Memaafkan Soeharto dan Siapapun

SURYA

Monday, 28 January 2008

“Dengan Memaafkan, kita membangun jembatan ke masa depan”(Sydney Newton Bremer)
Memaafkan atau mengampuni ternyata bisa menjadi masalah yang pelik di negri ini, apalagi terkait mantan presiden Soeharto. Ada saja pertanyaan, gugatan atau reaksi setiap kali ada ajakan untuk memaafkan mantan penguasa Orba itu. Misalnya ajakan Amien Rais agar bangsa ini, termasuk warga Jatim memaafkan Pak Harto (Surya, 15/1/hal 1).
Berbagai kritik balik menyerang Amien seperti bisa kita baca di milis-milis, karena dia dianggap sebagai salah satu tokoh Gerakan Reformasi 1998 yang paling lantang mengecam dan meminta Pak harto lengser, tapi kini tiba-tiba berubah pikiran. Sultan Hamengku Buwono X juga mempertanyakan (Surya 16/1).

\Ada yang menilai ajakan memaafkan Soeharto adalah sebuah sikap gedhe rasa (GR), karena Pak Harto tidak pernah minta maaf selama sehat dulu, meskipun anak cucunya pernah memintakan maaf atas semua kesalahannya. Kalau Pak Harto tidak pernah minta maaf, karena dia merasa tidak berbuat salah seperti dituduhkan oleh para penetangnya, maka apa bisa kita memaafkan orang yang tak mau minta maaf? Meskipun sejarawan Asvi Warman Adam pernah menulis 10 Dosa Besar Soeoharto di sebuah media Jakarta, tapi kalau Pak Harto tidak merasa berdosa, apa  perlunya kita memaafkannya?

Hari-hari inipun, penulis juga repot menjawab pertanyaan apakah dari persepektif agama, kita perlu memaafkan Soeharto? Semua agama, seperti Islam, Yahudi dan Kristen  tentu mengajarkan betapa mulianya memaafkan kesalahan orang lain. Islam mengajarkan:” Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asy Syuura [42]: 43).

Allah SWT juga  berfirman,” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat [41]: 34).

Dalam ajaran Kristen, mulianya memaafkan tampak dari pertanyaan Petrus. Suatu ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”  (Matius 18:21-35). Pada jaman itu, para guru agama Yahudi mengajarkan umat harus mengampuni saudaranya bila ia berbuat salah sebanyak satu atau dua kali. Pada kali yang ketiga menurut hukum Taurat, umat Yahudi memiliki hak membalas kesalahan saudaranya. Jadi dengan mengusulkan tujuh kali, Petrus berpikir ia sudah jauh lebih baik dari pengajaran hukum Taurat.

Tak disangka Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Angka tujuh menunjukan sesuatu yang sempurna, sedang angka sepuluh menunjuk pada hal yang lengkap dan utuh. Artinya hendaknya manusia (umat Kristiani) mengampuni saudaranya setiap kali saudaranya bersalah, meski sampai 70 kali bersalah.

Hanya manusia bijaksana saja yang mampu menghayati pengampunan dalam arti yang sebenarnya.  Solzhenitsyn suatu ketika mengatakan, manusia  berbeda dari binatang bukan karena kemampuan berpikir kita, melainkan kemampuan kita untuk bertobat, dan mengampuni. Manusia menduduki hirarkis tertinggi dalam order penciptaan karena mampu mengampuni. Sayangnya, dalam keadaan terluka kita sering lupa manusia memiliki kemampuan untuk mengampuni atau memaafkan.

Dengan memaafkan siapapunn yang bersalah, sebenarnya kita juga menyembuhkan luka atau penyakit  yang ada dalam diri kita sendiri. Dengan demikian kita menjadi manusia yang sehat. Pengampunan memang terbukti kesembuhan. Hubungan antara pengampunan dan kanker telah diselidiki lama oleh para ahli kanker. (O. Carl Simonton, M.D., Stephanie Matthews-Simonton, and James L. Creighton, Getting Well Again, New York, NY: Bantam Books, 1978).

Urusan Hukum Soeharto
Jadi terkait Soeharto, dari sisi ajaran agama yang ktia anut,  kita sebaiknya  memaafkannya. Meskipun  Pak Harto tidak mau minta maaf, terserah saja pada kita semua, baik yang pendukung atau penentangnya untuk mau memaafkan.  Seperti mendiang Paus Yohannes Paulus II memaafkan penembaknya Mehmet Ali Agca, bahkan memeluk dan berbincang di ruang penjara, tapi jangan lupa toh pengadilan Italia tetap menghukum Ali Agca. Kita bisa memaafkan Soeharto, tapi kita tidak bisa mencampuri  urusan hukum Soeharto. Sebagai sesama ciptaan Tuhan, kita memaafkan Soeharto. Tetapi sebagai warga negara Indonesia, kita serahkan urusan Soeharto pada pemerintah dan pengadilan negeri ini.

Seperti kita tahu, Presiden SBY tetap mengambil keputusan untuk mengadili Seoharto jika kelak Pak Harto sudah sembuh. Pakar hukum yang menjadi penasihat Presiden SBY  Adnan Buyung Nasution menuding, pihak yang mengusulkan supaya mantan Presiden Soeharto diampuni tanpa melalui mekanisme hukum malah tidak memiliki nalar. Mereka sebenarnya hanya ingin membalas budi atas tindakan yang telah diberikan Soeharto pada saat berkuasa tanpa mempedulikan keadilan di tingkat masyarakat. Dia menambahkan pengampunan terhadap Soeharto hanya dapat dilakukan melalui proses pengadilan yang fair.

Rekonsiliasi Nasional
Ada satu permintaan penulis, jika kita bisa memaafkan Soeharto, kita juga harus memaafkan para Koran HAM di awal rejim Soeharto berkuasa, yakni mereka yang dituduh terlibat PKI atau Peristiwa 1965. Sebagaian dari korban HAM itu juga ikut membesuk Pak Harto. Harus diakui banyak dari kita masih belum bisa memaafkan mereka yang dituduh terlibat PKI(1965). Terkait Peristiwa 1965, masih cukup banyak anak bangsa sungguh  menghidupi apa yang menjadi ajaran sastrawan dan filosof eksistensialis Prancis Jean Paul Sartre “l’enfer, c’est l’autret” atau “orang lain adalah neraka”. Pemaafan atau rekonsiliasi menjadi tak mudah sehingga dendam dan kebencian masih subur di sana sini.

Bahkan anak cucu mereka yang tidak tahu Peristiwa 1965 ikut menanggung stigma dan menjadi sasaran kebencian. Tan Malaka yang diangkat Bung Karno jadi pahlawan, di era masa Soeharto dicoret dari daftar pahlawan nasional.

Jadi kalau kita bisa berempati pada Soeharto dengan memaafkannya, maka kita juga harus berempati pada para korban HAM semasam rejim Soeharto? Kalau kita berani mengakui jasa-jasa Pak Harto, kita juga harus  mengakui jasa-jasa Tan Malaka dan mereka yang berseberangan dengan Seoharto. Jadi kita jangan pilih kasih atau diskriminatif dalam memaafkan atau mengakui kontribusi seseorang.

Setidaknya dengan bisa memaafkan baik Soeharto maupun lawan dan korban politiknya, akan tercipta rekonsiliasi sejati di negri ini. Dengan demikian kita tidak akan terus dibelenggu persoalan masa lalu. Kita perlu menjadikan Mandela sebagai guru dalam hal ini.  Dalam bukunya, Long Walk To Freedom Mandela menulis : “Aku ingin Afrika Selatan melihat bahwa aku mencintai musuh-musuhku, sementara aku membenci sistem yang menyebabkan kita bermusuhan.” Dengan spirit kasih seperti itu, Mandela berhasil mewujudkan cita-cita rekonsiliasi Afrika Selatan.

Betapa indahnya jika Indonesia,  negeri yang  memproduksi batik yang digemari Mandela ini, juga memakai spirit Mandela untuk berani memaafkan, bukan hanya untuk Pak Harto tapi juga siapapun. Dengan memaafkan, kita bisa membangun jembatan ke masa depan, seperti dikatakan Newton Bremer di awal tulisan ini. Bagiamana?

Tom Saptaatmaja
Kolumnis, Alumnus STFT Widya Sasana Malang (1992).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: