Pengaruh Soeharto terhadap Bahasa Pejabat

 


SURYA

Wednesday, 30 January 2008

Semua kata yang berakhiran kan (misalnya, mempertimbangkan, mengumpulkan, membiarkan dan sejenisnya, maka akhiran kan senatiasa diucapkan ‘kÿn’. Uniknya, ini tidak terjadi pada kata yang kebetulan berakhiran suku kata kan. Contoh, makan, dekan, akhir pekan, tekan, tidak pernah diucapkan oleh Pak Harto misalnya, makÿn, dekÿn, akhir pekÿn, tekÿn.

Artikel ini tidak membahas pro dan kontra antara memaafkan almarhum Soeharto (Pak Harto) sebagai presiden RI kedua Indonesia dan polemik dalam ranah hukum selepas meninggalnya pada  Minggu 27 Januari 2008. Lebih spesifik dalam ranah ilmu bahasa (linguistics), Pak Harto punya pengaruh pada bahasa pejabat, yaitu bahasa Indonesia.

Terkait dengan masalah pengaruh tersebut, ada yang positif dan ada juga yang negatif. Pengaruh positif mantan presiden RI kedua ini, tatkala dia senantiasa menunjukkan bahasa nasional dalam pentas dunia. Ke mana-mana baik dalam lawatan antarnegara bilateral maupun acara resmi internasional, Pak Harto senantiasa menggunakan bahasa Indonesia. Dalam berpidato di kancah dunia, bahasa Indonesia dikumandangkan di mana-mana.

Dalam teori bahasa terkait dengan  eksistensi bahasa nasional maka ada kajian khusus cabang ilmu bahasa ini yang dinamakan sosiolinguitics. Berdasarkan teori tersebut, terdapat beberapa status bahasa dalam kehidupan sesuai kedudukan dan fungsinya dalam suatu negara atau komunitas. Menurut ahli sosiolinguitics, Janet Holmes (1993), maka ada status bahasa tinggi (High Language/HL) dan adapula bahasa berstatus rendah (Low Language/LL).

Contoh HL adalah bahasa resmi sebagai simbol pembicara jika menggunakannya. Contohnya adalah Bahasa Indonesia di negara Indonesia, Bahasa Inggris di negara Inggris dan Amerika, atau Bahasa Prancis di negara Prancis. Dalam lingkup bahasa daerah juga ada HL misalnya dalam komunitas Jawa, kita mengenal Kromo Inggil, Kromo Madyo dan Ngoko. Bahasa tersebut jika diucapkan oleh komunitas, maka pilihan kata-katanya sesuai tiga tingkatan tersebut sekaligus menunjukkan status pembicaranya.

Contoh LL adalah bahasa pergaulan yang cenderung dipakai masyarakat bawah atau pedesaan, misalnya bahasa daerah dan bahasa prokem. Statusnya dalam negara, bahasa tersebut lebih rendah daripada Bahasa Indonesia. Jadi, jika dalam kondisi resmi maka Bahasa Indonesia harus dipakai. Sebaliknya, dalam situasi tidak resmi, misalnya antara pedagang sayur dan pembantu rumah tangga yang sedang bertransaksi, bahasa pergaulan bisa dipakai. Di daerah, mereka cenderung menggunakan bahasa daerah atau bahasa pergaulan.

Pengaruh Posistif
Karena di dunia ini banyak bahasa yang terjajah oleh bahasa lain yang lebih dominan, maka status bahasa bisa saja dikategorikan bahasa hilang (language lost) dan bahasa yang sudah mati (dead language).  Bahasa dikatakan hilang jika bahasa itu tidak dipakai oleh penutur aslinya tetapi jika dicari di daerah lain ternyata masih ada yang menggunakan. Ini bisa terjadi dalam jangka panjang misalnya Bahasa Jawa.

Bahasa Jawa yang semakin jarang dipakai suatu saat atau lambat laun bahasa ini hilang di Jawa.  Tetapi bahasa tersebut masih bisa ditemukan misalnya di Suriname, karena di sana Bahasa Jawa diimpor lewat proses  perpindahan penduduk dari Jawa yang ternyata tetap memakai bahasa tersebut di sana.

Bahasa dikatakan mati jika bahasa tersebut sudah tidak ada yang menggunakan karena lenyap bersama penutur aslinya. Contohnya adalah bahasa Indian oleh suku Indian. Bahasa ini mati karena sudah tidak ada lagi suku indian dan bahasanya pun tidak ada yang menggunakannya. Pak Harto dalam pembagunan Bahasa Indonesia sangat berperan dalam melestarikan keberadaan bahasa Indonesia. Dia juga senantiasa memasarkan bahasa di kalangan dunia termasuk dalam dialog khusus dua orang tatap muka dengan presiden atau pemimpin lain negara. Karena itu, dia senantiasa membawa penerjemah atau interpreter ke mana saja dia pergi.

Dalam teori sosiolinguistik, salah satu usaha menjunjung status bahasa apalagi bahasa nasional  adalah dengan cara menggunakannya di setiap saat. Sebagai presiden, maka Pak Harto sekaligus sebagai figur publik (public figure). Oleh karena itu, dampak pengaruhnya dalam pemakaian bahasa setiap saat selalu berdampak pada  status bahasa tersebut.

Pengaruh Negatif
Pak Harto merupakan figur publik yang sangat kontributif karena ”memasarkan” bahasa tersebut ke mana-mana. Tetapi dari segi mutu bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu, dia juga punya andil dalam degradasi mutu bahasa tersebut. Sebuah contoh adalah pengaruh ucapan Pak Harto terhadap akhiran kan. Semua kata yang berakhiran kan (misalnya, mempertimbangkan, mengumpulkan, membiarkan dan sejenisnya, maka akhiran kan senatiasa diucapkan ‘kÿn’. Uniknya, ini tidak terjadi pada kata yang kebetulan berakhiran suku kata kan. Contoh, makan, dekan, akhir pekan, tekan, tidak pernah diucapkan oleh Pak Harto misalnya, makÿn, dekÿn, akhir pekÿn, tekÿn.

Karena sebagai presiden, maka status sosialnya cenderung dianggap sebagai figur model dalam berturur bahasa. Hampir semua pejabat cenderung ‘terbawa’ dengan ucapan yang salah tersebut. Dalam tinjauan sosiolinguistik, menirukan orang nomor satu dengan status sosialnya yang tinggi identik dengan menyamakan derajadnya sebagai pejabat tinggi dengan status tinggi pula. Di sinilah yang menjadi persoalan pemakaian bahasa yang kurang tepat karena hanya dipengaruhi oleh figur publik. Di Amerika pernah terjadi kasus masalah bahasa pejabat. Menteri luar negeri Amerika, Warren Christopher, dulu senantiasa mendapat kritikan tajam karena bahasa Inggrisnya tidak merepresentasikan bahasa Inggris yang baik.

Figur publik sangat berpengaruh dalam segala pola bahasa. Misalnya, kata bonek, sebutan pendukung kesebelasan arek Suroboyo dulu pertama kali juga berasal dari tutur bahasanya seorang pejabat. Figur selain pejabat juga banyak ditirukan tutur bahasanya, misalnya artis terkenal. Istilah katrok oleh Tukul Arwana sekarang juga sudah masuk ranah pergaulan tidak hanya di kampung saja tetapi juga pada kampus/ wilayah masyarakat pendidikan.

Contoh lain pengaruh negatif Pak Harto adalah pemakaian kata daripada yang tidak tepat penggunaannya. Misalnya pada kalimat, ” Kepala sekolah daripada SMA negeri II Jakarta”, yang seharusnya ” Kepala sekolah SMA negeri II Jakarta”,  Penduduk daripada desa ini harus bisa aktif membangun desanya” yang seharusnya ”Penduduk desa ini harus bisa aktif membangun desanya”. Hampir semua pejabat mulai dari lurah sampai menteri ada yang meniru.

Di sebuah universitas swasta di Jakarta tahun 1995-1997, ketika itu saya juga kuliah bidang linguistik di sana. Di sebuah pintu kantor di kampus tersebut ditempel tulisan sebagai peringatan para mahasiswa linguistik.  Kalimatnya adalah Pak Harto mengatakan ”Saya lebih suka pembangunan daripada rakyat”. Maksudnya adalah ”Saya lebih suka pembangunan rakyat (membangun rakyat)”.

Karena seringnya memakai kata daripada dalam konteks yang salah, maka ada gurauan, bahwa  memang kenyataannya Pak Harto begitu. Dia lebih suka pembangunan. Yang secara implisit, berarti dia membangun terus tetapi mengabaikan rakyat. Prioritasnya dalam membangun negara tetapi lupa rakyat. Berkaca pada cerita di atas, maka figur publik, harus berhati-hati dalam bertutur bahasa jika tidak maka pola bahasanya akan menjadi kontaminasi bahasa rakyat.

Djuwari
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: