. Sebetulnya, menurut Presiden, beberapa waktu yang lalu Pemerintah sudah menyampaikan kebijakan tersebut kepada pimpinan TNI.

“Agar alutsista, kapal laut, pesawat yang sudah sangat tua digrounded. Termasuk misalnya C130 Hercules tahun 1960-an dan amfibi yang umurnya kurang lebih sama,” kata Presiden.

Presiden melanjutkan dalam rakortas hal tersebut kembali dibicarakan dan kembali memerintahkan para pimpinan TNI untuk betul-betul menghentikan penggunaan alutsista tua.

“Bahkan saya akan memberikan sanksi bagi pimpinan jajaran TNI yang tidak mengindahkan perintah ini. Karena itu berkaitan dengan safety, dengan nyawa prajurit, yang tentu harus kita letakkan dalam letak yang tinggi,” tandas dia.

Rakortas itu sendiri juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menhan Juwono Sudarsono, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, serta ketiga kepala staf angkatan yakni KSAL Laksamana Sumarjono, KSAU Marsekal Madya Subandrio, dan KSAD Letjen Agustadi SP.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengatakan pihaknya akan segera menjajaki untuk melaksanakan perintah Presiden tersebut.

“Apakah akan berpengaruh terhadap latihan kalau itu dikurangi? Semoga pengaruhnya tidak besar,” ujar Panglima.

Sedangkan Menhan menjelaskan sebenarnya Dephan dan TNI bukan tidak pernah mencanangkan penggantian alutsista baru. Hanya saja karena keterbatasan anggaran, pihaknya harus mempertimbangkan ulang dan menghitung efisiensinya. Efisiensi yang dimaksud adalah perbandingan antara pembelian alutsista baru atau merawat alutsista lama (retrofit).

Sementara KSAL Laksaman Sumarjono menyatakan pihaknya setuju saja dengan perintah Presiden untuk mengandangkan alutsista tua. Hanya saja dia mengingatkan bahwa sebenarnya alutsista tua yang masih dipakai TNI sudah melaksanakan peremajaan.

“Kapalnya lama tapi semuanya (mesin dan peralatan utama) baru. Jadi jangan ngomong tahun 1962-an. Kita jadi mudakan lagi kok,” ujar KSAL. (Mjs/Faw/OL-06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: