‘Sebagai manusia, saya memaafkan Pak Harto’

Selasa, 29/01/2008 09:07 WIB

BISNIS INDONESIA

oleh : Algooth Putranto, Tri D. Pamenan & Bastanul Siregar

Di siang terik kemarin, hanya beberapa meter dari perlintasan Palur-jalan utama menuju wilayah Karanganyar dari arah Solo, Jawa Tengah-Tjipto Hartono terengah. Bekas tahanan politik (tapol) berusia 86 tahun yang pernah 13 tahun dibui tanpa diadili itu tampak kepanasan. Beberapa tukang bekerja keras di bawah pengawasannya.

Serangan stroke dan usia lanjut membuat pijakannya lemah. “Buat apa ramai-ramai nonton iring-iringan. Saya punya tugas yang lebih penting!”

Tapi dia masih sempat berpesan pada anak-anaknya agar istrinya dibantu nonton iring-iringan yang membawa jenazah mantan Presiden Soeharto tersebut. Tjipto sendiri kelihatan tak terlalu peduli keramaian itu.

Tjipto pernah menjadi tentara di Laskar Badan Keamanan Rakyat, Delanggu, Klaten. Karena kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi Hatta-Oerip Soemohardjo, dia memilih menanggalkan pangkat letnan-nya dan menjadi warga sipil. Mencari duit dengan ijazah sekolah dagangnya.

Bermula dari BRI lalu terakhir jadi pamong praja. Di organisasi pemerintahan dalam negeri itulah kisah sedihnya berawal. Dipercaya sebagai sekretaris Sarekat Sekerja Kementerian Dalam Negeri (SSKDN) justru membuatnya dicap sebagai PKI.

Empat tahun di Pekalongan sejak dicokok akhir 1965, nyawa Tjipto masih melekat meski setiap hari hanya diganjal 100 butir jagung. Sisanya, sembilan tahun dihabiskannya di fasilitas Inrehab Pulau Nusa Kambangan. Masa yang justru disebutnya fase paling menyenangkan dan membuatnya enggan kembali menjadi warga biasa tahun 1978.

“Sembilan tahun di Inrehab, saya betah di Nusa Kambangan. Bisa bertani dan beternak. Susahnya jauh dari keluarga tanpa pernah tahu alasannya,” ujar ayah empat anak ini.

Jika Anda membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer (almarhum), tidak perlu lagi dijelaskan kesulitan Tjipto dan keluarga para eks tapol yang harus bertahan hidup dengan KTP bercap khusus.

Wajib lapor, kehilangan kesempatan jadi pegawai negeri, apalagi jadi tentara. Pendek kata, hak perdatanya dikebiri. Mereka masuk kategori tidak bersih diri dan lingkungan. Sebuah stigma yang dampak negatifnya bisa begitu riil dirasakan.

Meski demikian, sejak Soeharto masuk rumah sakit beberapa pekan terakhir, Tjipto yang gurat keras wajahnya tampak menonjol itu terus memantau kondisi Jenderal Besar tersebut.

“Sebagai manusia saya memaafkan Pak Harto. Soal saya pernah dibui tanpa tahu kesalahan saya apa, anggap saja itu sial. Masih beruntung saya tidak dibunuh!”

Tidak terlalu jelas, seberapa sedih warga bangsa ini menanggapi berpulangnya Soeharto-presiden yang pernah berkuasa tiga dasawarsa lebih sebelum lengser pada 21 Mei 1998 menyusul gerakan reformasi yang dimotori kalangan mahasiswa.

Yang jelas, kedua sisi jalan di perlintasan Palur itu dijubeli manusia, dari kanak-kanak hingga tua-muda. Dan puncaknya adalah ketika sirine meraung-raung. Rombongan kendaraan yang membawa jenazah Pak Harto melintas.

Dan secara serentak, semua orang yang berada di kedua sisi jalan itu langsung berebut untuk melongokkan kepalanya, berharap bisa maksimal memandangi rombongan yang menuju Astana Giribangun tersebut.

Apakah mereka begitu sedih atau ikut simpati atas wafatnya Soeharto? Wajah-wajah yang berkerumun di perlintasan Palur itu tampak biasa-biasa saja. Entah di hati masing-masing.

Tapi Tomi, pria 35 tahun yang pekerjaanya serabutan, merasa bersedih atas wafatnya Pak Harto. Begitu mendengar berita Sang Jenderal Besar berpulang, bersama beberapa temannya asal Semarang, Tomi sejak Minggu sore sudah meluncur ke Solo, dan akhirnya ke Astana Giribangun, Karanganyar.

“Saya ini pendukung Pak Harto, Mas. Biar orang bilang apa, tapi kami orang-orang kecil merasa hidup lebih sejahtera waktu era Pak Harto,” katanya.

Tomi tidak sendirian. Suripto, sopir taksi yang biasa mangkal di Bandara Adi Soemarmo juga menyampaikan pandangan serupa. Tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Perajin kembang

Satu hal, meninggalnya seorang tokoh-apalagi sekaliber Soeharto-acap kali membawa berkah tersendiri bagi sejumlah pihak. Tak terkecuali bagi Barnas, seorang perajin kembang di Rawabelong, Jakarta Barat. Wafatnya Soeharto meningkatkan kesibukannya secara drastis.

Berputra dua orang, Barnas yang berusia 36 tahun itu tiba-tiba harus menjadwal ulang rencananya untuk pulang lebih cepat hari Minggu itu sekadar untuk bisa kumpul dengan anak-istri dan santap malam ala kadarnya.

Ada order tambahan yang tidak sabar menunggu. Barnas dengan sigap segera mengirim pesan pendek kepada sang istri lewat handphone-nya. Dia berpesan baru bisa pulang paling cepat pukul sembilan malam. “Panasin aja dulu sayurnya.”

Kesibukan tambahan yang diterima Barnas dan keempat kawannya juga terlihat di hampir seluruh sudut pasar tersebut. Dari mulai petugas parkir yang mengatur hilir-mudik kendaraan di halaman sampai kuli-kuli panggul yang berdiri menunggu mengangkut order yang selesai.

Di pukul 14.00 itu, Barnas bersama keempat temannya menerima 30 order mengerat karangan bunga. Ini order terbesar yang pernah diterimanya. Pukul empat sore, baru empat yang rampung. Itu pun sudah bagus. Biasanya dalam dua jam paling cepat selesai dua.

Beruntung tak semuanya minta diantar Minggu sore itu juga. Yang minta diantar langsung hanya beberapa yang ukurannya besar, yang harganya hampir Rp2 juta seperti pesanan dari GKR Hemas atau bos MNC Group Harry Tanoesoedibjo. Langsung diantar ke alamat Jl. Cendana, 6-8.

Barnas sendiri mengaku tak peduli untuk siapa kembang keratannya dibikin. Yang dia tahu, di hari Minggu itu ada tambahan pekerjaan, dan tentu saja, tambahan penghasilan. “Tak pernah saya iseng mikir, untuk siapa kembang-kembang ini dibikin,” katanya.

Mungkin Barnas memang tipe orang yang dingin, tapi sekaligus jujur. Tapi mungkin itu juga tak penting benar. Barnas mengerat kembang. Dengan pisau cutter-nya, dengan tali rafianya. Seseorang akan memesan dan memberikannya kepada yang sedang bersedih atau gembira. (algooth.putranto@bisnis.co.id/tri.dp@bisnis.co.id/bastanul.siregar@bisnis.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: