Pengkultusan Soeharto

Harian Aceh

Senin, 11 Pebruari 2008

Oleh Ayi Jufridar
SEMINGGU setelah berpulangnya mantan Presiden Soeharto, kita masih melihat pemberitaan yang mengharu-biru di media elektronik. Beberapa stasiun TV melakukan wawancara dengan orang terdekat Soeharto termasuk dengan ajudan khusus. Hasil wawancara sebagian besar berisi pujian-pujian terhadap mantan orang kuat di masa Orde Baru tersebut.

Untuk keberimbangan, beberapa stasiun TV terkadang menghadirkan tokoh yang pernah menjadi korban rezim Orde Baru seperti Fajroel Rahman. Amien Rais juga sering tampil di TV selaku tokoh yang diasosiasikan sebagai lawan dari Soeharto. Namun, isi dari wawancara semuanya hanya membicarakan hal-hal yang baik dari Soeharto seolah berbagai dosa besar yang pernah dilakukan Soeharto ikut terkubur di Komplek Pemakanan Astana Giribangun.

Sejak meninggalnya Soeharto sampai sekarang, kita bisa melihat bagaimana pers di Indonesia, terutama media elektronik, menempatkan pemberitaan Soeharto secara istimewa. Pengkultusan ini bukan atas pertimbangan nilai berita, tapi semata-mata atas pertimbangan di luar prinsip jurnalisme. Bahkan, sangat kuat terasa bagaimana media menggunakan bahasa eufemisme dalam pemberitaan Soeharto, hingga sekarang.

Seorang reporter TV, dalam sebuah mailing list jurnalis secara terus terang mengakui ada kebijakan khusus dari atas dalam memberitakan Soeharto, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Misalnya saja, penyebutan Soeharto tanpa embel-embel “Bapak” sangat tidak dianjurkan. Tidak heran jika di TV terlihat sebutan Pak Harto atau minimal mantan Presiden Soeharto. Ada yang menyingkat dengan Pak Harto atau menyebut secara lengkap Haji Muhammad Soeharto. Bandingkan judul berita di media asing; Former Indonesia Dictator Suharto Dies.

Media di Indonesia memang tidak harus mengikuti media asing, termasuk dalam penyebutan diktator untuk Soeharto. Namun, pemberitaan itu seharusnya disampaikan secara wajar tanpa melupakan jasa-jasa Soeharto terhadap Indonesia, demikian juga dengan dosa-dosanya. Reporter tidak perlu melibatkan emosi, bahkan ikut-ikutan menangis seperti yang ditunjukkan seorang reporter TV saat pemakanan Soeharto. Meskipun ia sedang menyampaikan berita duka kepada pemirsa, tetapi tidak perlu sampai melibatkan emosi. Aneh juga bila ada media cetak di Aceh ikutan latah mengklaim rakyat Aceh berduka atas kepergian Soeharto.

Hampir semua stasiun TV terlihat bergitu gamang dalam pemberitaan Soeharto. Dalam menyebutkan kematian Soeharto, mereka terpancing untuk menggunakan bahasa eufemisme atau ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa kasar. Banyak media menghindari penggunaan frasa meninggal, apalagi mati. Maka yang terlihat adanya kata-kata mangkat, gugur, wafat, berpulang, atau tutup usia. Maknanya tetap sama.

Perlakuan secara istimewa yang dilakukan media TV, menimbulkan banyak analisa. Ada yang menyebutkan hal itu disebabkan adanya saham keluarga Cendana di hampir semua stasiun TV di Indonesia. Kalau pun tidak ada saham Cendana, tetapi dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan mantan penguasa Orde Baru tersebut.

Bagaimanakah sikap korban-korban Soeharto terhadap pemberitaan yang berlebihan tersebut?

Korban dari kalangan atas seperti Amien Rais sudah menyampaikan pernyataan memaafkan dosa-dosa Soeharto. Dalam pandangannya, Soeharto memang memiliki banyak kesalahan. Namun, masyarakat Indonesia hendaknya juga tidak melupakan jasa-jasa Soeharto. Entahlah, tidak prinsip forgiven but not forgotten berlaku di sini.

Sikap para korban Soeharto dari kalangan bawah tentu lebih beragam. Masih segar dalam ingatan bagaimana militannya pendemo di depan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta dua hari sebelum Soeharto meninggal. Pendemo menuntut Soeharto tetap diadili. Poster-poster yang mereka usung juga menggambarkan kemarahan yang luar biasa.

Sayangnya tidak ada TV yang mewawancai mereka.[]

Penulis adalah Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: