Selamat Jalan Jenderal Besar

riau pos

Selasa, 29 Januari 2008

Innalilahi  wa inna ilaihi rojiun. Setelah berjuang selama 24 hari di Rumah Sakit  Pusat Pertamina, akhirnya sekitar  pukul 13.10 WIB, Ahad, 27 Januari 2008, mantan Presiden RI  yang berkuasa selama 32 tahun itu  dipanggil yang Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa. Walaupun Almarmun tidak  berkuasa lagi, namun wibawa dan kharismanya  masih sangat luar biasa. Ini terlihat dengan banyaknya pelayat yang ingin menjeguk beliau dari berbagai kalangan baik dari dalam maupun luar negeri. Begitu pula dengan liputan media massa dari dalam maupun luar negeri yang menyiarkan secara langsung. Begitu pula dengan keprotokolan mulai dari rumah sakit, di rumah kediaman cendana, di Bandara Halim  Perdana Kesuma, Jakarta, Bandara  Adi Sumarmo, di Solo sampai ke tempat peristrihatan abadi di komplek pemakaman  keluara di Astana Giri Bangun. Dari rangkaian peristiwa tersebut, Almarhum Pak  Harto  masih mempunyai wibawa dan kharisma yang sangat luar  biasa. Ini sesuai dengan kata pepatah, ‘’Kalau ingin melihat besar-kecil nya orang lihatlah pada saat ia wafat.’’

Almarhum terlahir dari keluarga petani yang sederhana. Masa kecil tidak menunjukkan tanda-tanda yang istimewa. Beliau juga tidak berlatar belakang keluarga istana atau bangsawan.  Almarhum   lahir di Kemusuk, Yogyakarta , tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah.

Almarhum  masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto kecil  dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Sampai akhirnya putera Kemusuk ini  terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Almarhum  resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Pada tahun 1947, jenderal besar ini  menikah dengan Raden Ayu  Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegara.

Perkawinan Letkol Soeharto dan  Raden Ayu  Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar HM Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Pada tahun 1949, dia berhasil memimpin pasukannya merebut kembali kota Yogyakarta dari tangan penjajah Belanda saat itu.  Ini merupakan prestasi awal beliau yang spektakuler. Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Tentang almarhum, banyak yang pro dan kontra  tentang kepemimpinan yang beliau arungi. Terlepas dari pro dan kontra, Pak Harto  telah sangat banyak berjasa dalam mempertahankan republik ini dari berbagai krisis. Pak Harto memulai  kekuasaan memikul beban yang berat mulai dari krisis politik, ekonomi, hingga sosial. Ia mulai menata sistem pemerintahan, yang disebut dengan rezim  Orde Baru  atau lebih tepat disebut dengan orde Soeharto.  Untuk kepentingan stabilatas keamanan   mengunakan kekuatan meliter untuk  menjalan visi pembangunannya. Memang untuk kondisi sosiologis dan situasi politik bangsa Indonesia pada waktu itu,  pemerintahan Pak Harto nampaknya tidak ada pilihan lain, selain menggunakan kekuatan meliter dan birokrat untuk menjalankan kekuasaannya. Dengan sistem ini, pembangunan dapat berjalan dengan lancar, pertumbuhan ekonomi  berjalan dengan baik, stabilitas politik dan keamanan kondusif dan bahkan bangsa ini pun dalam bidang-bidang tertentu dapat diperhitungkan  dalam skala regional dan internarnasional.

Namun sebagai manusia biasa, bukan berarti Pak Harto bukan tidak mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Sekarang Jendaral Besar dari Kemusuk itu telah meninggalkan kita untuk  selama-lamanya, menghadap Sang Khalik. Ia telah menempati peristirahatan yang abadi bersama  isteri dan keluarga tercinta di pemakaman keluarga Astana Giri Bangun. Mari kita doakan semoga almarhum  mendapatkan posisi yang layak di sisi Allah Swt. Amin.***

Drs Husni Thamrin MSi
Direktur Lembaga Penelitian UIN Suska Riau dan Ketua Komisi Pengkajian MUI Kota Pekanbaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: