KAPOLRI BARU, HARAPAN BARU

Kamis malam, Pukul 22.30 WIB, 9 Oktober 2008. Suasana Mabes Polri gelap gulita. Lampu-lampu mati. Hening dan khidmat saat seluruh anggota keluarga besar Mabes Polri, yang terdiri para Polwan dan Polantas berbaris di sepanjang jalan dengan lilin menyala di tangan.
Pada malam itu, Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Pol Sutanto menjalani prosesi lepas sambut dengan mengelilingi kompleks Mabes Polri. Lampu-lampu itu sengaja dimatikan.Sutanto yang mengenakan baju dinas lengkap dan berkalung rangkaian bunga, bersama istrinya Heni Sutanto, menaiki mobil jip terbuka berwarna gelap. Mengiringi di belakangnya Kapolri baru Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri bersama istrinya Ani Danuri yang juga menaiki mobil serupa.
Sementara 30 pasukan pedang pora dari siswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) berbaris di depan mobil. Mengiringi perjalanan mobil itu, melantun sejumlah lagu perjuangan, seperti Syukur dan Padamu Negeri. Lagu Dealova milik Once juga ikut dinyanyikan lima angota Polwan melalui pengeras suara.
Suasana semakin khidmat saat mobil yang ditumpangi kapolri dan mantan kapolri itu berhenti di sejumlah titik. Di setiap titik perhentian itu, sebuah puisi perpisahan dibacakan oleh seorang anggota Polwan.
Iring-iringan mobil itu akhirnya mendekati pintu gerbang utama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Seluruh jajaran keluarga besar Polri ikut mengantar kedua mobil. Sesampai di ujung pintu gerbang, Sutanto dan isri turun dari mobil jip yang membawa mereka dan mendekati Bambang dan istri. Mereka kemudian berjabat tangan dan berpelukan.
Sutanto akhirnya benar-benar meninggalkan Mabes Polri pukul 23.25 WIB dengan dengan disambut mobil pribadinya yang telah menunggu di depan pintu gerbang utama. Bersamaan dengan itu, sebuah layar LCD raksasa yang berada di depan gedung utama Mabes Polri menampilkan banner berkedip ‘Selamat Pemimpin Baru’.
Wajah bahagia itu tampak menghiasi raut BHD–begitu Kapolri baru ini disapa. Ia tak hentinya tersenyum cerah menerima ucapan selamat dari para undangan.
Hari bersejarah itu jatuh pada 30 September 2008. Secara resmi BHD dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), menggantikan Jenderal Pol. Sutanto yang memasuki pensiun pada akhir September lalu.
Banyak harapan digantungkan masyarakat kepada Kapolri baru itu. BHD tampaknya juga menyadari akan hal itu. Hanya saja, naiknya BHD sebagai Kapolri justru dihadapkan pada masalah cukup berat. Ini menyusul rencana revisi UU No.14 tahun 1992.
“Ada upaya untuk mengergaji kewenangan Polri,” ucap BHD lirih kepada mantan Kapolri Sutanto.
Selain adanya usaha untuk merevisi UU No.14 tahun 1992., juga muncul Rancangan Undang-Undang (RUU) Keamanan Nasional (Kamnas) yang menurut BHD merupakan usaha untuk mengintervensi polisi. Di samping itu, RUU KUHAP yang memposikan polisi di bawah kejaksaan.
RUU KUHAP itu mencoba memposisikan Polri sebagai underbow jaksa penuntut umum.
Itu sebabnya BHD mengingatkan tantangan yang dihadapinya tersebut sangat berat, sehingga seluruh anggota Polri mau memikul beban ini secara bersama-sama. “Tantangan kita berat, namun harus kita hadapi. Tidak ada waktu untuk mundur ke belakang,” ucap BHD.
BHD menegaskan, reformasi dan peningkatan profesionalitas Kamis malam, Pukul 22.30 WIB, 9 Oktober 2008. Suasana Mabes Polri gelap gulita. Lampu-lampu mati. Hening dan khidmat saat seluruh anggota keluarga besar Mabes Polri, yang terdiri para Polwan dan Polantas berbaris di sepanjang jalan dengan lilin menyala di tangan.
Pada malam itu, Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Jenderal Pol Sutanto menjalani prosesi lepas sambut dengan mengelilingi kompleks Mabes Polri. Lampu-lampu itu sengaja dimatikan.
Sutanto yang mengenakan baju dinas lengkap dan berkalung rangkaian bunga, bersama istrinya Heni Sutanto, menaiki mobil jip terbuka berwarna gelap. Mengiringi di belakangnya Kapolri baru Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri bersama istrinya Ani Danuri yang juga menaiki mobil serupa.
Sementara 30 pasukan pedang pora dari siswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) berbaris di depan mobil. Mengiringi perjalanan mobil itu, melantun sejumlah lagu perjuangan, seperti Syukur dan Padamu Negeri. Lagu Dealova milik Once juga ikut dinyanyikan lima angota Polwan melalui pengeras suara.
Suasana semakin khidmat saat mobil yang ditumpangi kapolri dan mantan kapolri itu berhenti di sejumlah titik. Di setiap titik perhentian itu, sebuah puisi perpisahan dibacakan oleh seorang anggota Polwan.
Iring-iringan mobil itu akhirnya mendekati pintu gerbang utama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan. Seluruh jajaran keluarga besar Polri ikut mengantar kedua mobil. Sesampai di ujung pintu gerbang, Sutanto dan isri turun dari mobil jip yang membawa mereka dan mendekati Bambang dan istri. Mereka kemudian berjabat tangan dan berpelukan.
Sutanto akhirnya benar-benar meninggalkan Mabes Polri pukul 23.25 WIB dengan dengan disambut mobil pribadinya yang telah menunggu di depan pintu gerbang utama. Bersamaan dengan itu, sebuah layar LCD raksasa yang berada di depan gedung utama Mabes Polri menampilkan banner berkedip ‘Selamat Pemimpin Baru’.
Wajah bahagia itu tampak menghiasi raut BHD–begitu Kapolri baru ini disapa. Ia tak hentinya tersenyum cerah menerima ucapan selamat dari para undangan.
Hari bersejarah itu jatuh pada 30 September 2008. Secara resmi BHD dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), menggantikan Jenderal Pol. Sutanto yang memasuki pensiun pada akhir September lalu.
Banyak harapan digantungkan masyarakat kepada Kapolri baru itu. BHD tampaknya juga menyadari akan hal itu. Hanya saja, naiknya BHD sebagai Kapolri justru dihadapkan pada masalah cukup berat. Ini menyusul rencana revisi UU No.14 tahun 1992.
“Ada upaya untuk mengergaji kewenangan Polri,” ucap BHD lirih kepada mantan Kapolri Sutanto.
Selain adanya usaha untuk merevisi UU No.14 tahun 1992., juga muncul Rancangan Undang-Undang (RUU) Keamanan Nasional (Kamnas) yang menurut BHD merupakan usaha untuk mengintervensi polisi. Di samping itu, RUU KUHAP yang memposikan polisi di bawah kejaksaan.
RUU KUHAP itu mencoba memposisikan Polri sebagai underbow jaksa penuntut umum.
Itu sebabnya BHD mengingatkan tantangan yang dihadapinya tersebut sangat berat, sehingga seluruh anggota Polri mau memikul beban ini secara bersama-sama. “Tantangan kita berat, namun harus kita hadapi. Tidak ada waktu untuk mundur ke belakang,” ucap BHD.
BHD menegaskan, reformasi dan peningkatan profesionalitas Polri akan membuat Polri senantiasa mampu memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
BHD mengaku sudah memberikan penjelasan tentang visi dan misinya kepada para perwira tinggi Polri baik yang berada di Mabes Polri maupun Polda-Polda. “Saya sudah jabarkan ke Pati Polri, selanjutnya akan saya jelaskan secara time line agar dapat dimonitor teman-teman LSM, Kompolnas, dan Komisi III,” ujarnya.
BHD berjanji aparatnya tidak akan menyimpang dan dicintai oleh masyarakat. “Amanah yang diberikan akan kami laksanakan dengan penuh tanggung jawab dan penuh keikhlasan. Ke depan Polri akan makin di cinta dan dipercayai oleh masyarakat,” ujar BHD.
BHD berkomitmen akan bersikap tegas terhadap segala tindak kejahatan yang terjadi. “Tegas bukan arogan, bukan melanggar HAM. Tegas berarti menghadapi tiap jenis kejahatan tanpa kompromi.”
Dari beberapa tindak kejahatan yang telah menjadi prioritas penanganan Polri, dirinya akan lebih khusus menyoroti perjudian, illegal logging dan illegal mining. “Tidak ada kompromi jika ada pembiaran dari jajaran bawah sampai atas terhadap tindak kejahatan,” cetus BHD.
BHD juga menegaskan komitmennya untuk mengamankan Pemilu 2009 tanpa terlibat dalam politik praktis.
Ia berjanji menjalankan program dengan prinsip hemat struktur dan kaya fungsi supaya tidak membebani anggaran yang ada. Misalnya, mengubah struktur Densus 88/Antiteror; dari semula di setiap Polda menjadi cukup di delapan wilayah strategis. Di antaranya Jakarta dan Surabaya.
Dia juga akan menempatkan enam pangkalan wilayah Polisi Air di tempat strategis, membangun Indonesian Automotive Fingerprint Information System, membikin Pusat Informasi Kriminal Nasional, melanjutkan pembangunan kesatuan wilayah, dan memperbaiki manajemen keuangan Polri.
***
Salah satu yang patut diapresiasi dari kinerja Kepolisian kini adalah tumbuhnya semangat melayani. Polisi yang dulu lahir dan dibesarkan dalam semangat militerisme semakin berwajah dan berwatak sipil. Polisi secara umum tidak lagi angker seperti dulu. Dalam beberapa bidang tugas, khususnya yang berkaitan dengan pemberantasan terorisme, kinerja polisi patut mendapat acungan jempol.
Sedangkan kondisi yang membuat citra buruk institusi kepolisian di negeri ini adalah tindakan kekerasan dan korupsi yang dilakukan oleh (oknum) anggota kepolisian. Dari tahun ke tahun, perilaku menyimpang tersebut selalu terjadi dan mencoreng nama baik korps kepolisian.
Inilah tugas BHD yang perlu mendapatkan penanganan ekstra. Masalah tindakan kekerasan, misalnya. Selama 2007 sampai 2008, Komisi Nasional untuk Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat, ada 180 kasus kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Jumlah itu lebih besar daripada tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang hanya 18 kasus.
Faktanya, kekerasan tidak saja dilakukan antara aparat polisi dengan warga masyarakat yang harusnya dilindungi, tapi juga antara aparat polisi dengan aparat keamanan lainnya, yakni TNI.
Hal ini membuat masyarakat tidak terlindungi dan tidak nyaman jika bersentuhan langsung polisi.
Sejumlah kalangan menilai, setidaknya terdapat dua faktor munculnya perilaku kekerasan oleh polisi. Pertama, faktor psikologis personal. Kompleksitas tugas polisi di lapangan ditambah penghasilan yang minim dapat menyebabkan mereka mudah stres dan frustrasi.
Selain tingkat ancaman dan risiko pekerjaan sangat tinggi, polisi bekerja selama 24 jam per hari dan tujuh hari dalam seminggu tanpa mengenal hari libur dan cuaca. Polisi dituntut untuk selalu berdisiplin tinggi, patuh pada peraturan yang berlaku dan tunduk pada perintah atasan, serta cepat dan tanggap dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi inilah yang mendorong agresivitas polisi dalam penanganan sebuah perkara.
Kedua, faktor kebanggaan korps. Kebanggaan yang berlebihan seringkali menjadikan arogansi korps. Diakui atau tidak, menjadi seorang polisi adalah sebuah prestasi bagi sebagian orang. Artinya, identitas tersebut adalah pencapaian yang dihargai tinggi. Dalam tradisi militer, dikenal istilah korsa (kebersamaan) dan kebanggaan korps. Pembelaan terhadap sesama anggota korps adalah bentuk kebersamaan itu.
Kebanggaan korps ini juga sering mengakibatkan bentrokan antarelemen. Misalnya, antara TNI dengan Polri. Arogansi yang muncul menjelma menjadi agresivitas yang memalukan.
Selain tindakan kekerasan, rusaknya citra kepolisian ini disebabkan praktik korupsi dan kolusi oleh aparat polisi itu sendiri.
Fenomena korupsi semacam ini dapat ditemui dalam lingkup tugas polisi yang berkaitan dengan penegakan hukum, pelayanan masyarakat, dan pelaksanaan wewenang.
Persoalan korupsi di kepolisian merupakan persoalan yang tidak kunjung usai. Dalam sejarahnya, korupsi di tubuh kepolisian bukanlah barang baru, bahkan sudah menjadi rahasia umum yang semua orang sudah mahfum.
Hasil penelitian Indonesia Corruption Watch (ICW) mengenai proses pemgurusan surat izin mengemudi dan pola-pola korupsi di lingkungan peradilan khususnya di kepolisian memperkuat anggapan bahwa korupsi di korps Bhayangkara bukan isapan jempol belaka.
Berdasar hasil penelitian ICW di enam kota besar di Indonesia pada 2001, korupsi yang dilakukan oleh polisi biasanya terjadi pada proses penyelidikan dan penyidikan suatu perkara. Permintaan uang jasa, penggelapan perkara, negoisasi perkara, dan pemerasan merupakan pola yang umum dilakukan oleh polisi.
Parahnya, upaya membuat jera polisi yang melakukan kekerasan dan korupsi dengan membawa ke proses hukum hingga pengadilan dapat dihitung dengan jari.

Mengubah Paradigma
Itu sebabnya sejumlah kalangan berpendapat, selain tetap mendorong profesionalitas, upaya mengubah paradigma dari polisi yang kasar dan korup menjadi polisi yang tegas namun santun serta bersih dari korupsi adalah tantangan paling besar dan pekerjaan rumah bagi Kapolri yang baru.
Perlu ada perubahan fundamental di kepolisian untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Fungsi kepolisian harus tetap ditempatkan sebagai salah satu bagian pemerintahan di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat
Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan mengatakan, salah satu program kerja Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri adalah perubahan kultur. Ini sangat mustahil tercapai dalam kurun waktu dua tahun. “Pak Bambang kan dua tahun lagi pensiun sehingga masa jabatannya sebagai Kapolri ya dua tahun. Mana bisa mengubah kultur secepat itu,” katanya.
Perubahan kultur membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan perubahan lain. Selain itu, Trimedya juga meragukan terjadinya pelayanan prima selama BHD menjabat sebagai Kapolri karena juga terkait dengan perilaku. “Saya hanya bisa mengamati saja. Apakah perubahan kultur dan pelayanan bisa terlaksana,” katanya.
Kalau menyangkut program kerja lain seperti penegakkan hukum dan program lain, Trimedya mengaku optimistis dapat terlaksana. Komisi III DPR, katanya, kini hanya akan mengamati apakah apa yang akan disampaikan saat uji kepatutan dan kelayakan akan dilaksanakan atau tidak selama Hendarso menjabat.
Sedangkan untuk melaksaan program yang ada, BHD dapat melanjutkan apa yang telah dikerjakan oleh mantan Kapolri, Sutanto. “Sutanto telah bertindak tegas dan saya harapkan Pak Bambang lebih tegas lagi dibandingkan dengan Sutanto,” kata Trimedya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: