Pemimpin Besar



Pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut.

DALAM perspektif religius, tidak baik kita membicarakan keburukan orang yang baru saja meninggal dunia. Tak terkecuali membicarakan mantan Presiden RI H.M. Soeharto. Sebab, dengan kematian, seseorang dengan sendirinya berhadapan dengan pengadilan sejati, yang terbebas dari rekayasa. Bahkan, setiap anggota tubuh satu persatu memberikan kesaksian dalam keadaan mulut terkunci. Lebih bijaksana jika kita mencari nilai di balik kematian seseorang yang dapat dijadikan pelajaran bagi setiap orang, termasuk bagi kebaikan masa depan bangsa Indonesia.

Salah satu yang pantas menjadi harga tertinggi dari Pak Harto adalah beliau pemimpin besar. Pemimpin belum tentu steril dari salah dan keburukan. Namun, pemimpin besar senantiasa berani mengambil keputusan dan mengambil risiko apa pun yang ditimbulkan dari keputusannya tersebut. Pemimpin besar tidak maju-mundur, apalagi mencla-mencle, sore mengatakan kedelai, pagi berubah menjadi tempe.

Dalam perkembangan politik seputar tahun 1965, keberpihakan Soeharto begitu jelas, anti-komunisme dan atheisme, dan kemudian membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahwa kemudian keputusannya tersebut menimbulkan korban jiwa yang sedemikian masif, itu adalah risiko yang masih kita sesalkan dan menjadi bagian kelam sejarah Indonesia. Namun, dengan kepemimpinan Soeharto, wajah Indonesia berubah. Indonesia yang mengedepankan politik dan ideologi sebagai panglima dalam pemerintahan sebelumnya, berganti dengan Indonesia yang berwajah politik pembangunan.

Dalam beberapa dekade, kebijakan Soeharto terbukti efektif, sehingga Indonesia sempat mendapatkan julukan sebagai The New Emerging Force in Asia bersama Korea Selatan. Politik pembangunan menjadi senjata ampuh untuk meredam berbagai perbedaan bangsa Indonesia yang memang sangat plural. Dapat dikatakan, pembangunan menjadi idiom yang mampu menyatukan berbagai macam perbedaan.

Dalam dekade akhir kepemimpinannya, keberpihakan Soeharto juga semakin jelas. Seiring dengan perkembangan usianya yang semakin lanjut, kehidupan Soeharto lebih berwarna religius. Itulah sebabnya, berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan menjadi semakin dominan. Bahkan, kegiatan politik yang sering sangat sensitif pun diisi dengan warna-warna religius.

Itulah sebabnya, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pun tampil menjadi semakin populer. Golongan Karya dan parlemen, bahkan para jenderal yang “naik panggung” juga semakin ijo royo-royo, karena sebagian besar SDM-nya berasal dari kelompok yang memiliki komitmen keagamaan yang lebih baik.

Namun, kebijakan inilah yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya. Keberpihakan kepada nilai-nilai agama justru menjadi kontraproduktif karena bersamaan dengan itu, di belahan bumi lain sedang berkecamuk perbenturan peradaban (clash of civilization), pada saat peradaban Barat sedang “kesepian dari musuh” menyusul berakhirnya perang dingin akibat runtuhnya negara-negara komunis.

Jatuhnya Presiden Soeharto tak terlepas dari perkembangan global ini. Fenomenanya pun begitu jelas, krisis yang melanda Indonesia berawal dari krisis moneter yang dipicu oleh penarikan investasi Barat secara besar-besaran. Krisis yang masih menghantui bangsa Indonesia sampai saat ini tak terlepas dari keberpihakan seorang pemimpin besar. Kita tinggal menunggu kepemimpinan besar berikutnya.***

Pikiran Rakyat, Selasa, 29 Januari 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: