Obsesi Soeharto Bangun 1000 Masjid, Masih Kurang 30 Lagi Ya…


Ditulis pada oleh Ridwan

Achmad Subechi | Jakarta – Soeharto, bukanlah tipe pemimpin yang ecek ecek. Pria itu mampu bertahan di kursi kekuasaannya selama 32 tahun, karena pola kepemimpinannya yang tegas, keras dan tidak banyak retorika. Wajar saja di era kekuasaannya, tak banyak penduduk di negeri ini yang berani melakukan perlawanan secara frontal. Di penghujung usianya, ada satu obsesi yang hingga kini mungkin belum kesampaian. Soeharto pernah memiliki niat untuk membangun masjid di negeri ini sebanyak 1000 buah melalui Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP). “Jadi saya menilai ada kesan mendalam bagi umat Islam tentang perjuangan Pak Harto dalam membangun tempat peribadatan tersebut.,

Sampai kini angka 1000 masjid itu memang belum tercapai, tapi hampir terpenuhi. Dan boleh jadi mungkin karena obsesi ini telah memanjangkan umur beliau,” kata Dr dr Tarmizi Tahir, seperti yang tertuang dalam buku HM Soeharto Membangun Citra Islam. Tamizi sendiri tersentak terhadap obsesi Soeharto itu manakala ada tokoh Islam asal Maluku bernama Habib Husein Alatas, bercerita soal keinginan atau cita cita Soeharto.

“Pak Tarmizi, Pak Harto telah membuat masjid besar lebih banyak dibandingkan dengan ormas dan lembaga Islam. Sampai sekarang saya memperhatikan, beliau mencatat secara sungguh-sungguh bahwa salah satu obsesinya adalah membangun masjid sampai 1000 buah,” kata Habib Husein Alatas kepada Tarmizi.

Di mata Tarmizi, obsesi Soeharto itu pada awalnya melahirkan kontroversi karena uang yang dipakai membangun masjid itu berasal dari uang para pegawai negeri (PNS). “Saya melihat itu sesuatu yang lumrah saja. Menurut hemat saya, walaupun uang untuk membangun masjid itu berasal dari pegawai negeri yang beragama Islam, tidak banyak diantara mereka yang merasa bahwa merekalah yang membangun masjid.

Padahal tanpa disadari, tanpa dirasa, para pegawai negeri itu akan dapat sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, barang siapa membangun masjid di bumi ini, maka nanti di akhirat akan dibangunkan Allah masjid di surga,” kenang Tarmizi. 22 November 2006 lalu, tim penulis buku Pak Harto Habis Manis Sepah Dibuang – Dwi Ambar Sari Lazuardi Adi Sage datang ke kediaman Soeharto di Cendana.

Ruangan pertemuan antara Soeharto dengan tim penulis buku, amat sangat sederhana. “Pak Harto mengenakan baju koko warna putih dan sarung bergaris kotak kotak berwarna coklat terang. Ruangan di kediaman tempat kami diterima, sangatlah sederhana. Rumahnya, sama sekali tak menyiratkan kemewahan. Jauh dari modern.” Ketika itu kondisi kesehatan Soeharto jauh menurun.

Tubuhnya tampak lemah, bicaranya agak sulit, sehingga komunikasi menjadi terbatas. Suaranya pelan, parau dan bergumam. Pendengarannya juga jauh sudah berkurang. Soeharto lebih banyak menganguk anggukan kepala. Rambutnya semakin memutih, tangannya terlihat lunglai, matanya sayu, namun senyum khasnya terus mengembang. Meski untuk bicara saja Soeharto agak susah, namun ia sempat menceritakan obsesinya untuk membagun 1000 masjid di negeri ini.

”Kami sudah membangun sekitar 960 masjid. Masih kurang tiga puluh lagi ya…” tanya Soeharto kepada tim penulis bukunya. Soeharto juga merasa bangga dengan keberhasilan putra putri bangsa yang dibiaya dari bea siswa Super Semar. ”Sekarang, sudah banyak yang jadi orang. Jadi sarjana, jadi profesor, jadi pejabat, juga jadi menteri ya…” tutur Soeharto sambil tertawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: