Kalla: SBY Sudah Gelari Pak Harto Pahlawan

Kamis, 31 Jan 2008,
INDOPOS

JAKARTA – Partai Golkar pantang mundur untuk memperjuangkan agar mantan Presiden soeharto mendapat gelar pahlawan nasional. Partai berlambang beringin itu tak peduli dengan kontroversi yang berkembang di masyarakat tentang masa lalu penguasa Orde Baru yang berkuasa 32 tahun itu.

Ketua Umum DPP Partai Golkar M. Jusuf Kalla menegaskan hal tersebut usai membuka seminar nasional e-government di aula Kantor Pusat DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Nelly Murni, Slipi, Jakarta, Rabu (30/1) kemarin. “Melalui satu proses, Partai Golkar tentu segera mengajukan. Kan ada prosedur baku dan ketentuan undang-undang tentang pemberian gelar pahlawan. Misalnya, diusulkan daerah, digelar seminar, dan lain-lain,” katanya.

Di era Orde Baru, Golkar identik dengan Soeharto. Maklum, Soeharto menjabat ketua dewan penasihat yang mempunyai kekuasaan di atas dewan pengurus. Golkar juga menjadi mesin politik yang menopang kekuasaan lebih dari tiga dekade itu.

Golkar akan menggelar seminar mengupas kontribusi Soeharto bagi bangsa dan negara. Seminar tersebut sekaligus menentukan kriteria pahlawan yang cocok bagi Soeharto. “Kriterianya kan bermacam-macam. Ada pahlawan revolusi, pahlawan nasional, dan lain-lain,” terang wakil presiden.

Kalla menegaskan, Golkar bukan satu-satunya pihak yang menginginkan Soeharto mendapat gelar pahlawan dari pemerintah. Pasalnya, gelar pahlawan secara tidak resmi sudah diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam upacara pemakaman Soeharto di Astana Giribangun, Senin (28/1) lalu. “Pak SBY telah menyebutkan bahwa almarhum Soeharto adalah Bapak Pembangunan Nasional,” tuturnya.

Penegasan kelayakan Soeharto menerima gelar pahlawan juga disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Muladi. Dari segi kontribusi bagi bangsa dan negara, Soeharto dinilai sekaliber mantan Presiden Soekarno. Karena itu, Muladi menilai hanya segelintir rakyat yang menolak gelar pahlawan bagi Soeharto.

Tapi, bukankah sebagian masyarakat tetap menuntut pengusutan terhadap kesalahan Soeharto di masa lalu? Khususnya tuntutan perdata yang kini digelar di PN Jakpus.

“Memang ada yang anti dan menolak. Tapi, yang mendukung lebih banyak. Masak kita harus gelar referendum? Usul itu sudah keputusan Partai Golkar, karena itu prosesnya harus jalan,” tegas Muladi.

Pakar hukum pidana itu juga menilai kasus hukum Soeharto dengan sendirinya gugur sejak meninggal. “Sebenarnya, saat almarhum Pak Harto tiada, surat kuasa (kasus perdata) pada pengacara sudah ditutup, juga dalam kasus pidananya. Tapi, kita belum tahu sikap keluarga sebagai ahli waris Pak Harto. Kita lihat saja,” katanya.

Sebelumnya, di sela-sela memberikan sambutan pembukaan seminar, Kalla sempat memimpin pembacaan surat Al-Fatihah bagi Soeharto. “Dalam masa berkabung nasional ini, mari kita baca Al-Fatihah buat Pak Harto. Karena beliau adalah ketua Dewan Pembina Golkar,” tuturnya.

Meski saat ini memimpin partai politik yang kelahirannya dibidani Soeharto, Kalla mengaku tak begitu dekat dengan mantan penguasa Orde Baru ini. Pasalnya, ketika Soeharto berkuasa, Kalla hanya seorang pengusaha di Makassar.

Kendati begitu, Kalla mengaku memiliki kenangan tersendiri dengan Soeharto. Suatu ketika, dalam kapasitas sebagai ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Kalla diundang Soeharto ke Istana Negara. Keduanya sempat berbincang empat mata.

“Besoknya saya dikritik ketika foto pertemuan itu dimuat di koran. Saya dibilang tidak sopan, karena saat berbicara, tangan saya terangkat sehingga lebih tinggi dari Beliau. Saya tidak tahu itu. Saya kan orang Makassar,” tutur Kalla.

Pertemuan sekilas dengan kepala negara tersebut berdampak besar bagi bisnis keluarganya. Ketika itu, dia mengeluhkan mahalnya tarif percakapan telepon di Indonesia bagian timur, karena tarif telepon dibagi dalam enam zona.

Mendengar keluhan itu, Soeharto meminta Kalla berkirim surat kepada PT Telkom dan ditembuskan kepada presiden. “Sekitar tiga bulan setelah pertemuan, permintaan saya disetujui. Biaya percakapan telepon SLJJ dibagi dalam tiga zona, sampai sekarang,” kenangnya.

Penurunan tarif itu tak pelak merugikan bisnis telekomunikasi di Indonesia Timur yang digarap perusahaannya. “Tahun pertama saya rugi. Tapi, tahun berikutnya saya untung,” ujarnya. (noe/tof)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: