Lebih Dekat dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta

INDOPOS

Kaum Perempuan Adalah Aset
Sempat bingung menentukan arah kebijakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan yang dipimpinnya, tiga tahun kemudian Meutia Hatta semakin mantap menyerukan perang terhadap pelecehan perempuan, termasuk human trafficking.

Pendiam dan murah senyum adalah kesan pertama ketika bertemu Meutia Farida Hatta Swasono. Gaya berbicaranya lamat-lamat, termasuk ketika membahas soal perempuan. Namun, penerus keturunan Bung Hatta itu punya prinsip soal pemberdayaan perempuan.

Tak seperti persepsi pada masa Orde Baru yang menempatkan perempuan di sektor domestik dan dilemahkan dalam bidang politik, Meutia berpendapat bahwa perempuan adalah aset dan punya hak untuk berkembang. “Jangan melihat perempuan sebagai beban, tapi lihatlah sebagai aset,” ujarnya.

Dia lantas mengungkapkan bahwa masih ada saja diskriminasi terhadap perempuan. Dalam masyarakat, kata dia, perempuan masih dianggap sebagai warga negara kelas dua. Meski sudah ada upaya-upaya untuk memberdayakan perempuan, masih ada masalah diskriminasi maupun kultur yang paternalistis. “Itu harus dibenahi,” tegasnya.

Pelecehan pun kerap dialami perempuan. Tak hanya di lapisan bawah, pelecehan juga terjadi di lapisan atas. “Pelecehan terjadi di kalangan dewan terhormat, juga publikasi media massa yang cenderung melecehkan citra perempuan,” ujarnya.

Tak heran, dalam masa kerjanya sebagai menteri pemberdayaan perempuan (PP), mantan deputi Bidang Pelestarian Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam Kabinet Gotong Royong itu menyatakan perang terhadap pelecehan perempuan.

Saat terkuak banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban perdagangan perempuan (human trafficking), termasuk di luar negeri, kementerian yang dia pimpin tak tinggal diam.

Meski tak punya kaki di daerah-daerah, Meutia pasang aksi dalam kebijakan. Sampai akhirnya, pemerintah menyetujui RUU Pemberantasan Tindak Perdagangan Orang pada 2007. Menurut Meutia, salah satu poin penting dalam RUU tersebut adalah rehabilitasi bagi korban.

Realitas bahwa banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban kejahatan perdagangan manusia harus dijadikan pelajaran.Menurut dia, ada dua hal yang bisa dilakukan pemerintah. Yakni, memberikan pelatihan wirausaha agar perempuan bisa mengembangkan potensinya. Selain itu, perluasan kerja bagi perempuan harus dipikirkan. “Dengan demikian, perempuan tidak mudah terbujuk iming-iming bekerja mudah, gaji tinggi, di luar negeri,” ungkapnya.

Sebagai antropolog, perempuan berkacamata tersebut menuturkan, karakter perempuan tangguh sudah ada dalam budaya Indonesia. “Generasi muda harus tahu ada karakter tangguh pada masa lalu. Tapi, mengapa sekarang ada perempuan yang lembek?” katanya.

Masih ada perempuan yang tidak mau belajar, meski kesempatan sudah terbuka lebar. Padahal, keinginan untuk maju dan belajar merupakan poin utama emansipasi.

Komitmen politik untuk kesetaraan gender juga penting. Menurut Meutia, salah satu permasalahan yang dihadapi perempuan adalah adanya usaha pelemahan secara politik. Padahal, dunia politik bukan wilayah tabu bagi perempuan. Selain mendukung 30 persen keterwakilan perempuan dalam legislatif, istri Sri Edi Swasono tersebut bahkan sudah terjun ke dunia politik. Dia telah resmi menjabat ketua umum antarwaktu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Sebagai wanita yang terjun dalam dunia politik, Meutia sudah punya patron. Meski Muhammad Hatta, ayahnya, lebih dikenal sebagai ekonom dan bukan politikus, prinsip-prinsip hidup Hatta sebagai salah seorang pemimpin Indonesia bisa ditiru.

Salah satu yang diungkap Meutia adalah komitmen sang ayah yang memisahkan urusan negara dan keluarga. Dia menceritakan, kebijakan pemotongan nilai uang, yakni nilai uang Rp 100 menjadi Rp 1 (sanering) sudah membuat ibunya urung membeli mesin jahit dari tabungan yang dikumpulkan dari gaji Hatta sebagai wakil presiden yang tak seberapa. Namun, kebijakan itu tak disampaikan Hatta kepada keluarganya.”Itu rahasia negara, tak boleh diberi tahu,” ujarnya.

Keberanian Hatta untuk mundur dari pemerintahan karena merasa tak sependapat dengan kebijakan Soekarno patut ditiru. Menurut Meutia, Hatta bukan sosok yang mengejar jabatan.

Selain itu, kedisiplinan Hatta menjadi contoh bagi ibu satu anak tersebut. Hatta yang sangat mencintai buku akan marah jika ada orang yang tak bertanggung jawab dan mengembalikan bukunya dalam kondisi rusak atau terlipat.

Meski menyandang gelar proklamator, Hatta tak pernah menuntut banyak atas pengorbanan dirinya pada masa perjuangan. Termasuk ketika uang pensiun yang diterima tak cukup untuk membiayai kebutuhan rumah tangga.

“Mendisiplinkan diri sendiri sebelum mendisiplinkan orang lain jauh dari nilai-nilai yang mereka anut. Apalagi mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi sebagai penguasa,” ungkap Meutia soal sosok pemimpin Indonesia masa kini yang jauh dari kesan dirinya terhadap Hatta. (ein/ib)

One Response

  1. Saya ingin sekali mengetahui apa ada program khusus untuk membiayai orang-orang yang ingin kuliah tetapi tidak memiliki uang?
    Kalau ada bagaimana syaratnya . Tolong balas. Terimakasih banyak atas segala perhatiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: